Viral Jadi Bapak Sitasi Peneliti, Prof Sugiyono Pilih Sumbangkan Royalti dan Bangun Masjid
Prof. Sugiyono pastilah tidak asing di telinga mahasiswa dan peneliti Indonesia. Buku-buku metode penelitian (metpen) yang ditulisnya menjadi rujukan utama dalam berbagai karya ilmiah, mulai dari skripsi, tesis, hingga disertasi.
MALANG – Nama Prof. Sugiyono pastilah tidak asing di telinga mahasiswa dan peneliti Indonesia. Buku-buku metode penelitian (metpen) yang ditulisnya menjadi rujukan utama dalam berbagai karya ilmiah, mulai dari skripsi, tesis, hingga disertasi. Namun di balik popularitas tersebut, Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut mengaku tidak pernah merencanakan diri menjadi penulis buku yang karyanya disitasi puluhan ribu kali.
Prof. Sugiyono bercerita, awalnya, ia hanya menulis sederhana tanpa design tulisan yang pasti pada tahun 1993. Dirinya hanya menjalankan tugas sebagai dosen yang mengajar metode penelitian saat bertugas di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN). Saat itu, ia menyusun diktat perkuliahan sebagai bahan ajar mahasiswa. Namun, pada suatu hari, tulisannya tersebut dilirik oleh penerbit dan akhirnya karya tersebut diterbitkan.
“Saya menulis buku saya ga pakai desain, hanya menjalankan kewajiban dosen untuk menulis, eh dilirik penerbit dan diminta untuk diterbitkan,” jelasnya kepada TIMES Indonesia (17/6/2026).
Awalnya, Guru Besar kelahiran Klaten tersebut terkejut karena karyanya viral dan banyak dikutip oleh mahasiswa dan peneliti. Prof. Sugiyono mengaku tidak memiliki media sosial untuk mempromosikan karya-karyanya.
Buku pertama yang terbit tersebut ternyata mendapat respons positif dan menjadi best seller. Kesuksesan itu kemudian memotivasinya untuk terus menulis, dan hingga saat ini, ia sudah menciptakan 22 karya buku metode penelitian.
Karya-karyanya juga telah memperoleh lebih dari 50 ribu sitasi di Google Scholar. Namun demikian, ia mengaku tidak terlalu memperhatikan angka tersebut dan lebih fokus pada manfaat karya yang ditulisnya.
“Terakhir saya cek sitasinya mencapai 50 ribu, tapi saya sudah lama tidak ngecek,” imbuhnya.
Di tengah viralnya karya metpennya yang telah membantu banyak mahasiswa dan peneliti, nyatanya Prof. Sugiyono memiliki background sebagai sarjana teknik. Kemudian melanjutkan studi magister dan doktoral di bidang manajemen pendidikan.
Tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, Prof. Sugiyono mengaku bahwa sebagian besar royalti yang dapat disedekahkan untuk membantu sesama hingga digunakan untuk membangun masjid di kampung halamannya. Baginya, penghasilan tersebut apabila digunakan untuk keperluan dunia maka akan habis, tetapi ia digunakan hal tersebut untuk bekal di akhirat.
“Penghasilan itu jika untuk kepentingan dunia terus maka akan habis ya, akhirnya saya mikir untuk kepentingan akhirat, untuk sedekah, ini bentuk saya bersyukur karena sudah diberi ini sama Allah,” tambahnya.
Di usia 73 tahun, Prof. Sugiyono masih aktif menulis. Saat ini ia tengah menyelesaikan buku metode penelitian terbaru yang menjadi salah satu karya lanjutan dari seri buku yang telah diterbitkannya selama lebih dari tiga dekade.
Terakhir, ia berpesan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, agar meningkatkan etos belajar dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk hal-hal produktif. Menurutnya, pada zaman sekarang mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan masa depan.
“Anak-anak sekarang harus meningkatkan etos kerja, harus punya keterampilan khusus seperti AI atau sertifikat kompetensi di bidangnya,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

