Legenda Ken Dedes dan Joko Lulo: Mitos Pernikahan Polowijen–Dinoyo di Kota Malang
TIMES Malang/Napak tilas Ken Dedes berlokasi di Polowijen Kota Malang. (Foto: Ist)

Legenda Ken Dedes dan Joko Lulo: Mitos Pernikahan Polowijen–Dinoyo di Kota Malang

Legenda Ken Dedes dan Joko Lulo melahirkan mitos hubungan pernikahan antara warga Polowijen dan Dinoyo di Kota Malang. Cerita ini masih hidup melalui tradisi dan ingatan kolektif masyarakat.

TIMES Malang,Rabu 25 Maret 2026, 17:15 WIB
117
R
Rizky Kurniawan Pratama

MALANGDi sudut-sudut Kota Malang, cerita lama kadang hidup lebih kuat daripada catatan sejarah tertulis. Salah satunya adalah mitos tentang hubungan pernikahan antara warga Polowijen dan Dinoyo yang konon tidak pernah berjalan mulus.

Bagi sebagian orang, cerita itu hanya dongeng masa lampau. Namun bagi sebagian warga, kisah tersebut masih tersimpan dalam ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita lisan, situs-situs tua, hingga tradisi yang terus dijaga.

Akar cerita ini membawa masyarakat kembali ke masa Tumapel, jauh sebelum Kota Malang berdiri seperti sekarang.

Kisah Cinta yang Berakhir Tragedi

Legenda bermula dari sosok Ken Dedes, perempuan yang dikenal karena kecantikan sekaligus kewibawaannya. Ia merupakan putri Empu Purwa, seorang pendeta sekaligus tokoh berpengaruh pada masanya.

Banyak lelaki terpikat oleh pesonanya. Salah satu yang datang melamar adalah Joko Lulo, sosok sakti yang dipercaya berasal dari wilayah yang kini dikenal sebagai Dinoyo.

Namun hati Ken Dedes tidak tertambat pada Joko Lulo. Ia menolak lamaran tersebut secara halus. Untuk menghindari kemarahan sang pelamar, Ken Dedes mengajukan syarat yang hampir mustahil dipenuhi. Joko Lulo harus membuat sumur sedalam satu windu—pekerjaan yang biasanya memakan waktu hingga delapan tahun.

Di luar dugaan, Joko Lulo mampu memenuhi syarat tersebut dalam waktu jauh lebih singkat.

Keberhasilan itu justru membuat Ken Dedes dan keluarganya gelisah. Jika pekerjaan selesai, janji harus ditepati. Pihak Joko Lulo kemudian mengusulkan agar pertemuan pengantin dilakukan pada tengah malam, sebelum bunyi tompo sebagai penanda datangnya pagi terdengar.

Waktu tersebut dipilih untuk menyamarkan wajah Joko Lulo yang dikenal buruk rupa.

Tipu Muslihat yang Memicu Kutukan

Namun rencana itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Beberapa gadis Panawijen—wilayah yang kini dikenal sebagai Polowijen—membunyikan tompo lebih awal. Warga lain membakar jerami di arah timur sehingga langit tampak seperti menjelang fajar. Ayam-ayam pun mulai berkokok.

Dalam cahaya yang mulai menyingsing itulah wajah Joko Lulo terlihat jelas.

Ken Dedes ketakutan. Ia berlari menjauh, lalu menceburkan diri ke dalam sumur windu yang sebelumnya digali oleh Joko Lulo.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan besar.

Merasa dipermainkan, Joko Lulo menuduh warga Panawijen berlaku curang. Dalam amarahnya, ia melontarkan sumpah bahwa kelak hubungan pernikahan antara warga kedua wilayah tersebut akan selalu diliputi kesulitan.

Setelah mengucapkan kutukan itu, Joko Lulo pun menyusul menceburkan diri ke dalam sumur.

Jejak Legenda yang Masih Diyakini

Cerita tersebut tidak hanya hidup sebagai legenda. Sebagian warga juga percaya terdapat jejak fisik yang berkaitan dengan peristiwa itu.

Ki Demang, pendiri sekaligus pengelola Kampung Budaya Polowijen, menuturkan bahwa kemarahan Joko Lulo tidak berhenti pada sumpah.

Saat menggali sumur pada malam hari, Joko Lulo disebut menggunakan gamelan sebagai penanda kerja atau rengeng-rengeng. Setelah merasa ditipu, ia menendang perangkat gamelan tersebut hingga terpental ke dua arah.

“Watu kenongnya dipercaya berada di Polowijen, sementara watu gongnya ada di Dinoyo,” ujar Ki Demang saat menceritakan legenda tersebut, Senin (9/3/2026).

Bagi sebagian warga, batu-batu tersebut diyakini sebagai jejak kemarahan Joko Lulo pada masa lalu.

Legenda itu pula yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa hubungan Polowijen dan Dinoyo pernah “terbelah”. Joko Lulo dipercaya moksa di kawasan Polowijen, meninggalkan cerita yang terus dibicarakan hingga sekarang.

Antara Kepercayaan dan Kenyataan

Ki Demang sendiri tidak pernah memaksa siapa pun untuk mempercayai mitos tersebut. Namun ia mengakui sering mendengar kisah rumah tangga pasangan dari dua wilayah itu yang berakhir tidak langgeng.

Ia bahkan pernah menyaksikan beberapa kasus serupa di lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, bagi warga Polowijen, cerita tersebut tidak dimaknai sebagai larangan mutlak untuk menikah dengan orang Dinoyo. Legenda itu lebih dipahami sebagai pengingat tentang tata laku dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan sosial.

“Mitos bukan untuk ditakuti. Yang penting adalah hikmahnya,” katanya.

Ritual yang Menyatukan

Nilai-nilai tersebut tetap dirawat melalui tradisi selamatan yang digelar setiap bulan Suro, khususnya pada Jumat Legi.

Dalam ritual tersebut, warga Polowijen bagian selatan menggelar selamatan di Punden Joko Lulo, sementara warga bagian utara berkumpul di Sendang Ken Dedes.

Setelah doa dan selamatan selesai, kedua kelompok warga saling bertukar tempat sekaligus bertukar berkat.

Ritual sederhana itu menjadi simbol penyatuan—sebuah cara masyarakat merawat harmoni di tengah legenda yang bercerita tentang perpisahan.

Di tengah perkembangan Kota Malang yang semakin modern, kisah tentang Ken Dedes dan Joko Lulo mungkin terdengar seperti dongeng masa lalu. Namun bagi warga Polowijen, legenda itu tetap menjadi bagian dari identitas budaya.

Sebuah pengingat bahwa di balik setiap cerita lama, selalu ada nilai yang diwariskan tentang bagaimana manusia menjaga hubungan, menghormati tradisi, dan belajar dari masa lalu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rizky Kurniawan Pratama
|
Editor:Imadudin Muhammad