Di Balik Perbedaan Pandangan, Ketua DPRD Kota Malang Beri Penghormatan Terakhir untuk Ali Wahyudin
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita menunjukkan penghormatan terakhir kepada almarhum Ali Wahyudin.
MALANG – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita menunjukkan penghormatan terakhir kepada almarhum Ali Wahyudin dengan menghadiri takziah dan prosesi pemakaman di Perum Griyashanta Eksekutif, Soekarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, Rabu (24/6/2026) pagi tadi. Kehadirannya menjadi simbol kedewasaan demokrasi, di tengah peran almarhum yang selama ini dikenal aktif menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan publik, termasuk kinerja DPRD.
Amithya menegaskan, kehadirannya didasari rasa kemanusiaan dan penghormatan kepada sesama warga Kota Malang. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pandangan dan kritik sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
“Beliau adalah salah satu masyarakat Kota Malang. Apa pun yang beliau lakukan, saya yakin niatnya baik, yaitu memberikan sudut pandang yang berbeda yang mungkin terlewat oleh kami semua,” ujar Amithya kepada TIMES INDONESIA, Rabu (24/6/2025).
Ia menilai kritik yang disampaikan almarhum selama ini bukanlah serangan personal, melainkan bentuk kepedulian terhadap kepentingan masyarakat yang lebih luas. Karena itu, DPRD sebagai representasi rakyat perlu membuka ruang bagi berbagai masukan, termasuk kritik yang tajam sekalipun.
“Kalau kami dirasa keluar dari koridor, masyarakat punya hak dan kewajiban untuk mengingatkan. Kami ini perwakilan mereka, sehingga kritik adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat,” ungkapnya.
Amithya menyebut, selama ini Ali Wahyudin kerap mengirimkan pesan melalui WhatsApp terkait isu-isu yang sedang diperjuangkannya. Ia mengaku selalu membaca berbagai masukan tersebut dan melihatnya sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihargai.
“Beliau sering mengirimkan narasi atau pandangan yang sedang beliau suarakan. Saya baca dan saya ikuti juga beberapa postingannya. Dari semua itu pasti ada nilai baik yang bisa dipetik,” tuturnya.
Menurut Amithya, kritik yang disampaikan almarhum lebih banyak ditujukan kepada institusi dan kebijakan publik, bukan kepada individu tertentu. Karena itu, ia tidak pernah memandang perbedaan pandangan sebagai sesuatu yang bersifat personal.
“Kritik itu bukan kepada pribadi, tetapi kepada institusi dan kebijakan yang kami ambil. Itu yang saya pahami selama ini,” katanya.
Lebih lanjut, Amithya menegaskan bahwa kritik masyarakat merupakan unsur penting dalam menjaga keberimbangan demokrasi. Bahkan, menurutnya, pemerintah maupun lembaga legislatif tidak boleh menutup telinga terhadap masukan publik, meskipun disampaikan dengan cara yang keras atau tajam.
“Sepahit atau sepedas apa pun kritik yang disampaikan, kalau itu kritik yang membangun, kenapa tidak kita dengarkan? Itu justru bagian dari demokrasi yang sehat,” ucapnya.
Kehadiran Ketua DPRD Kota Malang di rumah duka menjadi pesan bahwa perbedaan pandangan antara warga dan penyelenggara pemerintahan tidak menghalangi terjalinnya rasa hormat dan penghargaan. Di tengah dinamika demokrasi, kritik dan dialog tetap menjadi fondasi penting untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

