Kopi Dingklik dan Kopi Tiam di Malang Mulai Memudar, Tertekan Tren Hidup Sehat
Tren hidup sehat dan kenaikan harga kopi membuat konsep kopi dingklik dan kopi tiam di Kota Malang mulai memudar.
MALANG – Pagi di Kota Malang dahulu akrab dengan aroma kopi tubruk dari warung sederhana. Bangku kecil, meja kayu, dan gelas kopi pekat menjadi pemandangan yang mudah ditemui di sudut-sudut kota. Konsep yang dikenal sebagai kopi dingklik maupun kopi tiam itu sempat menjadi bagian dari identitas budaya ngopi warga Malang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, suasana tersebut perlahan berubah, bahkan mulai memudar.
Pegiat kopi Kota Malang, Dana Helmi, melihat kedua konsep itu kini semakin jarang ditemui. Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata karena perubahan selera, tetapi juga akibat pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin dekat dengan tren hidup sehat dan aktivitas olahraga.
Ia menilai kopi tiam yang identik dengan rasa manis dan racikan berat, seperti susu kental manis serta mentega, mulai kurang sejalan dengan pola konsumsi generasi sekarang.
“Ciri khas kopi tiam itu sebenarnya ada di manisnya. Tapi ketika orang mulai sadar kesehatan, mereka jadi mempertimbangkan kadar gula, mentega, sampai lemak dari susu kental manis,” ujar Dana, Senin (9/3/2026).
Kesadaran baru tersebut perlahan mengubah cara orang menikmati kopi. Jika dahulu racikan manis dan creamy menjadi daya tarik utama, kini sebagian konsumen justru mencari minuman yang lebih sederhana dan ringan.
Perubahan itu mulai dibaca oleh sejumlah pelaku usaha kopi di Malang. Beberapa kedai bahkan mulai merancang konsep baru yang lebih selaras dengan gaya hidup aktif, terutama bagi komunitas olahraga pagi.
Dana mencontohkan salah satu kedai yang tengah menyiapkan konsep slow bar untuk menyambut para pelari pagi. Di tempat seperti ini, kopi disajikan tanpa tambahan gula, sirup, maupun susu.
“Ide dasarnya sederhana. Mereka yang habis lari pagi minum kopi yang pure saja, tanpa tambahan apa pun. Sekalian juga jadi edukasi soal cara menikmati kopi,” katanya.
Ia memprediksi, jika tren olahraga semakin kuat dalam beberapa tahun ke depan, metode seduh manual seperti manual brew berpeluang kembali mendapat tempat. Konsumen yang terbiasa dengan gaya hidup sehat cenderung memilih kopi yang lebih natural tanpa banyak campuran.
Di sisi lain, tantangan bagi konsep kopi tradisional tidak hanya datang dari perubahan gaya hidup. Faktor ekonomi juga ikut menekan keberlanjutan model usaha seperti kopi dingklik.
Dana menyoroti melonjaknya harga kopi robusta yang sempat mencapai sekitar Rp168 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi kopi tubruk yang menjadi menu utama di warung kopi sederhana.
Dalam satu sajian tubruk, rata-rata dibutuhkan sekitar 20 gram kopi. Jika dihitung dari harga bahan baku saja, biaya kopi bisa mencapai sekitar Rp5 ribu per gelas, belum termasuk air, gula, maupun biaya operasional lainnya.
“Kalau dijual Rp8 ribu, margin keuntungannya sangat tipis. Itu belum dihitung biaya lain,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat banyak pelaku usaha kecil kesulitan mempertahankan harga jual murah, sementara konsumen masih terbiasa dengan harga kopi warung yang rendah.
Meski demikian, Dana menilai kopi dingklik masih memiliki peluang untuk bertahan jika konsumen mulai memahami struktur harga kopi yang sebenarnya. Menurutnya, harga kopi tubruk di warung kopi tradisional semestinya berada di kisaran belasan ribu rupiah agar usaha tetap berkelanjutan.
“Kalau masyarakat sudah sadar harga kopi yang wajar, konsep kopi dingklik masih bisa hidup. Tapi memang harus ada penyesuaian harga,” ujarnya.
Di tengah perubahan tren minuman, kopi dingklik dan kopi tiam kini seperti berada di persimpangan: antara mempertahankan tradisi lama atau beradaptasi dengan gaya hidup baru.
Aroma kopi tubruk mungkin tidak lagi mendominasi pagi hari di Malang seperti dahulu. Namun selama masih ada ruang bagi cerita dan tradisi di balik secangkir kopi, warung-warung kecil itu tetap menyimpan kemungkinan untuk bertahan, meski dalam wajah yang berbeda. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



