TIMES MALANG – Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang bersama Buka Buku Festival menggelar Booktalk: With Author Bukune (27/02/25), bicang buku Like We Just Met bersama penulis muda, Nanda Afandi.
Acara ini merupakan sesi kedua dari acara sebelumya, yang juga membincangkan buku baru terbitan penerbit Bukune karya Dono Salim yang berjudul Sial, Lagi-lagi Overthinking.
Di pelataran depan perpustakaan Universitas Brawijaya, Nanda Afandi membagikan kisah dan latar belakangnya dalam menjalani proses kreatif buku perdananya itu.
Nanda menjelaskan, semua berawal dari rasa ingin dan iktikadnya untuk mengabadikan apa yang dapat ia tempuh kala itu di Inggris, sebuah pengalaman menempuh masa studi S2 selama setahun di Lancaster University dari beasiswa LPDP luar negeri yang ia terima.
Hingga pada akhirnya, dari sekian banyak opsi yang bisa ia lakukan untuk mengemas pengalaman berharganya itu agar dapat dikenang sepanjang waktu, menulis buku ia pilih menjadi cara prioritas untuk dapat mengeksekusinya dengan matang.
“Arti ‘menulis’ bagi saya sama halnya dengan kegiatan ‘merekam’. Itu adalah cara untuk mengabadikan sesuatu,” ungkapnya.
Tidak mudah bagi Nanda dalam perjalanannya menulis novel pertamanya. Hal ini tak bisa dipungkiri bahwa jika pada saat yang sama, ketika seharusnya dirinya harus menjalankan kerja kreatif dan riset dengan penuh khidmat, ia juga musti menyelesaikan tesis sebagai bentuk luaran akhir masa studi.
“Kendala paling besar dalam penulisan, waktu istirahat sih,” imbuhnya.
Nanda merasa, barangkali kegemarannya mengarang dan menulis cerita sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang itu lah yang membantunya cepat menyelesaikan naskah buku ini. Setelah menentukan topik atau arah cerita ini dikarang dan riset, Nanda hanya perlu waktu dua bulan untuk menuntaskannya menjadi naskah yang final dan siap cetak.
Wanita muda yang juga alumnus FIA (Fakulltas Ilmu administrasi) Universitas Brawijaya tersebut mengungkapkan, bahwa buku itu selayaknya buku harian berjalan di kisah hidupnya. Tokoh utama, Aluna, tak lebih adalah alusi dari dirinya sendiri. Begitupula beberapa tokoh lain dalam buku yang memiliki kesepadanan dalam dunia riil dalam hidupnya.
Kurang-lebih, banyak hal dari hidupnya yang ia kemas dan hidupkan kembali dalam wadah fiksi di buku yang teah memasuki cetakan kedua itu. Contoh lain misalnya, kedai kopi “The Bern” dalam novel (yang juga diilsutrasikan pada kover) adalah latar fiktif hasi rekonstruksi imajinasi Nanda dari sebuah kedai kopi di Inggris yang dirntis oleh seorang asal Indonesia, Ngopiuk.
Fakta menarik, dalam acara tersebut Nanda menceritakan bahwa sekitar dua tahun lalu, 2023, ia juga sempat mengunjungi acara booktalk (bicang buku) di UB. Ia kagum saat itu, melihat penulis dan hasil karyanya yang ia rasa.
Momen tersebut juga lah yang memberikan motivasi kuat bagi Nanda dalam menulis. Sampai akhirnya, kini ia berada di tahap yang sama, menjadi pengarang yang diberi kesempatan untuk membedah bukunya di booktalk tahun ini. Mimpi dari momen dua tahun lalu terwujud.
Akhir sesi, Nanda memberi pesan kepada para peserta yang hadir, terkhusus kepada seorang yang bertanya kala itu tentang bagaimana cara terbaik agar daat menulis dengan apik.
“Tidak ada cara lain membuat hasil tulisan yang baik selain dengan banyak membaca. Berbagai buku, berbagai pengarang, juga berbagai genre,” ucapnya. (*)
Pewarta | : M. Arif Rahman Hakim (Magang MBKM) |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |