TIMES MALANG, RIAU – Tanpa terasa, bulan Ramadan 1446 H telah pergi meninggalkan kita, perlahan dan pasti dan akan semakin menjauh. Kita akan bertemu kembali setahun yang akan datang jika umur masih ada. Banyak kenangan, catatan, keindahan, pelajaran, dan tarbiyah (didikan) yang didapatkan selama bulan Ramadan, yang tentu berbeda-beda kadarnya antara satu individu dengan yang lainnya.
Kita bersyukur jika selama bulan Ramadan dapat mengisinya dengan limpahan amal shaleh dan kebajikan, yang dapat dijadikan sebagai modal dan bekal untuk melangkah ke depan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi (taqwa).
Sebaliknya, jika masih banyak catatan hitam dan kelabu, mari untuk mohon ampunan (istighfar) dan bertobat sebagai intropeksi diri agar segera kembali ke jalan yang lurus dan benar.
Sungguh beruntung orang yang ketika keluar Ramadan, diterima amalnya dan diampuni dosanya. Yang diantara cirinya adalah semakin giat dan semangat untuk mengerjakan berbagai amal shaleh setelah Ramadan berakhir.
Sebaliknya, sungguh merugi jika keluar Ramadan, namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Namun percayalah, pintu tobat senantiasa terbuka lebar sebelum munculnya hari kiamat dan nyawa belum sampai dikerongkongan.
Bagi yang sudah dapat menjalani rutinitas ibadah yang mantap ketika Ramadan, dapat untuk melanjutkannya (sustainable) secara konsisten setelah berakhirnya Ramadan. Jangan sampai terjadi, akumulasi ibadah selama Ramadan, justru ditenggelamkan dan hancur lebur berkeping-keping begitu meninggalkan Ramadan.
Oleh karena itu, semangat menjaga ramadan, sebagaimana judul diatas adalah sangat mutlak dan menjadi skala prioritas seorang muslim sejati. Kita harus bertekad, bahwa setelah Ramadan kita harus menjadi lebih baik lagi (tawqa), karena kita tidak tahu apakah akan bertemu lagi dengan Ramadan tahun yang akan daatang.
Kita berharap, rutinitas ibadah selama ramadan (sholat berjemaah, sholat malam, puasa, tilawah Al-Qur’an, do’a, dzikir, sedekah) dapat berlanjut setelah Ramadan. Bahkan kalau boleh dapat untuk ditingkatkan. Bukan psebaliknya, amalan yagn sudah dikerjakan dengan susah payah ketika Ramadahn, justru dihancurkan dan diluluhlantakkan setelah berakhirmya Ramadan.
Sehubungan itu, tulisan ini akan menguraikan beberap tips agar senantiasa semangat dan sungguh-sungguh dalam beridabah seiring berakhirnya Ramadan. Setidaknya ada enam hal yang harus dipenuhi agar kita tetap semangat dan bugar beribadah pasca Ramadan, sebagaimana yang disampaikan para ulama, syaikh, ustadz/ustadzah serta para penceramah dan muballigh.
Pertama, meluruskan niat beribadah ikhlas hanya karena Allah semata. Hal ini seirama dengan filosofi dari ibadah puasa itu sendiri, dimana hakikat orang yang berpuasa hanay diketahui individu masing-masing dan Rabbnya saja. Dia berpuasa hanya ingin mendapatkan balasan dan ridho dari Allah semata.
Puasa mendidik untuk ikhlas dalam segala aspek kehidupan manusia, agar kita menjadi priadi yang beruntung (taqwa). Jika beribadah dilandasi keikhlasan akan langgeng amal ibadahnya, tanpa dipengaruhi situasi dan cuaca.
Namun jika mengharapkan sesuatu selain Allah, ibadahnya akan belepotan dan bergantuan situasi dan kondisi yang mendukungnya. Segala sesuatu yang didasari ikhlas kepada Allah, pasti akan langgeng (lestari). Sebaliknya, segala sesautu yang tidak didasari ikhlas kepada Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.
Kedua, senantiasa berdo’a mohon pertolongan, bimbingan, kasih sayang, rahmat dan hidayah dari Allah agar kita istiqomah didalam menjalankan ibadah kepada Allah. Karena pada hakikatnya, kita ini adalah robot, yang tidak akan bisa bergerak dan melangkahkan kaki ke mesjid untuk sholat berjemaah misalnya, tanpa bantuan dan kasih sayang serta rahmat dari Allah semata.
