Dipilih lewat Doa, Wayang Potehi di Klenteng Eng An Kiong Bukan Sekadar Tontonan
Wayang Potehi tetap hidup sebagai persembahan, dijaga lewat doa, ritual, dan tangan-tangan yang setia merawat tradisi.
TIMESINDONESIA – Suasana sore di halaman Klenteng Eng An Kiong, Jalan R.E. Martadinata No.1, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, tampak khidmat pada Senin (2/2/2026) pukul 15.00 WIB.
Di hadapan altar utama, panggung kecil Wayang Potehi berdiri menghadap lurus ke patung dewa-dewi. Lakon “Buntarya Tigris Sekeluarga” dimainkan dalam sesi sore, bagian dari rangkaian pementasan bertajuk “Sam He Lam Tong” yang digelar dua kali sehari hingga 30 April 2026.
Bagi sebagian orang, Wayang Potehi mungkin sekadar tontonan. Namun di klenteng ini, seni boneka sarung tangan khas Tionghoa tersebut merupakan persembahan ritual.

“Wayang potehi aslinya bukan untuk ditonton orang, tapi dipersembahkan ke dewa-dewi klenteng,” ujar Andianto, koordinator Wayang Potehi.
Pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Eng An Kiong digelar setiap hari dalam dua sesi, yakni pukul 15.00–17.00 WIB dan 20.00–21.30 WIB, hingga 30 April 2026. Pementasan dapat ditanggap atau dibiayai umat sebagai bentuk nazar maupun ungkapan syukur, yang dikenal dengan istilah nanggap atau tapsia.
Menurut Andianto, proses pemilihan cerita tidak dilakukan sembarangan. Ia mengajukan tiga judul kepada pengurus klenteng, kemudian dilakukan sembahyang untuk meminta petunjuk dewa-dewi.

“Saya kasih tiga judul, nanti ketua klenteng dan tokoh agama sembahyang untuk menanyakan ke dewa-dewi, yang dipilih itu yang dimainkan,” jelasnya.
Sehari sebelum pementasan perdana, kertas doa ditempel dan ritual dilaksanakan. Panggung pun wajib menghadap altar utama sebagai simbol persembahan. “Kalau panggungnya tidak menghadap dewa-dewi, itu sudah bukan pakem ritual lagi,” tegas Andianto.
Ia menambahkan, tradisi ini berbeda dengan pementasan di pusat perbelanjaan atau hotel. Setelah tahun 2000, Wayang Potehi memang diperbolehkan tampil di luar klenteng, namun sifatnya hiburan. “Kalau di mal atau hotel itu hanya tontonan, biasanya adegan perang atau cerita yang bisa diolah sendiri, tidak ada ritualnya,” katanya.
Lakon “Buntarya Tigris Sekeluarga” yang dimainkan sore itu berkisah tentang kerajaan kecil di Tiongkok yang menentang kerajaan besar dengan menolak mengirim upeti.
Konflik berkembang hingga peperangan dan melibatkan tokoh siluman burung yang seharusnya hanya memberi pelajaran, bukan membunuh. Cerita dimainkan bersambung sekitar satu hingga satu setengah bulan, dilanjutkan setiap sesi sore dan malam.
Dalam satu pementasan, terdapat lima orang yang terlibat, terdiri dari dua dalang dan tiga pemusik. Dalang utama membawakan dialog, sementara dalang pembantu menggerakkan boneka.
Jari telunjuk mengisi bagian kepala boneka, sementara tangan lain mengatur gerak kostum. “Satu boneka bisa ganti-ganti kostum dan karakter, kecuali tokoh khusus seperti dewa atau karakter jahat yang punya ciri tetap,” terang Andianto.
Koordinator Wayang Potehi yang lahir tahun 1960 itu mulai mengenal seni ini sejak usia 12 tahun. Rumahnya dahulu berada di sebelah klenteng, membuatnya akrab dengan pertunjukan sejak kecil.
ia belajar memegang boneka pada 1976, mendalami musik pada 1978, dan mulai mendalang pada era 1980-an. “Sebelum jadi dalang harus paham semua alat musik dan jalan ceritanya. Musik tiap jenis wayang beda-beda, jadi harus menguasai semuanya,” ungkapnya.
Ia juga menulis sendiri naskah cerita karena referensi berbahasa Tiongkok lama sulit ditemukan. “Sekarang buku cerita potehi yang dipakai itu dari saya. Dulu ada yang menerjemahkan dari bahasa Cina lama, lalu saya tulis ulang dan susun seperti skenario,” ujarnya.
Di tengah berkurangnya minat generasi muda, Andianto berharap Wayang Potehi tetap dilestarikan sesuai pakem aslinya. Di Malang, ia dan putranya menjadi sedikit dari generasi penerus yang masih aktif. “Harapan saya ada penerus yang menjaga potehi asli, bukan asal main dan merusak tata caranya yang sesuai dengan pakem potehi asli,” katanya.
Bagi Klenteng Eng An Kiong, Malang pementasan dua sesi setiap hari ini bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan spiritual antara umat dan keyakinan. Wayang Potehi tetap hidup sebagai persembahan, dijaga lewat doa, ritual, dan tangan-tangan yang setia merawat tradisi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



