Tukik (anak penyu laut) yang dilepasliarkan ke Samudra Hindia. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Mengikuti Jejak Tukik: Konservasi Penyu di Bajulmati

90 tukik, 43 mahasiswa, dan 17 tahun perjuangan konservasi. Di balik momen pelepasan anak penyu ke laut di Bajulmati, ada kisah panjang tentang konflik manusia dan ekosistem.

TIMES Malang,Rabu 24 Juni 2026, 03:02 WIB
340
F
Ferry Agusta Satrio

MALANGSore itu, Sabtu (20/6/2026), langit di atas Pantai Bajulmati, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, berubah merah keemasan. Di bibir ombak yang relatif ‘tenang’ khas pantai selatan, puluhan tangan muda menunduk perlahan. Masing-masing dari mereka meletakkan batok kelapa pada posisi miring menyentuh pasir pantai. Di dalam batok tampak seekor makhluk kecil bercangkang gelap yang menggerakkan kaki-kakinya dengan gelisah. Itulah tukik, bayi penyu yang baru menetas, yang sebentar lagi akan menempuh perjalanan pertamanya menuju Samudra Hindia.

Dari Kampus Turun ke Pantai

Bagi 43 mahasiswa Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya, momen itu bukan sekadar ritual pelepasan. Namun, terselip komitmen menyelamatkan lingkungan. Persis nama event yang mereka gelar hai itu, Gerakan Aksi Lingkungan (Gasing).

Tahun ini, Gasing mengusung tema Jejak Aksi untuk Negeri, untuk Laut yang Melestari. Keren. "Tujuannya untuk melestarikan lingkungan melalui pendekatan kepada mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat, khususnya di lingkup fakultas kami," ujar Maya Asfrihani, mahasiswi 18 tahun yang jadi ketua pelaksana kegiatan.

Ia menambahkan, Gasing telah menjadi agenda rutin, sebuah tradisi aksi lingkungan yang diwariskan dari generasi ke generasi di kampusnya.

Sebelum melepas tukik, mereka terlebih dahulu mengikuti sekolah alam, sesi edukasi lapangan tentang ekosistem laut, dan melakukan penanaman mangrove sebagai bentuk simbolisasi komitmen terhadap lingkungan.

Puncak kegiatan adalah pelepasan 90 ekor tukik ke lautan, disaksikan bersama mitra konservasi setempat.

"Harapannya teman-teman mendapatkan wawasan baru mengenai tukik, mangrove, dan harapannya setelah lepas dari kegiatan ini tetap bisa melestarikan alam," tutur Maya kepada TIMES Indonesia.

 

Melepas-Tukik-di-Pantai-Bajulmati-Malang
Sebanyak 43 mahasiswa dari Universitas Brawijaya melepas tukik ke Samudra Hindia. (Foto: Ferry Agusta/TIMES Indonesia)

BSTC: 17 Tahun Menyelamatkan Penyu

Di balik cerita puluhan tukik yang dilepas oleh puluhan mahasiswa, tersimpan 17 tahun kerja keras, ratusan sarang yang diselamatkan, ribuan telur yang dijaga malam demi malam, dan keyakinan bahwa penyu, dan lautan tempat mereka hidup, masih bisa diselamatkan.

Kerja keras itu yang dilakukan Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), sebuah lembaga nirlaba (Non Governmental Organization/NGO) yang bernaung di bawah Yayasan Konservasi Penyu Jawa Timur. Didirikan sejak 2009, BSTC telah aktif bergerak selama 17 tahun di bidang penyelamatan penyu, bukan penangkaran.

"Kita itu NGO yang bergerak di bidang konservasi. Tujuan kita memang penyelamatan penyu. Jadi kita bukan penangkaran. Kalau penangkaran kan ada jantan betina dibiarkan berkembang biak. Kita berbeda," kata Dwi Tintus, Humas BSTC Malang.

Perbedaan antara penyelamatan dan penangkaran bukan sekadar terminologi. Ini menyangkut filosofi konservasi bahwa tujuan akhir bukan sekadar memperbanyak jumlah penyu di tempat yang terkontrol, melainkan memastikan mereka bisa hidup dan berkembang biak secara alami di alam liar.

Pak Sutari, Nelayan yang Jadi Penjaga Penyu

Kisah pendirian BSTC Malang tidak lepas dari sosok Sutari, warga lokal pesisir Bajulmati yang kini menjadi pelopor konservasi penyu. Ironisnya, perjalanan hidupnya dimulai bukan dari kesadaran ekologis, melainkan dari tradisi.

"Dulu saya juga ikut-ikutan orang tua nungguin penyu naik. Kami mencuri telurnya. Tapi lambat laun kami ganti juga," tuturnya jujur.

