Kisah Mama Engge, Dari Pemburu Menjadi Penjaga Surga Raja Ampat
TIMES Malang/Homestay milik Mama Engge terletak di Kampung Saporkren, Waigeo Selatan, Raja Ampat. (Foto: Econusa)

Kisah Mama Engge, Dari Pemburu Menjadi Penjaga Surga Raja Ampat

Kisah Mama Engge dan Mama Morin di Raja Ampat menunjukkan perubahan dari perusak menjadi pelindung alam. Melalui ekowisata dan homestay, mereka menjaga hutan dan laut sekaligus menghidupi komunitas.

TIMES Malang,Rabu 25 Februari 2026, 16:37 WIB
85
T
Tria Adha

JAKARTASuara kicauan burung terdengar sejak pagi di sekitar Homestay Warimpurem milik Mama Enggelina Dimara di Kampung Saporkren, Waigeo Selatan. Nuri, kakatua putih, hingga kakatua raja beterbangan dari pucuk ke pucuk pohon. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan Cenderawasih Merah, burung endemik Pulau Waigeo, mencari makan di pepohonan sekitar homestay. Sesekali tampak pula kuskus endemik Waigeo bergelantungan pelan di antara ranting.

Homestay itu berada di Kampung Saporkren, Waigeo Selatan, Raja Ampat. Dari Sorong, perjalanan ditempuh dengan kapal menuju Waisai, lalu dilanjutkan sekitar satu jam perjalanan darat. Akses yang tak singkat terbayar dengan bentang hutan dan laut yang masih terjaga.

Namun, perjalanan hidup Mama Engge tak selalu seindah pagi di Saporkren. Sebelum mendirikan homestay pada 2010, ia adalah pemburu burung. Bertahun-tahun lalu, ketika pemahaman konservasi belum menjangkau kampungnya, menangkap burung untuk dijual menjadi cara bertahan hidup.

article

Perubahan datang seiring pendampingan dan edukasi tentang pentingnya menjaga hutan dan satwa. Ia menyadari, burung-burung yang dulu ditangkap justru memiliki nilai lebih besar ketika hidup bebas di alam. Wisatawan rela datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan kehidupan liar yang autentik. Dari situlah kesadaran tumbuh: hutan lestari adalah masa depan.

Pengamatan burung (birdwatching) kini menjadi atraksi unggulan ekowisata di Saporkren. Selain cenderawasih merah, wisatawan juga dapat melihat Cenderawasih Wilson. Tak kurang dari 102 jenis burung lain tercatat di kawasan ini, termasuk Julang Papua dan Mambruk Victoria.

Perjalanan serupa dialami Mama Magareta Morin. Ia mendirikan homestay Yenkankanes pada 2013 bersama keluarga. Sebelumnya, sang suami bekerja sebagai penebang liar atau “tukang senso”. Nama Yenkankanes—yang berarti “pasir menangis” dalam bahasa Biak—menjadi simbol kesedihan alam saat disakiti, sekaligus harapan agar alam kembali tersenyum bila dijaga.

Kini, mereka tak lagi menebang hutan. Kesadaran menjaga alam juga mereka tularkan kepada tamu. Setiap lokasi menyelam atau snorkeling yang direkomendasikan selalu disertai pesan: keindahan itu ada karena dijaga bersama.

Menghidupi Komunitas

Ekowisata menggerakkan ekonomi kampung. Mama Morin membeli ikan dari nelayan lokal dan sayuran dari kebun warga. Manfaat pariwisata pun berputar di masyarakat. Mama Engge juga melibatkan warga untuk mengantar tamu birdwatching atau menyelam. “Saya sudah cukup dari penginapan, ini bagian kamu,” ujarnya.

article

Data Badan Pusat Statistik Raja Ampat mencatat 42.150 kunjungan wisata pada 2025, sekitar 87 persen di antaranya wisatawan mancanegara—naik dari 32.147 kunjungan pada 2024.

Kekhawatiran Tambang Nikel

Kesadaran menjaga alam membuat Mama Engge khawatir terhadap aktivitas tambang nikel. Bersama Perkumpulan Homestay Raja Ampat (Perjampat), ia menyuarakan kekhawatiran atas dampak lingkungan. Dari lima konsesi yang sempat beroperasi, per 2025 hanya PT Gag Nikel yang aktif di Pulau Gag, dengan pengawasan ketat di luar kawasan geopark.

Baginya, laut yang keruh dan terumbu karang yang rusak berarti hilangnya sumber hidup masyarakat. “Walau kitong usaha homestay, kitong hidup dari laut dan hutan,” katanya.

Mama Engge percaya orang asli Papua harus aktif melindungi tanahnya melalui kegiatan ekonomi yang menjaga alam. Supaya dunia tahu, Papua bukan tanah kosong—ada masyarakat yang hidup, menjaga, dan bergantung pada kelestariannya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Tria Adha
|
Editor:Imadudin Muhammad