Teater Hampa UM Malang Tampilkan Monolog Penjahit Sepi Pesanan di Pasar Santai 8 Vernakular MCC
TIMES Malang/Pertunjukan Teater Hampa UM di Malang Creative Center, Jumat (6/3/2026). (Foto: An'nisa Maysa Ayu/TIMES Indonesia)

Teater Hampa UM Malang Tampilkan Monolog Penjahit Sepi Pesanan di Pasar Santai 8 Vernakular MCC

Teater Hampa Universitas Negeri Malang menampilkan monolog tentang penjahit yang berjuang mempertahankan usaha kecil dalam Pasar Santai 8 Vernakular di Malang Creative Center.

TIMES Malang,Sabtu 7 Maret 2026, 11:30 WIB
166
T
TIMES Magang 2025

MALANGTeater Hampa Universitas Negeri Malang (UM) menampilkan monolog tentang kehidupan seorang penjahit dalam rangkaian Pasar Santai 8 Vernakular di Malang Creative Center (MCC), Jumat malam (6/3/2026). Pertunjukan tersebut mengangkat kisah sederhana tentang perjuangan pelaku usaha kecil di tengah kerasnya kehidupan.

Monolog ini mengisahkan tokoh penjahit bernama Jati yang mengeluhkan sepinya pesanan. Di atas panggung sederhana, ia menggambarkan betapa sulitnya mempertahankan usaha kecil ketika kondisi ekonomi tidak selalu berpihak.

Kegelisahan itu mendorong Jati bertanya kepada para penjual kopi di sekitar lokasi pertunjukan mengenai kondisi penjualan mereka hari itu. Para pedagang mengaku dagangannya tidak begitu ramai. Hal tersebut membuat Jati semakin menyadari bahwa banyak pelaku usaha kecil sedang berjuang untuk bertahan.

Melalui dialognya, Jati menggambarkan hubungan saling membutuhkan antar pelaku usaha kecil. “Aku memerlukan kopimu untuk tetap bangun, kamu memerlukan jahitanku untuk tetap rapi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kebersamaan menjadi hal penting bagi para pelaku usaha kecil agar tetap bertahan menghadapi berbagai tantangan. Kebersamaan itu diibaratkan seperti akar yang menjalar dan saling menguatkan satu sama lain.

“Yang penting bukan angkanya, tapi siapa yang masih bersama kita,” ucap Jati dalam monolog tersebut.

Sutradara pertunjukan, Aska, menjelaskan bahwa monolog ini memang dirancang untuk menggambarkan semangat Pasar Santai Vernakular. Menurutnya, konsep yang diangkat adalah tentang saling mewadahi dan saling menguatkan, terutama bagi pelaku UMKM.

“Vernakular itu tumbuh dari bawah, seperti akar yang saling menguatkan satu sama lain,” jelasnya.

Panggung kecil tersebut menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang usaha kecil yang tetap bertahan karena adanya kebersamaan dan semangat gotong royong antar pelaku usaha. (*)

 

Pewarta: An’nisa Maysa Ayu

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:TIMES Magang 2025
|
Editor:Imadudin Muhammad