https://malang.times.co.id/
Pendidikan

AI dalam Seni Lukis: Ancaman atau Alat Bantu Seniman?

Jumat, 02 Januari 2026 - 15:41
AI Menggeser Eksistensi Seniman Lukis? Begini Kata Akademisi Potret seorang pelukis yang dengan hasil karyanya. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

TIMES MALANG, MALANG – style="text-align:justify">Kehadiran Artificial Intellegence (AI) di dunia modern seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, AI kerap membantu pekerjaan manusia, tapi tidak jarang juga keberadaan AI dinilai dapat menggeser aktivitas manusia secara pelan-pelan.

Salah satunya adalah AI mampu membuat karya visual atau lukisan seperti manusia. Bahkan, hasil karya AI memungkinkan juga memiliki visual yang lebih menarik daripada lukisan yang dibuat oleh manusia. Kecepatan AI dalam menerima perintah dan menghasilkan karya seni dikhawatirkan dapat menggeser budaya seni lukis dan peran seniman lukis.

Bagi sebagian seniman, hadirnya AI dapat menggeser peran mereka dari dunia lukis, terutama di bidang ekonomi. Pesanan lukisan yang dibuat oleh AI lebih prosenya lebih cepat dan harganya lebih murah. Hal ini dikhawatirkan dapat merusak harga pasar dan nilai seni lukisan itu sendiri.

Fenny-Rochbeind.jpgDr. Fenny Rochbeind, S.Pd, M.Sn, Dosen seni Universitas Negeri Malang sekaligus praktisi seni. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Menurut Dosen seni Universitas Negeri Malang, Dr. Fenny Rochbeind, S.Pd, M.Sn, kehadiran AI perlu dilihat dari beberapa sisi. Para seniman lukis yang merasa khawatir dengan AI justru dipertanyakan jiwa senimannya, karena pada dasarnya AI hanyalah alat bantu bukan untuk mengancam. 

“Karya yang dihasilkan manusia dan AI terlihat jelas perbedaannya. Seniman melukis dengan rasa, sedangkan AI hanya memproduksi visual,” ujarnya.

Dalam seni lukis, setiap karya manusia selalu memiliki makna. Perasaan, pengalaman hidup, serta latar belakang seniman tertuang dalam setiap goresan di atas kanvas. Lukisan tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga mampu “berbicara” dan menggugah sisi emosional penikmatnya.

Contoh-lukisan-hasil-karya-AI.jpgContoh lukisan hasil karya AI. (FOTO: alpha.ajaib.co.id)

Setiap garis, warna, dan bentuk menjadi medium penyampaian pesan batin seniman. Inilah yang disebut sebagai jiwa seni, sesuatu yang tidak dapat direplikasi oleh kecerdasan buatan. Sebaliknya, AI hanya mampu menciptakan visual tanpa memahami atau menjelaskan makna dari goresan yang dihasilkannya.

“Manusia itu memiliki rasa dalam setiap lukisannya, entah itu perasaan sedih, bahagia, atau apapun, yang membuat lukisan tersebut bermakna, sedangkan AI cuma bisa bikin desain visualnya tanpa bisa menjelaskan makna dari apa yang ia buat,” ujar dosen seni sekaligus praktisi seni tersebut.

Ia justru menekankan bahwa AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu kreatif. Dalam praktiknya, seniman sering membutuhkan waktu lama untuk menuangkan imajinasi ke dalam bentuk visual. Di sinilah AI dapat berperan, yakni membantu menyempurnakan konsep awal tanpa menghilangkan makna dan identitas seniman.

Dr. Fenny juga mengingatkan bahwa rasa takut terhadap AI adalah kekhawatiran yang berlebihan. AI merupakan produk buatan manusia, sedangkan seniman akan terus berkarya dengan perasaan dan kesadaran emosional yang dimilikinya.

“Ketika perasaanmu berbicara kesedihan, AI akan berbicara tentang kebahagiaan, contoh pada warna, bentuk, dan goresan. kita tidak akan tergantikan dengan AI, karena AI tidak punya rasa,” ujarnya. (*)

Pewarta : Miranda Lailatul Fitria (MG)
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.