Berita

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Respon 9 Isu Kebangsaan, Ada Soal Pemilu 2024

Minggu, 03 Desember 2023 - 20:18
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Respon 9 Isu Kebangsaan, Ada Soal Pemilu 2024 IMM se-Indonesia saat menggelar Tanwir membahas soal isu kebangsaan. (Foto: Dok. IMM/TIMES Indonesia)

TIMES MALANG, MALANGIkatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Indonesia memberikan respon dan sikap atas 9 isu kebangsaan yang saat ini panas dibicarakan. 9 isu kebangsaan tersebut diulas dalam agenda Tanwir yang diikuti oleh DPP dan DPD IMM se-Indonesia pada 1-3 Desember 2023.

Ketua Umum DPP IMM, Abdul Musawir Yahya mengatakan sembilan isu kebangsaan yang dibahas yakni mulai isu korupsi, pendidikan, kesenjangan sosial dan ekonomi, masalah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, krisis lingkungan, masalah generasi muda, masalah hukum, keagamaan hingga soal Pemilu 2024.

Sembilan isu tersebut menurutnya merupakan hal-hal penting yang harus direspons oleh IMM sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual. Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh elemen bangsa untuk berkolasi memajukan bangsa Indonesia.

"Penyelesaian sembilan permasalahan bangsa ini menjadi syarat untuk kemajuan bangsa. Oleh karena itu, semua elemen bangsa harus berkolabarasi menangani masalah-masalah itu jika mau memajukan Indonesia," ungkap Abdul, Minggu (3/12/2023).

IMM-se-Indonesia-Bd9ac3e60af791ff6.jpg

Dalam forum, IMM juga merumuskan sembilan pernyataan sikap sebagai respons atas sembilan isu kebangsaan yang tengah disorot.

Pertama, IMM mengkritik gurita korupsi yang terjadi di Indonesia. Merebaknya kasus korupsi di Indonesia dipandang sebagai akibat langsung dari meluruhnya integritas penegak hukum dan kuatnya intervensi kekuatan politik yang tebang pilih. 

Kedua, IMM juga mengkritik masalah pendidikan nasional yang dipandang sebagai penyebab utama merosotnya kualitas manusia Indonesia. Dalam hal ini, IMM memandang masalah pendidikan harus segera diselesaikan, baik secara sistemik maupun secara teknis.

Ketiga, IMM mengevaluasi masalah kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia yang lahir karena merosotnya kualitas pendidikan, minimnya akses sumber daya, kebijakan ekonomi yang kurang merata hingga menguatnya oligarki yang menguasai hajat hidup orang banyak. 

"Kami memandang pemerintah perlu memastikan pemerataan akses sumber daya, membangun kebijakan yang berkadilan dan perbaikan kualitas pendidikan yang setutur menunjang perbaikan ekonomi," lanjutnya.

Kemudian keempat, IMM memandang bahwa Indonesia masih marak diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Sebab ia menilai masih banyak kasus pelecehan seksual, pernikahan dini, masalah ketidakpastian nasib pekerja formal dan informal hingga keterwakilan perempuan dalam politik. 

"Melihat persoalan itu (kekerasan terhadap perempuan), IMM dalam hal ini memandang perlunya kerja sama pemerintah, aparat hukum dan kekuatan sipil untuk membangun kehidupan yang setara dan adil," katanya.

Kelima, IMM mencermati situasi politik jelang pemilu 2024 yang bergerak ke arah permisif, pragmatis dan magterialis yang menjadi sebab lahirnya praktik manipulasi, fitnah, adu domba dan narasi kebencian. 

"Disini, kami mendorong para kontestan, partai politik dan kekuatan sosial lainnya untuk tampil memberi Pendidikan politik dan ketauladanan para elite untuk mengedepankan prakti politik yang luhur serta berkeadaban.," tegasnya.

Keenam, IMM mengkaji banyak masalah berkaitan dengan lingkungan. Masalah tersebut menyangkut deforestrasi dan penggundulan hutan, polusi udara, pencemaran air, merebaknya sampah plastik.

Kemudian, rusaknya terumbu karang, buruknya pengelolaan limbah dan masalah yang lain. IMM memandang masalah tersebut niscaya harus diselesaikan dengan upaya membangun kebijakan publik yang mengedepankan kelangsungan alam semesta.

Ketujuh, IMM menilik masalah minimnya usaha untuk membina dan memberdayakan generasi muda. Kondisi ini yang menyebabkan generasi muda menjadi rentan dan terpinggirkan dari segi sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan. 

"Sidang Tanwir, kami menyepakti perlunya menyelesaikan masalah ini dengan upaya membangun kedaulatan generasi muda Indonesia," katanya.

Kedelapan, IMM mengkritik reduksi nilai nilai agama yang luhur menjadi kepentingan sesaat. Hal ini dipandang telah melahirkan intoleransi, sektarianisme, ideologi maut dan politisasi agama. Kondisi ini perlu diselesaikan dengan upaya menghadirkan agama yang inspiratif bagi kemajuan semesta.

Kesembilan, IMM menekankan perlunya menjadikan hukum sebagai panglima dalam menyikapi seluruh persoalan kebansgaan, dalam hal ini, negara dipandang wajib menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan begitu, Abdul pun berpesan agar seluruh internal IMM dapat mengimplementasikan sikapnya terhadap permasalahan-persamalahan bangsa yang tengah dibahas.

"Saya berpesan agar supaya di internal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah juga dapat mengimplementasikan sikap IMM ini baik di tingkat DPD, Cabang, Korkom hingga komisariat. Ini harus menjadi perhatin kita bersama," tandasnya.(*)

Pewarta : Rizky Kurniawan Pratama
Editor : Irfan Anshori
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.