TIMES MALANG, JAKARTA – Pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang janggal saat mengisi Pertamax? Rasanya kok beda, tarikannya nggak segalak biasanya, dan entah kenapa, mobil malah jadi sering protes dengan suara-suara aneh.
Bukan, ini bukan masalah hubungan Anda dengan kendaraan yang mulai renggang, tapi bisa jadi ada sesuatu di balik tangki BBM yang kita semua belum tahu.
Drama terbaru dalam dunia perbensinan Indonesia ini membawa kita pada dugaan pencampuran Pertamax dengan bahan bakar yang lebih murah. Kayak beli kopi susu premium tapi ternyata susunya lebih banyak daripada kopinya. Bedanya, yang ini harganya tetap premium, tapi isinya... ya, siapa yang tahu?
Kejaksaan Agung bahkan sudah menetapkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, sebagai tersangka. Katanya, ada alur cerita yang melibatkan BBM RON 90 yang diduga dicampur ke dalam Pertamax RON 92, lalu tetap dijual dengan harga yang lebih tinggi. Kalau benar begitu, ini bukan sekadar drama biasa, tapi thriller penuh intrik ala film Hollywood.
Netizen +62 Jadi Detektif Dadakan
Tentu saja, Pertamina buru-buru membantah, mengatakan bahwa Pertamax yang dijual tetap sesuai spesifikasi. Tapi tetap saja, publik terlanjur curiga. Netizen +62, yang memang terkenal jago menemukan teori konspirasi dari hal-hal kecil, langsung sibuk melakukan investigasi ala detektif swasta.
Ada yang mulai membandingkan suara mesin sebelum dan sesudah isi bensin, ada yang tiba-tiba jadi ahli oktan, dan ada juga yang bersumpah, “Perasaan mobil dan motor jadi lebih boros sejak ganti Pertamax!”
Ada juga yang mencoba metode lebih ilmiah—meneteskan Pertamax ke kertas dan membakarnya, seolah-olah sedang melakukan eksperimen kimia di laboratorium.
Tak sedikit yang langsung menyusun hipotesis liar, mulai dari teori "bensin rasa air galon" sampai dugaan kalau sebenarnya ini bagian dari rencana besar untuk melatih mesin kendaraan agar bisa minum apa saja.
Bahkan ada yang bercanda, mungkin sebentar lagi bakal ada promo: “Beli Pertamax gratis kopi tubruk.”
Munculnya Pertamax Green 95: Solusi atau Pengalihan Isu?
Di tengah keramaian, Pertamina justru meluncurkan karakter baru dalam sinetron ini: Pertamax Green 95. Katanya lebih ramah lingkungan karena dicampur dengan etanol dari tebu.
Wah, apakah ini jawaban atas masalah BBM yang selama ini kita hadapi? Atau jangan-jangan, ini hanya upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu utama? Terlepas dari semua itu, kita tetap ingin tahu: Kalau benar ada etanol dari tebu, apakah mobil kita jadi lebih manis setelah diisi?
Sebenarnya, penggunaan etanol dalam bahan bakar bukan hal baru. Di beberapa negara maju, campuran bioetanol memang sudah diterapkan sebagai langkah menuju energi yang lebih bersih.
Tapi yang jadi pertanyaan, apakah kita benar-benar siap dengan transisi ini? Jangan sampai nanti ada kejadian, setelah mengisi Pertamax Green 95, mobil jadi ketagihan dan harus minum es tebu setiap hari.
Konsumen Selalu Jadi Korban Kejutan
Publik pun terpecah. Ada yang optimis dan menyambut inovasi baru ini dengan penuh harapan, ada yang masih skeptis, khawatir bahwa ini hanya perubahan kemasan tanpa perubahan substansi. Yang jelas, dalam dunia BBM, kita sudah terlalu sering melihat “kejutan” yang kurang menyenangkan.
Yang paling bikin gemas tentu saja, kita sebagai konsumen selalu berada di pihak yang paling dirugikan. Bukan cuma kantong yang menjerit, tapi juga kendaraan yang bisa saja mulai ‘batuk-batuk’ karena bahan bakar yang tidak sesuai standar.
Sebagai rakyat yang setia mengantre di SPBU sambil berharap harga BBM turun meski tahu harapan itu sia-sia, kita berhak mendapatkan bahan bakar yang benar-benar sesuai dengan harga yang kita bayar. Jangan sampai kita terus-terusan jadi penonton di sinetron panjang yang episodenya nggak pernah ada ending-nya.
Bahkan, kalau kasus ini benar-benar terbukti, rasanya kita pantas dapat kompensasi. Minimal, kalau nggak diskon isi BBM, mungkin kita bisa dapat kupon undian gratis setahun naik kendaraan listrik?
Bisakah Ada Solusi?
Biar nggak terus-terusan jadi korban, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, transparansi itu penting. Jika Pertamina ingin kembali mendapatkan kepercayaan publik, keterbukaan soal kualitas bahan bakar harus dikedepankan. Jangan sampai kita hanya bisa menebak-nebak apa yang masuk ke dalam tangki kendaraan.
Kedua, pemerintah harus turun tangan lebih serius dalam mengawasi distribusi BBM. Jangan sampai ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk mengoplos bensin seenaknya. Bagaimana kalau dipasang CCTV di SPBU? Setidaknya kita bisa tahu apakah ada tangan-tangan jahil yang bermain di balik layar.
Ketiga, kita sebagai konsumen juga harus lebih kritis. Kalau ada yang aneh dengan performa kendaraan setelah isi bensin, jangan ragu untuk bersuara. Semakin banyak orang yang menyuarakan keanehan, semakin besar kemungkinan masalah ini benar-benar diperhatikan.
Keempat, mungkin sudah saatnya kita mulai mempertimbangkan alternatif energi lain, seperti kendaraan listrik atau bahan bakar hidrogen. Karena kalau terus-terusan begini, kita bakal terus terjebak dalam drama bahan bakar yang nggak ada habisnya.
Masa Depan Pertamax Campuran
Jadi, apakah ini bakal jadi episode terakhir dari drama Pertamax Campuran, atau justru akan berlanjut ke season berikutnya? Kita tunggu saja kejutan selanjutnya, sambil tetap waspada setiap kali mengisi tangki kendaraan. Karena di dunia yang penuh misteri ini, kita nggak pernah tahu apakah yang masuk ke dalam tangki itu benar-benar bahan bakar berkualitas... atau sekadar ilusi premium.
Yang jelas, kita sebagai konsumen tetap harus pintar. Jika mobil mulai rewel setelah isi bensin, kalau perlu bawa ke bengkel untuk cek kondisi mesinnya. Atau, kalau Anda punya teman mekanik yang jago, bisa langsung bertanya, “Bro, ini mobil gue masuk Pertamax apa masuk angin?”
Sampai saat itu tiba, mari kita lanjutkan petualangan kita mengisi bahan bakar dengan harapan besar: semoga kali ini, isi tangki benar-benar sesuai dengan yang kita bayar.(*)
Pewarta | : Rochmat Shobirin |
Editor | : Imadudin Muhammad |