https://malang.times.co.id/
Opini

Demokrasi Bambu Runcing

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:39
Demokrasi Bambu Runcing Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.

TIMES MALANG, MALANG – Dulu, bambu runcing adalah senjata rakyat. Ia lahir dari keterbatasan, diasah dengan keberanian, dan diangkat dengan keyakinan bahwa kemerdekaan harus direbut, bukan dihadiahkan. Bambu runcing memang sederhana, tapi tajam. Ia menjadi simbol perlawanan, keberanian orang kecil menghadapi kekuasaan besar.

Hari ini, bambu runcing itu seperti masih berdiri di museum sejarah. Dipajang, difoto, dikagumi, lalu ditinggalkan. Sementara demokrasi anak kandung dari semangat perlawanan itu justru meringkuk di meja-meja kecil milik segelintir pemilik kuasa.

Kita masih menyebut negeri ini demokratis. Pemilu tetap digelar, baliho tetap berdiri, slogan tetap diteriakkan. Tapi di balik semua itu, arah angin sering kali sudah ditentukan sebelum rakyat sempat menarik napas. 

Keputusan strategis lahir bukan dari riuh suara publik, melainkan dari rapat senyap di ruang ber-AC, dari pertemuan tertutup yang tidak pernah masuk berita utama. Demokrasi kita seolah masih memakai baju pejuang, tapi jiwanya sudah pindah ke ruang tamu para elit.

Rakyat memang masih dipanggil lima tahun sekali, diminta datang ke bilik suara, diberi tinta di jari. Setelah itu, kembali ke rumah, menonton dari jauh bagaimana kebijakan ditulis dengan bahasa yang sulit dimengerti, bagaimana harga naik tanpa dialog, bagaimana aturan berubah tanpa aba-aba. Demokrasi berubah menjadi ritual, bukan lagi ruang musyawarah. Seperti bambu runcing yang kini hanya jadi properti upacara.

Yang lebih menyedihkan, kita mulai terbiasa dengan keadaan ini. Kritis dianggap ribut. Berbeda pendapat dicap tidak tahu diri. Mengganggu stabilitas, kata mereka. Padahal stabilitas macam apa yang dibangun dengan membungkam suara? Ketertiban jenis apa yang lahir dari ketakutan?

Di banyak tempat, kritik kini harus memakai helm. Opini harus ditimbang-timbang seperti membawa barang pecah belah. Salah kalimat sedikit, bisa berujung laporan. Salah nada sedikit, bisa dianggap ancaman. 

Akhirnya banyak orang memilih diam, bukan karena setuju, tetapi karena lelah bertengkar dengan tembok kekuasaan yang tebalnya seperti benteng zaman kolonial. Demokrasi pun kehilangan salah satu paru-parunya: keberanian warga.

Meja kecil pemilik kekuasaan itu semakin penuh. Di atasnya ada peta politik, grafik elektabilitas, kalkulator kepentingan, dan secangkir kopi mahal. Di sana, masa depan jutaan orang diringkas menjadi angka. Pendidikan, kesehatan, tanah, laut, bahkan udara semuanya bisa menjadi komoditas diskusi. Rakyat? Hadir dalam bentuk data.

Ironisnya, banyak yang tetap percaya bahwa sistem ini baik-baik saja. Kita diajari bersyukur karena masih boleh memilih, walau pilihan sering terasa seperti memilih menu di restoran yang dapurnya tidak pernah kita lihat. 

Kita hanya tahu hasil akhirnya, tanpa tahu bahan apa yang dipakai, siapa yang memasak, dan siapa yang menentukan harga. Demokrasi yang lahir dari perlawanan kini hidup dari kompromi.

Padahal, demokrasi sejatinya bukan hanya soal mencoblos. Ia adalah keberanian untuk berbeda, hak untuk bersuara, dan ruang untuk didengar. Demokrasi adalah proses yang gaduh, penuh debat, kadang melelahkan, tapi jujur. Tanpa kegaduhan itu, demokrasi hanya menjadi dekorasi politik.

Bambu runcing dulu tidak menunggu izin untuk tajam. Ia diasah oleh keadaan, oleh ketidakadilan, oleh rasa marah yang bermartabat. Sekarang, banyak dari kita justru mengamankan ujung bambu itu, takut melukai kenyamanan penguasa.

Kita lebih sering berbisik di warung kopi daripada berbicara di ruang publik. Lebih berani mengeluh di grup WhatsApp daripada di forum terbuka. Demokrasi berubah menjadi cerita belakang layar, bukan panggung utama.

Namun sejarah selalu punya cara mengingatkan. Tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi, dan tidak ada ketakutan yang bisa diwariskan selamanya. Di suatu titik, rakyat akan lelah menjadi penonton. 

Mereka akan kembali mencari bambu runcingnya bukan untuk melukai, tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kontrol adalah pintu masuk kesewenang-wenangan.

Demokrasi tidak seharusnya tinggal di meja kecil. Ia harus hidup di jalanan, di kampus, di pesantren, di pasar, di ruang kelas, di ladang-ladang, di obrolan tukang ojek, dan di kepala anak-anak muda yang masih percaya bahwa keadilan bukan sekadar kata di buku pelajaran.

Jika tidak, demokrasi hanya akan menjadi cerita nostalgia. Kita akan terus mengulang kisah tentang perjuangan masa lalu, sambil lupa bahwa hari ini kita sedang kehilangan keberanian untuk memperjuangkan masa depan. Dan bambu runcing itu, pelan-pelan, akan berkarat.

***

*) Oleh : Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.