Guru PAUD Muslimat NU Malang Integrasikan Deep Learning dengan Nilai ASWAJA
TIMES Malang/Suasana saat pelaksanaan Bimtek Pembelajaran Mendalam Berbasis ASWAJA oleh Muslimat NU Kabupaten Malang.

Guru PAUD Muslimat NU Malang Integrasikan Deep Learning dengan Nilai ASWAJA

Muslimat NU Kabupaten Malang menargetkan nilai-nilai ASWAJA tidak hanya dipahami sebagai materi ajar, tetapi menjadi kultur pendidikan yang mengakar.

TIMES Malang,Jumat 20 Februari 2026, 11:21 WIB
330
H
Hainor Rahman

MalangGuru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Muslimat NU se-Kabupaten Malang menyatakan kesiapan mengimplementasikan pembelajaran mendalam (deep learning) berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) dalam proses belajar mengajar. 

Komitmen itu mengemuka usai pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam Berbasis ASWAJA yang digelar awal Februari 2025 di Singosari.

Kegiatan tersebut diikuti 132 guru PAUD Muslimat NU se-Kabupaten Malang. Bimtek diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU) bersama Ikatan Guru PAUD Kabupaten Malang, bekerja sama dengan YPMNU Jawa Timur.

Langkah ini merupakan respons terhadap terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 126/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Pembelajaran Mendalam pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. 

Regulasi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran yang memperkaya pengalaman belajar serta mendorong tercapainya kompetensi peserta didik secara utuh.

Dalam kebijakan tersebut, pembelajaran mendalam tidak lagi sekadar menitikberatkan pada transfer pengetahuan, melainkan pada pemahaman konsep secara menyeluruh dan bermakna. Proses pembelajaran didorong berlangsung secara berkesadaran, menggembirakan, dan holistik melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, serta olah raga.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, Drs. H. Sahid, MM, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas inisiatif Muslimat NU Kabupaten Malang bersama IGPAUD. 

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan sinergi antara lembaga pendidikan berbasis masyarakat dengan program strategis pemerintah.

“Ini bentuk dukungan nyata terhadap kebijakan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Integrasi kurikulum pembelajaran mendalam dengan kearifan lokal berbasis ASWAJA menjadi kekuatan tersendiri,” ujarnya.

Ketua panitia kegiatan menyampaikan, melalui bimtek ini para guru diharapkan tidak hanya memahami konsep deep learning secara teoretis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar sehari-hari di kelas. Terlebih, pendekatan tersebut dipadukan dengan nilai-nilai ASWAJA yang menjadi fondasi pendidikan di lingkungan Muslimat NU.

Salah satu pemateri, Dewi Winarti, M.Pd., Sekretaris YPMNU Jawa Timur sekaligus Asesor PAUD BAN PNF, menegaskan bahwa kurikulum berbasis ASWAJA tidak boleh berhenti pada dokumen administratif semata.

“Kurikulum ini harus hidup dalam praktik pembelajaran. Tercermin dalam sikap pendidik, budaya satuan pendidikan, serta interaksi antara guru dan peserta didik,” tegasnya.

Menurut Dewi, nilai-nilai ASWAJA seperti tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), tawassuth (moderasi), dan ta’adul (keadilan) memiliki relevansi kuat dengan pendekatan pembelajaran mendalam. 

Nilai keseimbangan, misalnya, mendorong anak sejak dini belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Toleransi membuka ruang saling menghargai perbedaan, sementara moderasi mengajarkan sikap tidak berlebihan dalam bersikap dan bertindak.

Sementara itu, prinsip keadilan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing.

Para peserta bimtek menyambut positif materi yang diberikan. Sejumlah guru menyatakan siap menerapkan pembelajaran mendalam berbasis ASWAJA di lembaga masing-masing.

“Kami siap menerapkan pembelajaran mendalam berbasis ASWAJA untuk anak didik kami. Nilai-nilai ASWAJA akan kami tanamkan dalam setiap proses pembelajaran agar terinternalisasi dalam perilaku mereka sehari-hari,” ujar salah satu peserta.

Integrasi deep learning dengan nilai ASWAJA dinilai menjadi ikhtiar strategis dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Selain meningkatkan pemahaman konsep secara mendalam, pendekatan ini juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.

Bagi Muslimat NU Kabupaten Malang, pendidikan anak usia dini bukan hanya soal kesiapan akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang berilmu, beradab, dan berkepribadian rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, penerapan pembelajaran mendalam berbasis ASWAJA dipandang sebagai langkah konkret menjawab tantangan pendidikan masa depan.

Dengan kesiapan 132 guru yang telah mengikuti bimtek, implementasi kurikulum ini diharapkan berjalan sistematis dan berkelanjutan. Sinergi antara YPMNU, IGPAUD, Dinas Pendidikan, serta Kementerian Agama Kabupaten Malang menjadi modal penting untuk memastikan kebijakan pembelajaran mendalam benar-benar memberi dampak nyata di ruang-ruang kelas PAUD.

Ke depan, Muslimat NU Kabupaten Malang menargetkan nilai-nilai ASWAJA tidak hanya dipahami sebagai materi ajar, tetapi menjadi kultur pendidikan yang mengakar. Dari ruang kelas PAUD inilah diharapkan lahir generasi yang tangguh, moderat, dan berkarakter kuat sejak usia dini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman