Islam dan Sains Keadaban Sempurna
Keadaban sempurna bukanlah utopia. Ia adalah proses panjang yang menuntut komitmen pada ilmu dan nilai secara bersamaan. Islam memberi fondasi spiritual, sains memberi perangkat rasional.
Malang – Perdebatan tentang Islam dan sains seakan tak pernah usai. Ada yang memosisikannya sebagai dua kutub yang berseberangan, seolah iman dan rasio berjalan di rel yang berbeda. Padahal dalam sejarah peradaban, keduanya justru pernah beriringan membangun puncak kejayaan.
Islam tidak lahir dalam ruang anti-pengetahuan. Sebaliknya, wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca iqra’. Sebuah isyarat bahwa keimanan dan pengetahuan bukan musuh, melainkan mitra.
Dalam tradisi Islam, mencari ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi ibadah. Ilmu dipandang sebagai cahaya yang menuntun manusia memahami tanda-tanda Tuhan di alam semesta. Sains, dalam kerangka ini, bukan ancaman bagi iman, melainkan cara lain untuk menyelami kebesaran-Nya.
Ketika seorang ilmuwan meneliti struktur atom, memetakan galaksi, atau mengembangkan teknologi medis, ia sesungguhnya sedang membaca ayat-ayat kauniyah tanda-tanda Tuhan yang terbentang di jagat raya.
Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah menjadi pusat sains dunia. Dari matematika, kedokteran, astronomi, hingga filsafat, lahir tokoh-tokoh yang memadukan kedalaman spiritual dengan ketajaman rasional. Mereka tidak melihat kontradiksi antara masjid dan laboratorium. Justru dari kesadaran tauhid, lahir semangat eksplorasi.
Alam dipahami sebagai sistem yang teratur, karena diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Teratur. Keyakinan itu melahirkan optimisme ilmiah: bahwa alam dapat dipelajari, dipahami, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan.
Namun sains dalam perspektif Islam tidak berhenti pada kemampuan teknis. Ia harus berorientasi pada keadaban. Di sinilah letak perbedaannya dengan sains yang tercerabut dari nilai. Sains tanpa etika bisa melahirkan kemajuan sekaligus kehancuran.
Teknologi dapat menyembuhkan, tetapi juga dapat menghancurkan. Kecerdasan buatan bisa mempermudah hidup, tetapi juga membuka ruang manipulasi. Tanpa kompas moral, sains menjadi alat yang netral bergantung pada siapa yang memegangnya.
Islam menawarkan fondasi etika yang kuat. Konsep tauhid menegaskan bahwa manusia bukan penguasa mutlak, melainkan khalifah pengelola yang bertanggung jawab. Artinya, setiap kemajuan ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan, bukan eksploitasi.
Lingkungan dijaga, martabat manusia dihormati, dan keadilan ditegakkan. Sains dalam bingkai keadaban tidak hanya bertanya “bisakah kita melakukannya?”, tetapi juga “haruskah kita melakukannya?”
Keadaban yang sempurna lahir ketika ilmu dan akhlak berjalan seiring. Pendidikan tidak cukup melahirkan generasi cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara moral.
Baca juga
Dalam konteks ini, integrasi antara nilai-nilai Islam dan sains menjadi relevan. Bukan dengan cara mencampuradukkan metodologi, melainkan dengan memastikan bahwa pengembangan ilmu tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.
Di era modern, tantangan semakin kompleks. Informasi melimpah, teknologi berkembang cepat, dan batas-batas geografis semakin kabur. Umat Islam tidak bisa hanya menjadi konsumen teknologi.
Diperlukan keberanian untuk kembali menjadi produsen ilmu, inovator, dan pemikir. Namun kebangkitan itu tidak cukup dengan nostalgia sejarah. Ia membutuhkan investasi serius pada pendidikan, riset, dan budaya literasi.
Lebih dari itu, perlu ada rekonsiliasi cara pandang. Sains modern sering diasosiasikan dengan sekularisasi, sementara agama dipersepsikan sebagai wilayah privat. Padahal keduanya bisa saling memperkaya.
Sains memberikan alat analisis dan metode yang sistematis, sementara agama memberi arah dan makna. Ketika keduanya dipertemukan secara proporsional, lahirlah keseimbangan antara kemajuan material dan kedalaman spiritual.
Konsep keadaban dalam Islam tidak hanya berbicara tentang sopan santun, tetapi tentang tatanan hidup yang berkeadilan dan bermartabat. Ia mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.
Dalam kerangka ini, sains menjadi instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. Teknologi pertanian dikembangkan untuk mengurangi kelaparan, riset kesehatan untuk menyelamatkan nyawa, inovasi energi untuk menjaga bumi.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Islam kompatibel dengan sains, tetapi bagaimana memastikan keduanya berjalan bersama membangun peradaban. Dunia hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kemajuan teknologi. Ia membutuhkan arah. Krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan degradasi moral menunjukkan bahwa kemajuan tanpa nilai tidak cukup.
Islam dan sains, jika dipadukan dengan benar, dapat melahirkan keadaban yang lebih utuh keadaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga luhur secara moral.
Sebuah peradaban yang memanfaatkan ilmu untuk menebar rahmat, bukan kerusakan. Yang menjadikan inovasi sebagai sarana memperkuat kemanusiaan, bukan memperdalam jurang ketimpangan.
Baca juga
Keadaban sempurna bukanlah utopia. Ia adalah proses panjang yang menuntut komitmen pada ilmu dan nilai secara bersamaan. Islam memberi fondasi spiritual, sains memberi perangkat rasional.
Ketika keduanya bersinergi, manusia tidak hanya menjadi makhluk yang tahu, tetapi juga makhluk yang bijak. Dan dari situlah peradaban yang bermartabat dapat tumbuh kembali.
***
*) Oleh : Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




