TIMES MALANG, JAKARTA – Serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela memicu kecaman luas dari berbagai negara. Sejumlah pemerintah menyoroti legalitas, moralitas, serta potensi dampak berbahaya dari tindakan tersebut, termasuk klaim penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Dikutip dari China Daily, kecaman internasional menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Maduro telah “ditangkap dan diterbangkan keluar dari Venezuela menuju Amerika Serikat” dalam operasi militer yang berlangsung Sabtu waktu setempat atau Minggu (4/1/2026).
Pemerintah Venezuela mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai agresi militer Amerika Serikat. Ledakan dilaporkan terdengar di ibu kota Caracas, disertai aktivitas pesawat tempur di wilayah udara. Pemerintah menyebut serangan menargetkan lokasi sipil dan militer di sedikitnya empat negara bagian, yakni Caracas, Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Dalam pernyataannya, pemerintah Venezuela menegaskan bahwa tindakan AS melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Presiden Nicolas Maduro disebut telah memerintahkan pelaksanaan penuh rencana pertahanan nasional serta menetapkan status gangguan eksternal.
Rusia dan Iran menilai serangan tersebut sebagai tindakan ilegal dan tidak sah. Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia, Konstantin Kosachev, menyatakan Venezuela tidak menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat, sehingga operasi militer itu tidak memiliki dasar hukum dan berpotensi merusak stabilitas global.
China juga mengutuk keras penggunaan kekuatan terbuka oleh Amerika Serikat terhadap negara berdaulat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Di kawasan Amerika Latin, Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) dan PBB untuk membahas situasi di Venezuela. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut serangan AS sebagai tindakan kriminal dan menuntut respons segera dari komunitas internasional.
Sementara itu, sejumlah negara Eropa menyerukan de-eskalasi. Spanyol meminta semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional, serta menyatakan kesiapan menjadi mediator untuk mendorong dialog damai. Italia dan Polandia menyatakan tengah memantau situasi dengan cermat, terutama terkait keselamatan warga negara mereka di Venezuela.
Kecaman internasional terhadap tindakan militer Amerika Serikat di Venezuela terus mengalir, di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas dampak politik dan keamanan dari eskalasi konflik tersebut. (*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |