Penyebaran Ebola Sangat Cepat, CDC Memproyeksikan Bisa 4.000 Kematian Tiga Bulan Kedepan
Kongo mencatat 452 kasus dan 82 kematian akibat Ebola. CDC memproyeksikan wabah bisa menyaingi krisis 2014 jika isolasi dan respons global tak segera diperkuat dalam tiga bulan ke depan.
JAKARTA – Kongo memperingatkan, bahwa penyebaran Ebola sangat cepat di masyarakat setelah ditemukan 71 kasus baru, sehingga data terbaru total kasus menjadi 452 sejak wabah ini dimulai pada bulan Mei lalu dengan 82 kematian.
Sementara itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memproyeksikan wabah Ebola yang melanda Afrika kali ini berpotensi menyaingi wabah yang menghantam Afrika Barat satu dekade lalu dimana mengakibatkan lebih dari 20.000 kasus dan 4.000 kematian hanya dalam tiga bulan ke depan.
Proyeksi itu muncul dalam analisis baru dari CDC dengan memodelkan seberapa luas wabah saat ini bisa menyebar.
"Wabah Ebola ini akan bisa menyaingi wabah terburuk yang pernah tercatat, kecuali dunia bertindak," lapor CDC.
Saat ini, baik Republik Demokratik Kongo maupun Uganda berlomba-lomba untuk menahan wabah ini, yang dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan internasional oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Mei lalu.
Analisis yang diterbitkan Jumat sore oleh CDC menekankan, bahwa intervensi kesehatan masyarakat berskala besar dan berkelanjutan yang serupa dengan yang diterapkan pada wabah Afrika Barat tahun 2014, sangat diperlukan untuk menghindari skenario terburuk.
"Jika hanya 20% kasus yang menjalani isolasi dalam waktu dua hari setelah munculnya gejala, maka diperkirakan akan ada lebih dari 20.000 kasus," kata Jason Asher dari Pusat Peramalan dan Analisis Wabah CDC pada konferensi pers kemarin sore, saat analisis tersebut dirilis.
Menurut proyeksi, 20.000 kasus tersebut akan terjadi hanya dalam tiga bulan ke depan. Jika wabah berlanjut lebih dari itu, maka jumlahnya bisa meningkat jauh lebih tinggi, yang akan menjadikan ini wabah Ebola terburuk yang pernah tercatat.
Sekitar 28.000 kasus terjadi dalam wabah tahun 2014-2016 di Afrika Barat, yang merupakan wabah terbesar hingga saat itu.
Skenario terburuk itu memang terdengar mengerikan, karena kondisi di lapangan saat ini juga memang sulit.
Selama wabah satu dekade lalu, ada respons internasional yang besar dan berkelanjutan. Tetapi CDC mencatat bahwa wabah baru kali ini terjadi di daerah yang dilanda konflik bersenjata, sehingga akses layanan kesehatan menjadi sulit dan orang-orang sering mengungsi.
Seperti yang dicatat dalam salah satu analisis baru, bahwa cakupan wabah kemungkinan lebih besar daripada yang diwakili oleh data yang tersedia dan mungkin juga akan sulit untuk dikendalikan dan diatasi.
CDC menyatakan, bahwa mengisolasi orang setelah terpapar virus ini adalah kunci untuk membatasi penyebarannya. Dan jika upaya internasional bisa meningkatkan jumlah orang yang mengisolasi diri, maka skala wabah bisa jauh lebih rendah.
"Jika 70% kasus mulai melakukan isolasi dalam periode dua hari itu, ada kemungkinan 94% untuk membatasi wabah hingga kurang dari 10.000 kasus dalam tiga bulan ke depan," kata Asher.
Direktur Pusat Pandemi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Brown, Jennifer Nuzzo mengatakan, analisis CDC itu menegaskan apa yang telah dikhawatirkannya sejak awal.
"Bahwa wabah ini mengikuti lintasan yang berbahaya dan akan menjadi jauh lebih buruk kecuali kita berbuat lebih banyak untuk menghentikannya di sumbernya," ujar dia.
"Meskipun proyeksi CDC terbaru dengan tepat menunjukkan potensi penyebaran wabah yang eksplosif dan pentingnya pelacakan kontak serta isolasi dalam menahannya, namun hal-hal tidak harus selalu pesimistis," kata Justin Lessler , seorang ahli epidemiologi dari Universitas North Carolina.
Lessler mengatakan, upaya lokal untuk mengurangi wabah bisa membuat perbedaan.
"Namun demikian, banyak hal bergantung pada kemana virus itu tiba saat menyebar di Afrika Timur, yang merupakan rumah bagi kota-kota besar dan daerah padat penduduk, dan wabah dalam kisaran ukuran yang mereka proyeksikan sangat mungkin terjadi," katanya lagi.
Salah satu dari tiga makalah yang dirilis pada hari Jumat secara khusus membahas risiko bagi AS. "Risiko domestik tetap rendah bagi populasi umum AS," kata Satish Pillai, manajer insiden respons Ebola CDC.
Namun, makalah tersebut menyatakan bahwa hal ini bisa berubah jika wabah menyebar ke pusat-pusat perkotaan internasional.
Meskipun Ebola adalah penyakit yang sangat berbahaya, penyakit ini tidak menyebar semudah, misalnya, COVID-19 atau flu, dan AS memiliki kemampuan untuk dengan cepat mengidentifikasi kasus dan mengisolasi orang-orang yang terinfeksi.
Saat ini, kata Pillai, tidak ada alasan bagi siapa pun di AS untuk mengubah perilaku mereka, atau bahkan khawatir bepergian ke luar negeri selain ke Republik Demokratik Kongo atau Uganda.
Terlepas dari peringatan mengerikan tentang luasnya wabah di Afrika, Pillai menegaskan kembali bahwa belum terlambat untuk bertindak. "Kami telah menanggapi wabah Ebola sebelumnya," katanya.
"Kami tahu bagaimana mengakhiri ini. Tujuan kami adalah pengendalian, penahanan, dan mengakhiri wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Dan kami bekerja setiap hari menuju tujuan itu," katanya lagi.
Namun Presiden Refugees International, Jeremy Konyndyk, justru sangat khawatir tentang wabah saat ini.
Konyndyk terlibat dalam penanganan Ebola ketika dia bekerja di Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat selama pemerintahan Obama.
"Jika saya membandingkan ini dengan wabah sebelumnya, wabah kali ini memiliki momentum yang lebih besar pada saat terdeteksi daripada wabah besar di Afrika Barat pada tahun 2014," katanya kepada media NPR .
Pemerintahan Trump membubarkan USAID tahun lalu , dan CDC terus menghadapi tantangan akibat pemotongan pendanaan. Konyndyk mengatakan hal itu bisa menghambat respons awal dan memungkinkan virus menyebar:
"Saat ini kita berada dalam posisi yang jauh lebih lemah untuk menanggapi wabah Ebola yang menantang seperti ini dibandingkan dengan posisi kita 18 hingga 24 bulan yang lalu," ujarnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


