https://malang.times.co.id/
Opini

Pendidikan sebagai Nadi Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 - 15:53
Pendidikan sebagai Nadi Peradaban Fatkhurrozi, Ketua MKKS Kabupaten Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Pendidikan selalu menjadi penanda arah sebuah bangsa melangkah. Ia bukan sekadar urusan anggaran, kurikulum, atau ruang kelas, melainkan denyut kehidupan peradaban itu sendiri. 

Ketika pendidikan hidup, bangsa bergerak maju; ketika pendidikan kehilangan makna, peradaban berjalan tertatih, bahkan bisa tersesat arah. Karena itu, membicarakan pendidikan sejatinya adalah membicarakan masa depan manusia dan wajah Indonesia yang hendak kita bangun bersama.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara menunjukkan komitmen serius melalui alokasi anggaran pendidikan yang besar sekitar Rp757,8 triliun. Angka ini penting, namun ia hanyalah data. 

Yang jauh lebih menentukan adalah cara berpikir kita tentang pendidikan. Apakah pendidikan masih dipahami sebagai kewajiban administratif negara, atau telah ditempatkan sebagai jalan strategis membangun manusia Indonesia seutuhnya?

Pendidikan sebagai nadi peradaban menuntut perubahan cara pandang. Sekolah dasar dan menengah bukan sekadar tempat menanam hafalan dan disiplin mekanis, melainkan ruang awal pembentukan nalar, karakter, dan keberanian berpikir. 

Di bangku SD, SMP dan SMA-lah fondasi peradaban diletakkan: bagaimana anak belajar memahami diri, menghargai perbedaan, bekerja sama, serta memaknai ilmu sebagai alat pembebasan, bukan sekadar tangga mobilitas sosial.

Masalahnya, pendidikan kita masih sering terjebak pada logika hasil instan. Nilai menjadi tujuan, ijazah menjadi ukuran, dan peringkat menjadi kiblat. Akibatnya, proses belajar kehilangan ruh. 

Sekolah berubah menjadi arena lomba, bukan ruang tumbuh. Padahal peradaban besar tidak lahir dari generasi yang sekadar pandai menjawab soal, melainkan dari manusia yang mampu bertanya, meragukan, dan mencari makna.

Di tengah perubahan zaman yang ditandai oleh percepatan teknologi, pendidikan tidak punya pilihan selain beradaptasi. Namun adaptasi bukan berarti menyerah. Teknologi harus menjadi mitra pedagogis, bukan pengganti peran manusia. Kolaborasi antara guru, peserta didik, dan teknologi seharusnya melahirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan nyata.

Sekolah yang adaptif bukan sekolah yang paling canggih perangkatnya, tetapi yang paling peka terhadap perubahan. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator proses berpikir. 

Murid tidak diposisikan sebagai wadah kosong, melainkan subjek aktif yang diajak berdialog dengan realitas sosial, budaya, dan teknologi di sekitarnya. Di sinilah pendidikan menemukan makna peradabannya: membentuk manusia yang mampu hidup berdampingan dengan perubahan, tanpa kehilangan nilai.

Namun, pendidikan yang bermakna hanya mungkin lahir jika aksesnya adil. Merata bukan berarti sama rata, melainkan memberi sesuai kebutuhan. Anak di desa terpencil dan anak di kota besar sama-sama berhak mendapatkan pendidikan bermutu, meski jalannya berbeda. 

Ketika masih ada anak yang tertinggal karena akses, fasilitas, atau kondisi sosial, maka pendidikan belum sepenuhnya menjadi nadi peradaban, ia baru mengalir untuk sebagian.

Lebih jauh, pendidikan harus berani berbicara tentang masa depan kerja dan kehidupan. Sekolah menengah seharusnya menjadi ruang transisi yang sehat: menyiapkan peserta didik memahami dunia profesional tanpa kehilangan idealisme kemanusiaan. 

Orientasi kerja profesional penting, tetapi tidak boleh mematikan nilai etik, kepedulian sosial, dan kepekaan nurani. Pendidikan yang baik tidak hanya menyiapkan “tenaga kerja”, tetapi warga negara yang sadar peran dan tanggung jawabnya.

Di titik inilah kebijakan pendidikan dan kesepakatan sosial harus bertemu. Pendidikan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada negara, dan tidak pula dibebankan sepenuhnya pada individu. Ia adalah urusan bersama. Ketika sekolah, keluarga, masyarakat, dan dunia kerja berjalan sendiri-sendiri, pendidikan kehilangan daya dorongnya. Tetapi ketika semua bergerak dalam satu visi, pendidikan menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata.

Konstitusi telah meletakkan pendidikan sebagai hak dasar warga negara. Namun hak hanya bermakna jika diwujudkan dalam pengalaman nyata. Tidak cukup anak “terdaftar” di sekolah; yang lebih penting adalah mereka benar-benar belajar dengan bermakna, merasa aman, dihargai, dan memiliki harapan. Pendidikan sebagai nadi peradaban berarti memastikan tidak ada yang merasa terbuang dari masa depannya sendiri.

Pertanyaan terbesar pendidikan hari ini bukan soal seberapa besar anggaran, tetapi seberapa dalam keberanian berpikir kita. Beranikah kita menata ulang tujuan pendidikan? 

Beranikah kita keluar dari pola lama yang tak lagi menjawab zaman? Dan beranikah kita sepakat bahwa pendidikan bukan sekadar alat bertahan hidup, melainkan jalan memanusiakan manusia?

Jika pendidikan benar-benar dipahami sebagai nadi peradaban, maka setiap sekolah adalah ruang harapan, setiap guru adalah penjaga masa depan, dan setiap peserta didik adalah kemungkinan yang tak boleh disia-siakan. Dari sanalah kemajuan tidak sekadar direncanakan, tetapi benar-benar dilahirkan.

***

*) Oleh : Fatkhurrozi, Ketua MKKS Kabupaten Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.