Lukisan Penyu Antarkan Seniman Asal Malang Mendunia

Lukisan Penyu Antarkan Seniman Asal Malang Mendunia

Seniman asal Malang, Yohan Purnomo, meraih Juara 1 Colour 4-Life Major Winner 2025 Faber-Castell lewat lukisan penyu “Shell of Cosmos” bertema lingkungan dan budaya Nusantara.

TIMESINDONESIA/Miranda Lailatul Fitria (MG)
TIMES Malang,30 Januari 2026, 07:03 WIB
16.5K
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGPrestasi membanggakan ditorehkan Yohan Purnomo, seniman asal Kecamatan Sukun, Kota Malang. Ia berhasil meraih juara 1 Colour 4-Life Major Winner 2025, kompetisi seni internasional yang digelar oleh Faber-Castell, salah satu produsen alat tulis terbesar di dunia.

Dalam ajang bergengsi tersebut, Yohan sukses mengungguli peserta dari berbagai negara lewat gambar bertajuk “Shell of Cosmos”, sebuah karya bertema penyu yang memadukan pesan lingkungan, filosofi kehidupan, serta kekayaan budaya Nusantara.

Makna Filosofis Penyu dalam “Shell of Cosmos”

Melalui lukisan tersebut, Yohan menggambarkan seekor penyu sebagai simbol perjuangan dan kesetiaan terhadap asal-usul. Ia menyoroti siklus hidup penyu yang penuh tantangan, mulai dari bertelur hingga seratus butir di pasir, bertahan hidup di lautan, hingga kembali ke tempat kelahirannya saat dewasa untuk bertelur.

“Penyu itu istimewa. Ketika dewasa, ia akan kembali ke tempat ia dilahirkan. Itu yang harus kita pelajari sebagai manusia,” ujar Yohan saat ditemui TIMES Indonesia di rumahnya, Kamis (29/1/2026).

Pesan tersebut disiratkan kuat dalam lukisan, sekaligus menjadi refleksi tentang identitas, akar budaya, dan cinta terhadap tanah kelahiran.

Isu Lingkungan dan Ancaman

article

Tak hanya bernilai artistik, “Shell of Cosmos” juga menyuarakan keprihatinan terhadap ancaman plastik di laut. Yohan menggambarkan bagaimana penyu kerap mengira sampah plastik sebagai ubur-ubur, makanan alami mereka, yang berujung kematian.

Di Indonesia sendiri, enam dari tujuh spesies penyu dunia hidup di perairan Nusantara. Namun, populasinya terus menurun akibat pencemaran, perburuan, serta perdagangan ilegal.

Keunikan karya Yohan terletak pada detail cangkang penyu yang digambarkan menyerupai lanskap pedesaan Indonesia yang asri. Gambaran itu memberi makna bahwa Indonesia menjadi rumah bagi penyu, namun saat ini keberadaannya semakin berkurang. 

“Penyu itu kasihan, ketika ada plastik di laut mereka anggap ubur-ubur, akhirnya dimakan dan meninggal,” imbuhnya. 

Ia menuturkan, telur penyu sering diambil bahkan beredar di pasar gelap yang menjual daging dan cangkangnya. Lewat karyanya, ia mengajak untuk melestarikan penyu, sebagai penyeimbang ekosistem di lautan.

“Nasib penyu menentukan kondisi lautan kita, penyu adalah penjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya. 

Dalam gambarnya, Yohan menyematkan pula ragam motif batik khas Nusantara, seperti batik parang, mega mendung, motif Kalimantan, hingga batik Bali.

Menang Nasional, Lalu Juara Asia Pasifik

Yohan mengaku tak pernah menyangka bisa melangkah sejauh ini. Awalnya, ia hanya mencoba mendaftar dan mengirimkan karya. Setelah dinyatakan menang di tingkat nasional, karyanya kemudian didaftarkan oleh Faber-Castell ke tingkat Asia Pasifik, dan Yohan kembali menjadi juara 1. 

Atas pencapaiannya, Yohan berhak atas sejumlah hadiah dan fasilitas. Bersama istri, ia mendapatkan tiket perjalanan ke Jerman. Ia juga memperoleh  Art & Graphic Limited Edition Set seharga Rp53 juta, serta trofi Colour 4Life.  Ia juga akan diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan secara resmi. 

Saat ini, Yohan fokus sebagai pegiat seni dan kreator konten. Ia aktif berbagi proses menggambar melalui YouTube dan TikTok @YohanDrawsArt. ia kerap menunjukkan kemampuan menggambar melalui siaran langsung di akun media sosialnya.

Selain itu, ia menerima berbagai pesanan karya seni seperti lukisan, kaca hias, hingga karya berbahan kuningan.

Sebelumnya, Yohan juga memiliki pengalaman panjang sebagai perajin kaca hias selama hampir sembilan tahun. Kemampuannya menggambar di kaca tak lepas dari pengalaman bekerja selama sembilan tahun membuat kaca hias.

Yohan berharap lebih banyak orang bisa menikmati karyanya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Tim Redaksi