Kuliner Tradisional Terancam Ditinggalkan Generasi Muda, Pakar UB Soroti Strategi Pelestarian
Guru Besar FTAB UB, Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D menjelaskan produk inovasi nagasari versi sehat miliknya. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Kuliner Tradisional Terancam Ditinggalkan Generasi Muda, Pakar UB Soroti Strategi Pelestarian

Akademisi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D menilai upaya pelestarian kuliner tradisional tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia.

TIMES Malang,Selasa 9 Juni 2026, 11:57 WIB
456
M
Miranda Lailatul Fitria

MALANGDi tengah maraknya junk food, makanan instan, dan tren kuliner global lainnya, minat generasi muda saat ini pada makanan tradisional dinilai mulai terkikis. Akademisi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D menilai upaya pelestarian kuliner tradisional tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia, tetapi harus disertai modernisasi produk, penguatan nilai gizi, serta strategi branding yang relevan dengan gaya hidup anak muda saat ini.

Prof. Erni menjelaskan bahwa saat ini tren pangan global mengarah pada makanan yang menyehatkan dan memiliki nilai fungsional bagi tubuh. Karena itu, makanan tradisional perlu dipromosikan tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk yang memiliki manfaat kesehatan.

“Sekarang tren globalnya apa, nah sekarang banyak yang makan healthy food gitu ya, maka kita bisa tonjolkan bahwa makanan tradisional banyak yang sehat,” ujarnya, Senin (8/6/2026). 

Ia mencontohkan seperti produk tempe yang dianggap superfood oleh masyarakat internasional karena memiliki kandungan asam amino dan protein yang tinggi yang setara dengan daging. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen vegan. 

Tak hanya melihat tren, menurutnya, makanan tradisional perlu dimodernisasi untuk menarik minat generasi muda. Menurutnya, generasi saat ini lebih tertarik pada produk praktis dan mudah diolah. 

“Membuat kue apem itu bisa sampai 10 jam, nah kuncinya adalah gimana generasi muda ini dapat membuat apem hanya 1 jam saja, dengan itu mereka lebih tertarik untuk belajar,” jelasnya. 

Selain itu, branding makanan tradisional saat ini juga menjadi penting untuk menarik perhatian generasi muda. Dengan branding yang bagus dan melekat, maka hal tersebut bisa menjadi prestige tersendiri. Ia menambahkan contoh seperti makanan Kimchi dari Korea. Menurutnya, makanan tradisional korea tersebut tidak lepas dari promosi yang konsisten melalui industri hiburan dan budaya populer. Ia pun menekankan untuk memanfaatkan media sosial, industri kreatif, hingga program televisi sebagai strategi branding tersebut. 

“Kimchi sebenarnya makanan fermentasi yang sederhana. Tetapi karena terus ditampilkan dalam film, drama, dan budaya populer Korea, akhirnya memiliki citra yang kuat dan diminati masyarakat dunia,” katanya.

Prof. Erni menambahkan bahwa di hotel-hotel saat ini sudah mulai banyak yang mengemas makanan tradisional menjadi lebih cantik dan menarik.  

Prof. Erni optimistis bahwa makanan tradisional akan kembali diminati masyarakat seiring dengan meningkatnya gaya hidup sehat di kalangan generasi muda. Ia juga menyarankan untuk para orang tua supaya dapat memperkenalkan makanan tradisional kepada anak mereka sedini mungkin. 

“Sekarang banyak yang mengubah gaya hidup sehat, mengurangi makanan upf, saya yakin makanan tradisional nanti ada trennya lagi, semakin masyarakat melek teknologi, maka mereka cenderung ingin kembali ke traditional things,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Miranda Lailatul Fitria
|
Editor:Imadudin Muhammad