Dari Malang ke Prancis, Layangan Sukhoi Khas Malang Tembus Pasar Internasional
Di tengah maraknya permainan digital dan semakin sempitnya ruang terbuka, layangan ternyata masih menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Malang. Bahkan, layangan khas Malang jenis Sukhoi kini telah terbang jauh hingga pasar internasio
MALANG – Di tengah maraknya permainan digital dan semakin sempitnya ruang terbuka, layangan ternyata masih menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Malang.
Lucky Maulana, pemilik Ahoed DC Malang mengatakan, layangan Sukhoi buatan Malang sudah lama dikenal para pehobi layangan di berbagai negara karena kualitas dan karakteristiknya yang khas.
“Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia,” ujar Lucky, Senin (8/6/2026).
Tak tanggung-tanggung, sekali pengiriman ke Prancis bisa mencapai 3.000 hingga 5.000 layangan. Produk yang dikirim umumnya merupakan layangan dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp10.000 per unit.
“Kalau ke Prancis sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan," ungkapnya.
Menurut Lucky, kualitas layangan Malang menjadi salah satu alasan produk lokal tersebut mampu bersaing di pasar internasional. Meski daerah lain seperti Bandung dan Pasuruan juga memiliki pengrajin layangan, Malang masih dianggap sebagai salah satu pionir layangan Sukhoi di Indonesia.

Bisnis yang dirintis keluarganya sejak 1960 itu masih bertahan hingga kini. Bahkan, selain melayani pasar lokal, penjualan secara daring turut membuka pasar ke berbagai daerah di luar Jawa hingga luar negeri.
“Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp30 juta sampai Rp50 juta,” katanya.
Meski demikian, penjualan layangan tetap dipengaruhi musim. Saat ini, pasar layangan sedang memasuki periode yang relatif sepi dibanding tahun sebelumnya. Namun Lucky optimistis permintaan akan kembali meningkat saat musim libur sekolah dan memasuki puncak musim layangan pada Juni hingga menjelang musim hujan.
“Layangan memang musiman. Biasanya mulai ramai bulan Juni sampai menjelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu,” tuturnya.
Eksistensi layangan di Malang juga ditopang komunitas yang sangat besar. Ribuan pemain layangan tersebar di berbagai wilayah seperti Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga kawasan Malang Selatan. Setiap pekan, sedikitnya lima hingga enam turnamen layangan digelar bergantian di berbagai lokasi.
“Kalau pemain layangan di Kota Malang jumlahnya ribuan. Lomba satu hari saja pasti penuh peserta. Tiap minggu selalu ada turnamen,” jelasnya.
Namun di balik eksistensi tersebut, para pegiat layangan menghadapi tantangan berupa semakin berkurangnya lahan terbuka akibat pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan.
Karena itu, Lucky berharap pemerintah dapat menyediakan area khusus untuk bermain layangan agar tradisi yang telah mengharumkan nama Malang hingga mancanegara tersebut tetap lestari.
“Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan,” pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

