Malang – Pendidikan rakyat adalah kompas. Ia kecil, sering luput dari sorot kamera, tapi diam-diam menentukan arah perjalanan bangsa. Tanpanya, Indonesia seperti kapal besar dengan mesin kuat namun kehilangan penunjuk arah maju, tapi tak selalu tahu ke mana hendak berlabuh.
Dalam dua dekade terakhir, denyut pendidikan rakyat di Indonesia kian terasa. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk gedung megah atau papan nama berkilau. Kadang ia menjelma rumah baca di sudut kampung, kelas darurat di teras masjid, sekolah alam di lereng bukit, atau guru honorer yang mengajar dengan gaji setipis kertas fotokopi. Di sanalah pendidikan menemukan wajah aslinya: sederhana, keras kepala, dan pantang menyerah.
Dulu, sekolah bagi banyak orang adalah menara gading tinggi, jauh, dan terasa bukan untuk semua. Kini, menara itu mulai retak, memberi celah bagi cahaya masuk.
Anak petani, buruh, nelayan, hingga pedagang kaki lima semakin sering menggenggam buku, bukan hanya cangkul atau timbangan. Pendidikan tidak lagi semata hak kaum kota, melainkan perlahan menjadi bahasa bersama rakyat.
Perubahan ini tidak lahir dari langit. Ia tumbuh dari kerja sunyi banyak tangan: komunitas literasi, relawan pengajar, pesantren rakyat, sekolah alternatif, hingga inisiatif desa yang menjadikan balai warga sebagai ruang belajar. Mereka bekerja tanpa sorak, seperti akar yang menahan pohon agar tidak tumbang saat badai datang.
Teknologi juga ikut menjadi angin pendorong. Ponsel yang dulu hanya alat menelepon, kini berubah menjadi jendela dunia. Anak desa bisa menonton pelajaran yang sama dengan anak kota, meski dengan sinyal yang kadang tersendat seperti napas orang tua. Platform belajar daring, video edukasi, dan kelas digital membuat jarak geografis tak lagi setebal tembok, melainkan setipis layar.
Namun, pendidikan rakyat bukan cerita tanpa luka. Di balik angka partisipasi sekolah yang naik dan gedung yang bertambah, masih ada jurang lebar bernama kualitas dan pemerataan. Ada sekolah yang perpustakaannya lebih mirip gudang kosong, ada guru yang mengajar sambil menahan lapar, ada murid yang lebih akrab dengan putus sekolah daripada cita-cita.
Di sinilah pendidikan rakyat diuji: apakah ia hanya menjadi statistik dalam laporan, atau benar-benar menjadi tangga sosial yang kokoh?
Sebab pendidikan sejatinya bukan sekadar mengajari anak membaca huruf, tetapi membaca hidup. Bukan hanya menghafal rumus, tetapi merumuskan masa depan. Ketika pendidikan gagal menjangkau yang paling pinggir, ia berubah dari kompas menjadi ornamen indah dipandang, tak berguna menuntun arah.
Baca juga
Meski begitu, harapan tidak pernah benar-benar padam. Ia seperti lampu minyak di tengah pemadaman panjang kecil, tapi cukup untuk menolak gelap. Banyak anak dari keluarga sederhana kini menjadi guru, perawat, insinyur, bahkan penggerak desa. Mereka adalah bukti bahwa pendidikan rakyat bukan mitos murahan, melainkan jalan terjal yang bisa dilalui.
Yang menarik, pendidikan rakyat hari ini tak lagi sekadar soal bangku dan papan tulis. Ia menjelma menjadi gerakan kesadaran. Orang tua mulai bertanya tentang masa depan anaknya, bukan hanya soal biaya hidup besok pagi. Desa mulai berbicara tentang literasi, bukan hanya soal pupuk dan panen. Pendidikan pelan-pelan naik kelas dari urusan sekolah menjadi urusan bersama.
Namun kompas, sebaik apa pun, tidak akan berguna jika jarumnya dibiarkan berkarat. Pendidikan rakyat butuh lebih dari sekadar program tahunan atau spanduk penuh janji.
Ia memerlukan keberpihakan nyata: anggaran yang jujur, kebijakan yang membumi, dan penghormatan pada guru yang tidak berhenti pada tepuk tangan seremonial.
Jika tidak, pendidikan rakyat hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur indah didengar, pahit saat terbangun.
Masa depan Indonesia tidak sedang ditulis di ruang rapat berpendingin udara, melainkan di ruang kelas sempit yang dindingnya mengelupas, di tangan anak yang menulis dengan pensil pendek, di mata guru yang lelah namun tetap menyala. Di sanalah arah bangsa ditentukan, pelan tapi pasti.
Pendidikan rakyat adalah kompas moral dan sosial. Ia mengingatkan bahwa kemajuan bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling banyak diajak berjalan. Bukan tentang segelintir yang terbang tinggi, tetapi tentang jutaan yang tidak ditinggalkan di tanah.
Selama kompas itu masih dijaga oleh negara, oleh masyarakat, oleh nurani kolektif Indonesia tidak akan benar-benar tersesat. Ia mungkin tersandung, terseret arus, bahkan sesekali berputar arah.
Baca juga
Tapi selama pendidikan tetap berpihak pada rakyat, perjalanan panjang ini akan selalu menemukan jalan pulang: ke keadilan, ke martabat, dan ke masa depan yang tidak hanya pintar, tetapi juga manusiawi. (*)
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


