TIMES MALANG, YOGYAKARTA – Kabar menggembirakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merilis performa perbankan syariah yang cemerlang. Secara nasional, perbankan syariah tumbuh 9,88% year on year pada Desember 2024. Artinya, market share perbankan syariah tumbuh menjadi 7,72% per Desember 2024 di bandingkan Per Desember tahun 2023 sebesar 7,44%.
Meski demikian, fakta ini menunjukkan bahwa market share masih menjadi pekerjaan rumah bagi semua stakeholder. Bonus demografi, sebagai mayoritas yang beragama islam pun mampu mendorong pertumbuhan pangsa pasar.
Fungsi intermediasi perbankan syariah tumbuh di atas perbankan nasional yang tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh kisaran 10% year on year. Sejalan dengan pertumbuhan DPK, pembiayaan tumbuh 9,92% year on year.
Sementara itu pertumbuhan DPK industry perbankan nasional hanya tumbuh kisaran tumbuh 4-5%. Pertumbuhan tersebut, sejalan dengan pencapaian Tingkat profitabilitas dengan indicator Return on Asset (ROA) sebesar 2,04%. Sebaliknya, NPF perbankan syariah net sebesar 0,79%.
Potret perbankan syariah di atas menunjukkan kinerja yang cemerlang dengan berbagai indicator kinerja perbankan nasional. DPK merupakan sumber utama dana bagi perbankan syariah.
Ketika DPK meningkat, bank memiliki lebih banyak dana untuk disalurkan sebagai pembiayaan kepada nasabah. Dengan meningkatnya DPK, bank syariah dapat menyalurkan lebih banyak pembiayaan kepada sektor riil.
Sejalan dengan itu, semakin tinggi pertumbuhan pembiayaan, semakin besar peluang bank syariah untuk memperoleh pendapatan dari margin keuntungan (akad Murabahah), bagi hasil (akad Mudharabah), atau fee-based income dari berbagai layanan lainnya.
Ini menandakan bank syariah mampu mengoptimalkan aset dan ekuitasnya untuk memperoleh keuntungan. Sementara itu, NPF merupakan indikator kualitas aset perbankan syariah. Ketika NPF menurun, itu berarti rasio pembiayaan bermasalah semakin kecil.
Apakah potret cemerlang kinerja perbankan syariah 2024 bisa bertahan?
Dalam sudut pandang optimis, tentu bisa saja terjadi sebab sejalan dengan kebijakan strategis pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan dan mendorong daya beli Masyarakat supaya stabilitas ekonomi terjaga.
Salah satunya, paket stimulus berupa penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menekan gejolak ekonomi bagi UMKM. KUR merupakan salah satu instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan UMKM, yang menjadi sektor penting dalam perekonomian nasional.
Dengan peningkatan akses KUR Syariah, perbankan syariah dapat memperluas jangkauan pembiayaannya. Meningkatnya pembiayaan bank syariah menunjukkan adanya permintaan terhadap produk perbankan syariah yang semakin menarik.
Namun demikian, masih ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi oleh industry perbankan syariah.
Pertama, meskipun industri perbankan syariah terus berkembang, literasi keuangan syariah di masyarakat masih tergolong rendah. Banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan fundamental antara perbankan syariah dan konvensional, serta manfaat dari produk-produk berbasis syariah.
Dengan demikian, perlunya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong dan meningkatkan literasi Masyarakat supaya market share, seperti literasi untuk generasi Z.
Kedua, tantangan dari persaingan dengan fintech syariah dan bank digital yang menawarkan layanan keuangan berbasis teknologi dengan lebih cepat, fleksibel, dan efisien. Fintech syariah, seperti P2P lending syariah, dompet digital syariah, dan platform investasi halal.
Sementara itu, bank digital yang berbasis syariah atau memiliki unit usaha syariah juga mulai berkembang, menawarkan produk perbankan tanpa kantor fisik dan dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Oleh sebab itu, perbankan syariah perlu meningkatkan inovasi digital, mempercepat transformasi layanan, serta memperkuat daya saing terhadap fintech syariah dan bank digital. Dengan tantangan tersebut perbankan syariah diyakini mampu mempertahankan dan meningkat kinerja yang lebih cemerlang di tahun 2025.
***
*) Oleh : Rofiul Wahyudi, Dosen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainorrahman |
Editor | : Hainorrahman |