TIMES MALANG, YOGYAKARTA – American Dream telah lama menjadi pilar identitas Amerika Serikat, membawa keyakinan bahwa siapa pun dapat meraih kesuksesan melalui usaha dan ketekunan. Namun, seiring perkembangan zaman, konsep ini mengalami perubahan akibat dinamika sosial dan ekonomi.
Salah satu bidang yang tetap menjadi representasi nyata dari semangat ini adalah olahraga, khususnya National Basketball Association (NBA).
Sejarah American Dream
Konsep American Dream pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan James Truslow Adams dalam bukunya The Epic of America (1931). Ia mendefinisikannya sebagai keyakinan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tanpa memandang asal-usul mereka.
Prinsip ini menjadi fondasi bagi imigran yang datang ke Amerika Serikat dengan harapan membangun masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keturunannya.
American Dream semakin diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi pasca-Perang Dunia II, ketika kelas menengah Amerika berkembang pesat. Kepemilikan rumah, pendidikan tinggi, dan mobilitas sosial menjadi simbol kesuksesan yang diidamkan banyak orang. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, impian ini tampak semakin sulit dicapai oleh banyak warga Amerika.
Pergeseran dan Tantangan American Dream
Perubahan ekonomi dan sosial di Amerika Serikat telah menyebabkan pergeseran makna American Dream. Kesenjangan ekonomi yang meningkat, naiknya biaya pendidikan, serta persaingan kerja yang semakin ketat membuat impian untuk meraih kesuksesan menjadi lebih sulit bagi banyak orang.
Mobilitas sosial yang dulu menjadi inti dari American Dream kini terhambat oleh faktor ekonomi dan struktural. Namun, di bidang olahraga, khususnya NBA, American Dream masih sangat relevan.
NBA menjadi ajang di mana individu dengan berbagai latar belakang, baik dari Amerika Serikat maupun luar negeri, dapat membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan bakat dapat membawa mereka menuju kesuksesan.
Seperti yang sering dikatakan oleh para penggemar NBA, liga ini menilai pemain bukan berdasarkan latar belakang atau status sosial mereka, melainkan dari keterampilan dan dedikasi yang mereka tunjukkan di atas lapangan.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan besar menghadang, nilai-nilai American Dream masih relevan dalam dunia olahraga sebagai wadah bagi individu untuk mengubah nasib mereka dan menciptakan dampak bagi masyarakat.
NBA: Cerminan American Dream yang Masih Relevan
Di tengah meredupnya American Dream di berbagai sektor, NBA tetap menjadi arena yang relevan untuk melihat bagaimana impian ini masih hidup. Banyak pemain NBA berasal dari latar belakang ekonomi yang sulit, tetapi melalui bakat, kerja keras, dan dedikasi, mereka berhasil mencapai kesuksesan luar biasa.
Salah satu contoh terbaik adalah Giannis Antetokounmpo. Lahir di Yunani dari keluarga imigran Nigeria, Giannis tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit. Sebelum terkenal, ia dan keluarganya harus berjualan di jalanan untuk bertahan hidup.
Dengan determinasi dan kerja keras, ia berhasil masuk ke NBA dan meraih gelar MVP dua kali serta membawa Milwaukee Bucks menjadi juara NBA pada 2021. Kisah Giannis adalah bukti bahwa American Dream masih bisa diwujudkan, meskipun jalan menuju kesuksesan penuh dengan tantangan.
Selain Giannis, ada juga Joel Embiid dari Kamerun. Lahir dan dibesarkan di Yaoundé, ia tumbuh dalam kondisi yang serba terbatas dan awalnya bercita-cita menjadi pemain voli.
Setelah mengenal basket di usia remaja, ia bekerja keras untuk mengembangkan kemampuannya dan akhirnya mendapat kesempatan bermain di Amerika Serikat.
Melalui latihan intensif dan dedikasi luar biasa, Embiid berhasil masuk ke NBA dan menjadi salah satu pemain dominan di liga. Kisahnya mencerminkan bagaimana NBA tetap menjadi wadah bagi individu dari berbagai belahan dunia untuk meraih kesuksesan melalui kerja keras dan ketekunan.
American Dream telah mengalami banyak perubahan seiring waktu, dengan tantangan ekonomi dan sosial yang membuatnya semakin sulit dicapai bagi banyak orang. Namun, NBA tetap menjadi contoh nyata bagaimana impian ini masih hidup.
Para pemain yang berasal dari latar belakang sulit dan berhasil mencapai puncak kesuksesan di NBA membuktikan bahwa kerja keras dan bakat masih dapat mengantarkan seseorang ke tingkat kehidupan yang lebih baik.
Di tengah pergeseran American Dream, dunia olahraga, khususnya NBA, tetap menjadi simbol harapan bagi banyak orang yang ingin mengubah nasib mereka.
***
*) Oleh : Krisna Sujiwa, Dosen Sastra Inggris, FSBK, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainorrahman |
Editor | : Hainorrahman |