Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan PROBAPLAS, Prostetik dari Limbah Plastik
Bentuk Kaki Prostetik produk PROBAPLAS. (FOTO: Istimewa)

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan PROBAPLAS, Prostetik dari Limbah Plastik

Mahasiswa FILKOM Universitas Brawijaya menciptakan inovasi prostetik berbahan limbah plastik HDPE bernama PROBAPLAS, yang ramah lingkungan dan lebih terjangkau bagi penyandang disabilitas.

TIMES Malang,Selasa 17 Maret 2026, 13:30 WIB
109
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

TIMESINDONESIAMahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya, Muhammad Alhafiz Arya Wardhana, berhasil menciptakan inovasi prostetik berbahan limbah plastik bernama PROBAPLAS (Prosthetic from Plastic Waste).

Inovasi ini memanfaatkan limbah HDPE (High-Density Polyethylene) seperti tutup botol dan jerigen bekas sebagai bahan utama pembuatan prostetik. Arya mengembangkan proyek tersebut bersama tim yang terdiri dari mahasiswa dari Uzbekistan, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Menurut Arya, ide tersebut muncul dari dua persoalan utama yang saling berkaitan, yakni terbatasnya akses alat bantu prostetik akibat harga yang mahal serta ketergantungan pada bahan baku impor.

“Teman disabilitas terbatas aksesnya untuk alat bantu prostetik karena mahal dan bahan baku pembuatannya harus impor,” ujarnya.

article

Di sisi lain, limbah plastik HDPE yang melimpah dan sulit terurai sering berakhir di tempat pembuangan akhir dan mencemari lingkungan.

Berdasarkan hasil riset tim, material HDPE daur ulang yang digunakan memiliki kekuatan tarik sebesar 26–33 MPa, sehingga memenuhi standar minimum material prostetik. Selain itu, penggunaan bahan daur ulang mampu menekan biaya produksi bahan baku hingga sekitar 2 dolar AS per unit.

“Inovasi kami berhasil menjawab dua permasalahan tersebut,” imbuh Arya.

Tak hanya dari sisi material, PROBAPLAS juga mengusung pendekatan circular economy melalui pengembangan sistem bank sampah digital berbasis gamifikasi. Masyarakat dapat menyetorkan limbah plastik HDPE dan memperoleh poin yang tercatat secara digital untuk kemudian dikonversikan menjadi nilai ekonomi.

article

Saat ini, Arya dan tim mulai mengimplementasikan model produksi prostetik melalui kolaborasi dengan mitra produsen prostetik serta komunitas pemberdayaan disabilitas. Sejumlah produk yang telah dibuat juga telah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan.

Atas inovasi tersebut, Arya dan tim meraih juara ketiga dalam ajang International Project Innovation Competition yang digelar di Istanbul, Turki pada Februari 2026.

Dosen pembimbing, Maurish Sofie Rahmi Batita, menilai inovasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Ide ini bisa menjadi produk unggulan bagi kaum disabilitas, namun tetap memperhatikan kesadaran lingkungan,” ujarnya.(*)

Pewarta: Miranda Lailatul Fitria

 

 

 

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Imadudin Muhammad