Di masa lalu, seperti dikisahkan Sutari, telur penyu dikonsumsi secara pribadi oleh masyarakat pesisir, bukan diperjualbelikan ke luar pulau. Hutan yang masih lebat menyediakan banyak hewan buruan lain. Penyu hanya satu dari sekian sumber pangan.

Namun seiring waktu, kesadaran tumbuh. Pak Sutari mulai memahami bahwa penyu adalah makhluk yang punya peran penting, bukan sekadar sumber protein. Dari sinilah lahir mimpi untuk tidak sekadar mengambil, melainkan menyelamatkan.

"Misi kita bersama: jangan sampai perintis jadi pewaris. Kita kembangkan supaya banyak Sutari-Sutari baru. Alhamdulillah, sekarang sudah banyak," kata Sutari saat ditemui TIMES Indonesia usai melepasliarkan puluhan ekor tukik.

Mengapa Penyu Begitu Penting?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya menyentuh jantung ekosistem laut yang kompleks. Bukan kebetulan jika para ahli biologi kelautan menyebut penyu sebagai keystone species, spesies kunci yang keberadaannya menentukan keseimbangan seluruh ekosistem.

Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah salah satu sedikit hewan yang mampu memakan lamun (seagrass). Dengan cara merumput, penyu hijau mencegah lamun tumbuh terlalu lebat dan menutupi sinar matahari yang dibutuhkan oleh organisme di bawahnya. Layaknya sapi di padang savana, mereka menjaga padang lamun tetap sehat dan produktif, yang pada gilirannya menjadi habitat bagi ikan-ikan kecil dan sumber makanan bagi dugong.

Sementara penyu sisik (Eretmochelys imbricata) memainkan peran di terumbu karang. Hewan ini adalah satu dari sedikit predator alami spons laut. Dengan memakan spons, penyu sisik mencegah spons tumbuh berlebihan dan mengalahkan terumbu karang, sebuah fungsi ekologis yang tidak tergantikan oleh hewan lain.

Penyu juga berperan dalam siklus nutrisi pesisir. Betina yang naik ke pantai untuk bertelur membawa nutrisi laut ke daratan. Telur-telur yang tidak menetas menjadi pupuk alami bagi vegetasi pantai. Tumbuhan pantai yang sehat memperkuat garis pantai dan mencegah abrasi, manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat pesisir.

BSTC-Malang- Penyu- Bajulmati.jpeg
Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) Malang. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Status Konservasi Global

Secara global, semua spesies penyu laut terdaftar dalam IUCN Red List sebagai spesies yang terancam atau rentan. Namun ada kabar baik: menurut informasi yang disampaikan Dwi Tintus, pengurs BSTC, pada 2025, status penyu hijau mengalami perubahan dari endangered (terancam punah) menjadi least concern (populasi mulai stabil).

“Untuk mengubah status konservasi secara global itu harus ada populasi nyata yang ditemukan di lapangan. Jadi ada peningkatan yang nyata, bukan hanya 1-2 ekor, tapi bisa ribuan," kata Tintus yang juga Koordinator Kesehatan Hewan di BSTC Malang.

Perubahan status tersebut adalah bukti bahwa upaya konservasi selama beberapa dekade mulai membuahkan hasil. Namun perjuangan belum selesai.

Tercatat, ada 7 (tujuh) spesies penyu laut di dunia, 6 di antaranya ditemukan di perairan Indonesia. Termasuk yang dikonservasi oleh BSTC Malang.

Fakta menariknya, Penyu Laut dapat hidup 80–100 tahun di alam liar. Migrasi: Penyu betina kembali ke pantai tempat mereka lahir untuk bertelur, bisa mencapai ribuan kilometer jauhnya.

Saat ini ancaman utama bagi kelestarian penyu laut adalah perburuan liar, sampah plastik, kerusakan habitat pantai, bycatch (tertangkap jaring ikan), dan perubahan iklim.

Lebih dari Sekadar Perburuan Liar

Sering kali, ancaman terhadap penyu diidentikkan dengan perburuan liar. Padahal, menurut BSTC Malang, ancaman sesungguhnya jauh lebih kompleks dan berakar dari konflik antara manusia dan ekosistem.

"Konflik dalam artian bukan pertengkaran atau perang. Tapi lebih ke adanya ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan terutama oleh campur tangan manusia," kata Tintus.

Ketidaktahuan masyarakat tentang cara memperlakukan sarang dan telur penyu, misalnya, bisa sama merusaknya dengan perburuan terencana.

Dan ada predator yang tak terduga: semut. Di kawasan konservasi, semut kini menjadi ancaman serius bagi telur penyu, terutama ketika aktivitas manusia (seperti meninggalkan makanan di sekitar sarang) mengundang koloni semut mendekati area bersarang. Itu adalah contoh bagaimana intervensi manusia yang tampak sepele bisa menciptakan masalah ekologis baru.

