Efisiensi Anggaran Bikin Okupansi di Kota Batu Ambruk 30 Persen
Industri perhotelan di Kota Batu belum keluar dari tekanan. Prediksinya, tingkat hunian kamar pada tahun 2026 bakal turun 20-30 persen secara year on year, dan pelaku usaha menyebut tahun ini sebagai fase paling berat setelah pandemi.
BATU – Industri perhotelan di Kota Batu belum keluar dari tekanan. Prediksinya, tingkat hunian kamar pada tahun 2026 bakal turun 20-30 persen secara year on year, dan pelaku usaha menyebut tahun ini sebagai fase paling berat setelah pandemi.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengaku tidak terlalu optimistis terhadap prospek tahun ini. Menurutnya, tren pelemahan sudah terasa sejak 2025 dan berlanjut hingga sekarang.
“Okupansi tahun ini sangat tidak optimis. Dampaknya sudah terlihat sejak tahun lalu. Penurunan terjadi merata, baik hotel berbintang maupun non bintang. High season masih memberi dorongan sementara, namun tak mampu menutup periode low season yang kian panjang," ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Sujud menilai pelemahan daya beli masyarakat menjadi faktor utama. Rencana efisiensi belanja negara pada 2026 disebut ikut memicu perlambatan perputaran ekonomi, yang berdampak langsung pada sektor jasa dan pariwisata.
"Ketika pengeluaran masyarakat ditekan, kebutuhan tersier seperti wisata dan menginap di hotel menjadi pilihan terakhir. Gejala serupa terlihat di sektor otomotif, dengan penjualan mobil turun sekitar 10 persen, sementara sepeda motor meningkat," urainya.
Di tengah kondisi itu, hotel tidak bisa sekadar menurunkan tarif kamar. Biaya operasional seperti listrik, air, bahan baku, pajak, hingga penyesuaian upah terus naik, sementara batas bawah harga kamar tak bisa ditembus tanpa risiko merugi.
"Tantangan saat ini bahkan lebih kompleks dibanding masa Covid-19. Jika saat pandemi ada stimulus dan insentif, kini pelaku usaha harus bertahan tanpa banyak dukungan fiskal," kata Dirut PT Selecta tersebut.
Dampaknya mulai terasa pada tenaga kerja, sejumlah hotel menerapkan efisiensi dan sistem multi tasking untuk menekan biaya. Risiko rasionalisasi karyawan pun mengintai jika kondisi tak kunjung membaik.
"Kami para pelaku hotel berharap pemerintah dapat mendorong kembali belanja dan kegiatan di daerah, termasuk agenda meeting dan event, yang terbukti mampu mendongkrak okupansi dan menjaga arus kas hotel. Untuk 2026, target realistis pelaku usaha bukanlah pertumbuhan, melainkan bertahan di level tahun sebelumnya," tutupnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



