Takbiran Keliling di Dunia Virtual, Bisa Kumpul Bareng Umat dari Berbagai Negara
TIMES Malang/Ilustrasi - Takbiran Virtual (FOTO: pinterest)

Takbiran Keliling di Dunia Virtual, Bisa Kumpul Bareng Umat dari Berbagai Negara

Gak perlu keluar rumah, kamu bisa takbiran keliling di metaverse dan ketemu Muslim dari Turki, Maroko, sampai Jepang. Seperti apa sih serunya?

TIMES Malang,Jumat 20 Maret 2026, 07:11 WIB
115
F
Faizal R Arief

MALANGMalam takbiran selalu punya kesan sendiri. Suara Allahu Akbar yang menggema dari masjid ke masjid, iring-iringan pawai obor, atau rombongan mobil hias yang bikin macet meriah. Pokoknya, budaya ini mirip soundtrack wajib Idul Fitri.

Tapi gimana ya, kalau malam takbiran tahun ini kamu bisa ikut takbiran keliling, tapi bukan keliling kampung?

Bayangkan. Kamu duduk di rumah pake kacamata VR atau cukup lewat layar laptop. Tiba-tiba kamu udah "jalan-jalan" di tanah lapang digital. Di situ ada ribuan orang (avatar.red) dari berbagai negara. Ada yang dari Turki pakai peci, dari Maroko pake jubah, sampai dari Jepang yang mungkin baru pertama kali ngerasain gimana serunya malam takbiran.

Nah, itu bukan khayalan lagi lho.

Tahun 2026, tren takbir keliling virtual mulai naik daun. Konsepnya simpel. Umat Muslim dari seluruh dunia bisa kumpul di satu ruang digital buat bertakbir bareng.

Rasanya? Ya mirip banget ikut pawai takbiran beneran, tapi versi kekinian.

Halalbihalal VR Sampai Kampung Digital

Sebenarnya, Indonesia sudah pernah menyicipi serunya acara keagamaan di metaverse.

Ingat gak waktu Lebaran tahun 2022 lalu? Kementerian Dalam Negeri RI sempat bikin halalbihalal virtual. Para pegawai negeri dari ruang kerjanya masing-masing bisa hadir sebagai avatar di sebuah amphitheater digital. Mereka dengerin ceramah dari Ustaz Das'ad Latif yang juga muncul sebagai avatar.

Waktu itu, Dirjen Otda Kemendagri, Akmal Malik, bilang begini: "Melalui pemanfaatan teknologi metaverse, pelaksanaan halalbihalal dapat lebih efisien baik dari waktu maupun tempat."

Nah, tahun 2026 ini konsepnya mulai dikembakan. Kalau dulu buat halalbihalal dan salam-salaman, sekarang buat takbiran keliling. Bedanya, kalau takbiran virtual ini lebih seru karena kita bisa "jalan-jalan" bareng ribuan orang lain, sambil bersuara Allahu Akbar bareng-bareng.

Yang bikin keren, kita gak cuma ketemu orang Indonesia. Tapi bisa lihat avatar dari Turki, Inggris, bahkan dari negara-negara yang minoritas Muslim. Mereka yang mungkin di kampungnya gak ada tradisi takbiran keliling, sekarang bisa ngerasain sensasinya.

Mereka bisa "berdiri" di pinggir "jalan digital" sambil lihat rombongan pawai lewat. Atau malah ikut bergabung jadi peserta.

Umat Digital yang Tak Kenal Batas

Ide bikin ruang khusus buat Muslim global ini sebenarnya sudah mulai muncul dari tahun lalu. Agustus 2025, sempat ramai soal aplikasi namanya Muslamica. Di LinkedIn, akun resmi mereka nulis gini: "Ummat tidak mengenal batas, begitu pula ruang digital kita. Ini lebih dari sekadar aplikasi sosial. Ini adalah jembatan."

Nah, platform seperti ini yang bakal jadi tempat kumpulnya warga digital Muslim dunia. Mereka bisa saling kenal, ngobrol, dan pas Lebaran, takbiran bareng.

Jadi buat kamu yang ngerasa kesepian pas Lebaran karena jauh dari keluarga atau tinggal di negara dengan Muslim minoritas, teknologi ini sepertinya bisa jadi penyelamat. Kamu bisa "pulang" ke komunitas digital dan ngerasain lagi gimana ramenya malam takbiran.

Ulama Dunia Juga Udah Setuju?

Pertanyaan besarnya, apa ini tidak mengurangi nilai spiritualnya? Jangan-jangan malah bikin kita lupa sama tradisi asli?

Nah, yang menarik. Tokoh-tokoh Islam dunia justru mulai serius ngurusin dunia digital. Tanggal 4 Agustus 2025, Liga Muslim Dunia (MWL) di Makkah resmi ngeluncurin program global buat baca Al-Qur'an digital. Mereka bahkan bikin asosiasi khusus buat platform Al-Qur'an online.

Dalam acara itu, Sekjen MWL, Syekh Dr. Mohammed Al-Issa, ngumpulin perwakilan platform digital dari berbagai negara.

Menariknya, dari Indonesia ada Dr. Ahmed Jamil yang ikut hadir. Dia menyampaikan apresiasi buat MWL yang sudah menghubungkan dunia dengan Al-Qur'an lewat teknologi.

Nah, kalau baca Al-Qur'an aja bisa difasilitasi secara digital, kenapa tradisi sosial kayak takbiran gak bisa?

Dua Dunia Bisa Jalan Bareng

Tentu aja, tidak semua orang setuju. Banyak yang bilang, ah, masak takbiran di metaverse? Gak ada serunya dong. Mana ada bau minyak tanah obor, mana ada capek-capeknya jalan kaki, mana ada serunya berebut takbir keliling sama teman-teman?.

Pendapat itu masuk akal. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi saat takbiran keliling di kampung halaman.

Tapi yang perlu dipahami. Takbiran virtual ini bukan buat menghapus tradisi yang asli. Tapi hadir buat menambah pilihan buat mereka yang terpisah jarak. Buat mereka yang ingin ngerasain kebersamaan secara global. Atau buat mereka yang penasaran gimana rasanya takbiran bareng orang dari berbagai budaya.

Cendekiawan terkenal, Reza Aslan, pernah menulis di Los Angeles Times tanggal 25 September 2025 lalu. Katanya: "Revolusi keagamaan terpenting di zaman kita tidak terjadi di masjid atau gereja. Itu terjadi di layar kaca. Kebangkitan 'Cyber Ummah' bukanlah kematian agama, melainkan pembaruannya."

Nah, benar juga pendapatnya kalau kita pikir. Teknologi yang kadang bikin kita individualis, ternyata bisa dipakai buat nyatuin umat dari berbagai belahan dunia. Malam takbiran yang tadinya cuma jadi milik satu kampung, satu kota, satu negara, sekarang bisa jadi milik seluruh dunia.

Jadi, tahun ini pas malam takbiran tiba, kamu mungkin masih keliling kampung bareng teman-teman. Tapi kalau iseng, coba kali ini carai bentuk yang lain. Siapa tahu kamu bisa salaman virtual sama Muslim dari Maroko atau ngucapin "Taqabbalallahu minna wa minkum" ke avatar dari Turki.

Esensi takbiran itu bukan cuma soal jalan-jalan. Tapi soal menggemakan kebesaran Allah bareng-bareng. Dan gema itu, di 2026, bisa terdengar sampai ke mana aja.

Tanpa batas negara, tanpa sekat bahasa, dan tanpa jarak.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Faizal R Arief
|
Editor:Faizal R Arief