"Selama ekosistem ini masih belum stabil, masih banyak isu lingkungan, kerusakan lingkungan, dan belum banyaknya kesadaran masyarakat,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu.

“Itu semua adalah tantangan. Tapi kalau berat dan kami merasa keberatan, kami nggak akan sampai 17 tahun," lanjut perempuan yang mengenyam studi di Fakultas Kedokteran Hewan itu.

Ancaman lain datang dari sampah plastik di lautan. Mikroplastik bercampur dengan plankton, dimakan ikan, lalu dimakan manusia. Penyu yang menelan plastik mengira itu ubur-ubur—makanan favorit beberapa spesies. Akibatnya fatal.

"Kalau secara ngelaut, apakah terbuka? Dari hulu pembuangan plastik, jadi mikro-mikro campur plankton, dimakan ikan, ikan dimakan kita. Berarti itu harus jadi pembenahan semua,” kata Sutari.

Sekolah Alam, Mendidik dari Akar

Salah satu inovasi strategis BSTC Malang adalah Sekolah Alam, yang dimulai sejak 2018. Program ini lahir dari kesadaran bahwa edukasi formal saja tidak cukup untuk mengubah perilaku masyarakat.

"Masyarakat tidak percaya teori. Harus langsung. Ini penyu, ini cara bertelurnya, baru paham," kata Sutari. Itulah mengapa Sekolah Alam BSTC menggunakan metode pengalaman lapangan, bukan slide presentasi.

Target awal program Sekolah Alam adalah anak-anak pesisir. Strateginya: jika orang tua sulit diubah, ubah dulu anaknya.

"Kalau kita ambil anaknya, otomatis kalau bapaknya mau merusak, anaknya pasti bilang: janganlah. Kita membangun generasi penyelamat," ujar pria berambut panjang itu.

Kurikulum Sekolah Alam mencakup pengenalan jenis-jenis penyu, fungsi ekologis penyu, kaitan penyu dengan mangrove dan terumbu karang, hingga regulasi hukum perlindungan penyu berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.

Pelepasan tukik sendiri, menurut Pak Sutari, hanyalah bonus. "Kalau kita kuatkan di pelepasan, sangat salah. Pelepasan itu bonus karena kita sudah belajar bareng terkait ekosistemnya," ucapnya.

Sore Itu, di Tepi Ombak

Kembali ke Pantai Bajulmati. Ada alasan mengapa pelepasan tukik dilakukan pada sore hari: di siang hari yang terik, ikan-ikan predator aktif berburu di dekat permukaan. Sore hari memberi tukik sedikit keunggulan untuk menyeberangi garis pertahanan pertama kehidupan.

Bersama-sama secara perlahan, 90 ekor tukik dilepas. Kaki-kaki kecil mereka mengayuh pasir, mencari ritme yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Lalu ombak pertama datang, dan mereka hilang di baliknya.

Maya Asfrihani, yang turut serta melepas seekor tukik, menatap lautan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Campuran antara haru, harap, dan mungkin sedikit khawatir.

 "Harapannya tukiknya dapat hidup dan memperbanyak angka harapan hidup. Menjadi, insya Allah, tidak punah," ucapnya pelan.

Masih di area pesisir Bajulmati, Pak Sutari memandang ke arah yang sama. Tujuh belas tahun pengabdian terangkum dalam momen sederhana itu: satu tukik yang lepas ke laut adalah satu kemungkinan yang diselamatkan.

"Harapan kami, kalau misi ini berhasil, penyu biarlah bertelur di situ, masyarakat paham dan tidak mengganggu. Ekosistemnya tetap terjaga. Berarti tanpa campur tangan kita. Sementara ini masih ada campur tangan kita, kalau tidak kita selamatkan, hilang," kata dia.

Konservasi penyu bukan tugas yang bisa dibebankan pada satu orang, satu organisasi, atau satu komunitas. "Konservasi itu tanggung jawab kita bersama. Sebetulnya nggak boleh dibebankan perorangan atau perkelompok," kata Sutari.

Pesan itu relevan bagi siapa saja. Bukan hanya nelayan di pesisir Bajulmati. Bukan hanya mahasiswa UB yang datang dengan semangat. Bukan hanya para aktivis lingkungan.

Setiap kali kita memilih untuk tidak membuang plastik sembarangan, setiap kali kita memilih produk yang ramah laut, setiap kali kita berbagi pengetahuan tentang pentingnya ekosistem, kita sedang berpartisipasi dalam gerakan yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, lautan yang sehat bukan hanya rumah penyu. Ia adalah sumber kehidupan bagi miliaran manusia di seluruh bumi, termasuk kita yang berdiri di tepi pantai, menyaksikan 90 ekor tukik berenang menuju takdir mereka. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ferry Agusta Satrio
|
Editor:Ferry Agusta Satrio