Jadi, jangan bosan dan lalai dalam berdoa, di saat suka dan duka, sedih dan gembira. Intinya, berdoa dalam segala situasi dan kondisi. Mesti ditanamkan dalam diri kita, bahwa kita senantaiasa butuh kepada Allah. Kita beribadah adalah karena kebutuhan kita sendiri, bukan karena yang lainnya.
Kita bersedekah misalnya, itu pada hakikatnya adalah untuk kebutuhan kita, untuk kelembutan dan ketentraman jiwa raga kita. Kebutuhan untuk mendaptakan kasih sayang dan ridho dari Allah. Walaupun ada dampak positifnya kepada orang yang kita berikan bantuan, ini pada hakikatnya adalah dampak sampingan saja (side effect).
Kita butuh do’a agar bisa istiqomah karena hati manusia sering berbolak-balik. Oleh karena itu, do’a yang paling sering Nabi Shallallahu ‘Alahi Wasssalam panjatkan adalah “YA MUQOLLIBUL QULUUB TSABBIT QOLBY ‘ALAA DINIK” (Wahai Zat yang Maha Membolak-Balikkan Hati, Teguhkanlah Hatiku Di Atas Agamamu).
Ketiga, merutinkan mengikuti majlis taqlim di mesjid/musola untuk mengasah dan mempertebal keimanan dan kasih sayang dari Allah. Bukankah disebutkan dalam hadith shahih bahwasanya orang yang menghadiri majlis ilmu akan dimudahkan jalan ke surga, dinaungi oleh para malaikat serta diberikan ketenangan jiwa.
Dari Katsir bin Qais ia berkata, Aku pernah duduk bersama Abu Ad-Darda’ di mesjid di Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, Wahai Abu Ad-Darda’, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu. Abu Ad-darda’ lalu berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu (dinul islam), maka Allah akan memudahkannya jalan ke surga. Sungguh para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridhaan kepada penuntut ilmu. Orang yang menuntut ilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingg ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang ‘alim dibandingkan ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada bulan purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Abu Dawud: 3157).
Keempat, berteman dengan orang orang baik (shaleh). Lingkungan sekitar akan sangat berpengaruh didalam menjaga irama ibadah seseorang, apalagi orang-orang yang berada dalam lingkaran utama (first circle) seperti istri/suami, ayah-ibu, dan teman-teman dekat.
Oleh karena itu, pastikan orang-orang dalam lingkaran pertama, adalah orang-orang shaleh dan mumpuni dalam ilmu dan amal. Bergaul silahkan dengan siapa saja dan kalangan apa saja. Tapi untuk lingkaran utama, wajib orang-orang shaleh/shalehah untuk menjaga dan merawat semangat di dalam ibadah.
Berteman dengan orang shaleh akan membawa dampak yang baik, karena teman itu akan mempengaruhi temannya. Jika teman itu shaleh akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika teman itu buruk juga kan membawa kepada keburukan.
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi, Beliau bersabda “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (panda besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang busuk”.
Kelima, beramal yang kontinu walaupun sedikit (sustainable). Islam sangat menggalakan keberlanjutan suatu amal ibadah, walaupun tampak sepele, kecil bahkan remeh temeh. Amalan seperti ini sangat dicintai Allah dan justru mendapatkan pujian.
Sebaliknya, Allah tidak suka beramal yang banyak namun kemudian ditinggalkan untuk jangka waktu lama, bahkan ditinggalkan sama sekali. Dari Aisyah radhiyaallahu ‘anha, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasssalam bersabda, “amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apa hikmahnya dari amalan yang konsisten? Pertama dia akan menjadi kebiasaan (habit) yang secara perlahan dan pasti akan tertanam dalam jiwa dan perbuatan keseharian. Kedua, akan menjadi rutinitas yang menyenangkan dan menggembirakan. Ketiga, tidak merasa terbebani. Keempat, menjadi sesuatu yang dibutuhkan, dan merasa kehilangan dan bersalah jika ditinggalkan tanpa ada alasan yang rasional.
Keenam, intropeksi diri (muhasabah) adalah tips terakhir untuk dapat tetap semangat dalam beribadah. Kita senenatiasa mengevaluasi diri kita, menilai sejauh mana bekal amal shaleh yang telah kita koleksi untuk menghadap Allah. Apakah sudah cukup, setengah cukup bahkan tekor amal shalehnya.
Allah Ta’ala memerintahkan kita supaya senantiasa intropeksi diri (muhasabah), sebagaimana firmanNya dalam Surat Al-Hasyr ayat 18, yang artinya “Hai orang-orang ang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
***
*) Oleh : Dr. Apriyan D Rakhmat, M.Env, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Islam Riau Pekanbaru.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |