Pasukan Israel Masuki Quneitra, Suriah Laporkan Penangkapan Warga Sipil
TIMES Malang/Invasi Israel ke Quneitra terjadi meskipun ada pengumuman mekanisme komunikasi yang diawasi AS antara Suriah dan Israel untuk mengurangi eskalasi. (FOTO: Al Jazeera/Getty Image).

Pasukan Israel Masuki Quneitra, Suriah Laporkan Penangkapan Warga Sipil

Ketegangan di perbatasan Suriah–Israel meningkat setelah puluhan kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki Provinsi Quneitra, memicu kekhawatiran stabilitas kawasan di tengah sengketa pasca runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.

TIMES Malang,Kamis 26 Februari 2026, 15:40 WIB
274
W
Widodo Irianto

JAKARTAKetegangan di perbatasan Suriah–Israel kembali meningkat setelah laporan masuknya konvoi militer Israel ke wilayah barat daya Suriah. Pada Rabu (25/2/2026) malam, sedikitnya 30 kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki Provinsi Quneitra.

Kantor berita resmi Suriah, Syrian Arab News Agency (SANA), melaporkan bahwa pasukan Israel melakukan operasi di sejumlah desa di pedesaan selatan Quneitra, termasuk penangkapan terhadap beberapa warga, terutama pemuda.

Sebelumnya, pada Minggu dan Senin, pasukan Israel disebut telah melakukan operasi serupa di wilayah pedesaan Quneitra dan menangkap enam pemuda. Dua di antaranya dilaporkan ditangkap dari desa Ghadeer al-Bustan setelah rumah mereka digeledah dan dirusak. Empat lainnya ditahan pada Minggu, tiga di antaranya dari desa Bariqa saat menggembalakan ternak—yang kemudian dibebaskan—sementara satu orang ditangkap dari kota Jabata al-Khashab.

Media lokal juga melaporkan bahwa konvoi lebih dari 30 kendaraan militer Israel memasuki wilayah Tel al-Ahmar timur, dekat desa Ain Ziwan. Pasukan dilaporkan menembakkan suar ke udara. Hingga kini belum ada kejelasan apakah pasukan tersebut telah mundur atau masih berada di lokasi.

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Suriah terkait perkembangan terbaru ini, sementara pihak Israel juga belum mengumumkan motif operasi tersebut.

Ketegangan dan Sengketa Perjanjian 1974

Pemerintah Suriah berulang kali menyatakan komitmennya terhadap Perjanjian Penarikan Pasukan tahun 1974 antara Suriah dan Israel. Namun Israel disebut menganggap perjanjian tersebut tidak lagi berlaku setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2023.

Menurut sejumlah sumber lokal, wilayah selatan Suriah, khususnya pedesaan Quneitra dan Daraa, dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan aktivitas militer Israel, termasuk operasi darat, penembakan artileri, penangkapan warga, pendirian pos pemeriksaan, serta dugaan perusakan lahan pertanian.

Warga setempat menyatakan bahwa rangkaian insiden tersebut dinilai menghambat upaya pemulihan stabilitas serta memperburuk kondisi sosial-ekonomi di kawasan tersebut.

Situasi di perbatasan Suriah–Israel masih terus berkembang, dengan minimnya pernyataan resmi dari kedua belah pihak terkait operasi terbaru ini.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Widodo Irianto
|
Editor:Imadudin Muhammad