https://malang.times.co.id/
Opini

Tradisi Menjadi Obat Kesehatan Mental Anak Bangsa

Sabtu, 03 Januari 2026 - 22:37
Tradisi Menjadi Obat Kesehatan Mental Anak Bangsa Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

TIMES MALANG, MALANG – Di tengah zaman yang serba cepat, hidup hari ini terasa seperti lomba tanpa garis finis. Anak muda dituntut produktif sejak pagi, kompetitif sejak muda, dan sukses secepat mungkin. Media sosial menambah tekanan: semua orang tampak bahagia, mapan, dan “sudah sampai”. Di titik inilah kita melihat paradoks besar: fasilitas hidup meningkat, tetapi kesehatan mental justru rapuh.

Menariknya, di tengah kegaduhan itu, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki warisan kultural yang sejak lama berfungsi sebagai penenang jiwa. Budaya yang sering dianggap kuno dan tidak relevan justru bekerja sebagai coping mechanism alami, jauh sebelum istilah kesehatan mental populer di seminar dan podcast.

Budaya Indonesia tidak membesarkan manusia untuk sendirian menghadapi hidup. Ia mengajarkan bahwa beban, duka, dan kegelisahan layak dibagi. Tahlilan, yasinan, kenduri, pengajian kampung, hingga sekadar ngopi di teras sore hari, bukan hanya ritual sosial. Ia adalah ruang aman tempat orang bisa hadir tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Dalam dunia modern, orang yang lelah sering diminta “kuat”, “bertahan”, atau “upgrade diri”. Dalam budaya lokal, orang yang lelah justru diajak duduk, diajak makan, dan ditemani. Tidak ditanya target hidupnya, tidak dihakimi pencapaiannya. Kehadiran itu sendiri sudah cukup. Inilah terapi sosial yang sering luput dari perhatian kebijakan publik.

Bagi anak muda, fenomena ini makin terasa relevan. Tak sedikit generasi hari ini yang secara diam-diam kembali mencari ketenangan lewat jalur budaya: ikut pengajian, aktif di komunitas seni, menulis, berkebun, atau sekadar nongkrong tanpa agenda produktif. Di mata logika kapitalisme, aktivitas ini tampak “tidak menghasilkan”. Padahal, justru di situlah mereka menyelamatkan kewarasan.

Budaya gotong royong juga bekerja sebagai penyangga mental kolektif. Di desa, ketika satu orang jatuh, yang lain ikut menopang. Di kota, kegagalan sering dianggap urusan pribadi. Budaya lokal mengoreksi cara pandang itu. Ia mengingatkan bahwa gagal tidak selalu berarti kalah, dan hidup tidak harus selalu tampak sempurna.

Kesenian tradisional pun memainkan peran penting. Musik daerah, shalawat, tembang, atau seni rupa berbasis lokal menawarkan ritme yang menenangkan tidak agresif, tidak tergesa. Dalam dunia yang dipenuhi deadline dan notifikasi, kesenian menjadi ruang bernapas. Ia mengajak pelakunya hadir penuh, bukan sekadar mengejar hasil.

Sayangnya, budaya menenangkan ini sering tersisih oleh narasi kemajuan yang keliru. Kota dibangun cepat, tetapi ruang berkumpul dipersempit. Kampung ditata rapi, tetapi interaksi sosial dikeringkan. 

Anak muda diarahkan menjadi efisien, tetapi lupa diajari bagaimana tetap waras. Ketika budaya dianggap penghambat produktivitas, yang hilang bukan hanya tradisi, tetapi juga penyangga kesehatan mental masyarakat.

Negara dan masyarakat seharusnya membaca ulang fungsi budaya secara lebih jujur. Budaya bukan sekadar identitas atau atraksi wisata. Ia adalah infrastruktur sosial sehalus tapi sepenting jalan dan jembatan. Tanpa budaya yang hidup, manusia akan kehilangan ruang pulang ketika hidup terasa terlalu berat.

Anak muda tidak kekurangan ambisi. Yang sering kurang adalah ruang aman untuk gagal, beristirahat, dan diterima apa adanya. Budaya lokal menyediakan itu, tanpa biaya mahal dan tanpa stigma. Ia hadir dalam kebersamaan, bukan dalam resep instan.

Pada akhirnya, budaya yang menenangkan hidup mengajarkan satu pelajaran penting: menjadi manusia tidak selalu soal berlari lebih cepat, tetapi tahu kapan harus berhenti. Dalam tradisi yang hidup, dalam kebersamaan yang hangat, dan dalam ritme yang manusiawi, masyarakat Indonesia menemukan caranya sendiri untuk bertahan.

Di dunia yang semakin gaduh, mungkin yang paling revolusioner bukanlah bergerak lebih cepat, tetapi berani tenang. Dan di situlah budaya diam-diam menyelamatkan kita.

 

***

*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.