TIMES MALANG, MALANG – Kejadian gempa bumi menjadi fenomena alam yang tercatat siklus kejadiannya berulang. Sepanjang 2025, Stasiun BMKG Geofisika Karangkates Malang mencatat sebanyak 7.562 kejadian gempa bumi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Kepala Stasiun BMKG Geofisika Karangkates Malang, Mamuri menjelaskan, kejadian gempa bumi tersebut punya variasi kedalaman dan penyebab yang berbeda.
“Dari hasil analisa kami, terdapat 6.120 gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer, 1.426 kali gempa menengah dengan kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer, dan 16 kali gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer,” terang Mamuri dalam rilisnya.
Ia mengungkapkan, catatan frekuensi gempa bumi bulanan menunjukkan puncak aktivitas terjadi pada Juli 2025 dengan 763 kejadian, disusul bulan September tercatat 756 kali gempa. Sementara, pada Februari 2205 terjadi jumlah gempa paling sedikit, yakni 503 kejadian.
Menurut Mamuri, kebanyakan gempa terjadi di laut selatan Jawa sebagai akibat dari proses subduksi pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
"Namun, kami juga mencatat gempa dangkal di darat yang dipicu oleh pergerakan patahan lokal,” katanya.
Diterangkan, gempa dangkal adalah yang paling sering terjadi dan punya potensi bahaya paling tinggi bagi manusia dan infrastruktur.
Pusat gempa relatif dekat dengan permukaan, sehingga energi yang dilepaskan terasa sangat kuat di area yang terdampak. Guncangan seringkali terasa sangat kuat.
Potensi bahaya gempa dangkal, bisa menyebabkan kerusakan paling parah pada bangunan dan infrastruktur. Kekuatan gempa ini juga dapat memicu bencana sekunder, seperti tanah longsor, likuefaksi (pencairan tanah), dan tsunami jika terjadi di dasar laut.
Berdasarkan peta distribusi episenter, episenter gempa dangkal di darat ditandai dengan warna merah, gempa menengah ditunjukkan warna kuning, dan gempa dalam berwarna hijau.
“Sepanjang tahun 2025, ada 41 gempa bumi yang dirasakan masyarakat. Hal ini menjadi pengingat bahwa aktivitas tektonik di Jawa Timur cukup tinggi dan masyarakat perlu tetap waspada,” tutur Mamuri.
Dengan total ribuan kejadian gempa bumi sepanjang 2025, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari kondisi geologi kawasan yang dipengaruhi oleh aktivitas tektonik regional maupun patahan lokal.
Meski demikian, disinggung dampak gempa bumi kuat terhadap tanah longsor, Mamuri menyatakan tidak berkaitan langsung. Menurutnya, tanah longsor disebabkan faktor curah hujan dan kestabilan lerengnya.
“Kami tetap mengimbau masyarakat untuk selalu mewaspadai potensi gempa bumi dan mengikuti informasi resmi BMKG agar dapat mengantisipasi dampaknya. Setiap tahun potensi kemunculannya hampir sama. Makanya, dari data-data itu kita bisa tahu historinya," demikian Mamuri. (*)
| Pewarta | : Khoirul Amin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |