https://malang.times.co.id/
Berita

Lebaran dan Sajian Tradisional: Makna Filosofis di Balik Ketupat, Opor, hingga Nastar yang Selalu Dinanti

Rabu, 02 April 2025 - 21:33
Lebaran dan Sajian Tradisional: Makna Filosofis di Balik Ketupat, Opor, hingga Nastar yang Selalu Dinanti Kuah gurih, rempah melimpah, dan taburan bawang goreng yang menggoda!  Siap-siap ketagihan dengan sajian khas yang satu ini (FOTO: Claresta Faustina Fedora/TIMES Indonesia)

TIMES MALANG, MALANGHari Raya Idul Fitri bukan hanya menjadi momen suci bagi umat Muslim untuk kembali ke fitrah, tetapi juga menjadi waktu yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga sambil menikmati hidangan khas Lebaran.

Dari ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang dan hati, lontong sayur, hingga bakso, setiap makanan yang tersaji di meja makan memiliki makna filosofis dan sejarah panjang yang telah diwariskan turun-temurun.

Perut-kenyang.jpgPerut kenyang, hati senang! Lihat saja hidangan Lebaran kita! (FOTO: Claresta Faustina Fedora/TIMES Indonesia)

Tak hanya hidangan berat, aneka kue kering seperti nastar dan kastengel juga menjadi sajian yang selalu dinantikan di hari raya. Keberagaman kuliner ini mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang sarat akan nilai kebersamaan dan rasa syukur.

Ketupat, hidangan ikonik Lebaran, lebih dari sekadar makanan. Dibuat dari beras yang dibungkus dalam anyaman daun kelapa muda, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Dalam budaya Jawa, kata "ketupat" berasal dari istilah ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Ini selaras dengan tradisi Idul Fitri yang menekankan permintaan maaf dan penyucian diri setelah sebulan penuh berpuasa. Bentuknya yang terjalin erat mencerminkan kompleksitas kehidupan, sementara bagian dalamnya yang putih bersih setelah dikupas melambangkan hati yang kembali suci.

Tekstur-lembut-ayam-dan-udang.jpgTekstur lembut ayam dan udang yang juicy berpadu sempurna dengan kuah yang gurih. Mantap! (FOTO: Claresta Faustina Fedora/TIMES Indonesia)

Tidak hanya itu, ketupat juga melambangkan kebersamaan karena pembuatannya sering kali dilakukan secara gotong royong oleh anggota keluarga atau tetangga sebelum hari raya tiba.

Ketupat tak lengkap tanpa pendampingnya, yaitu opor ayam. Hidangan berkuah santan ini memiliki cita rasa gurih dengan perpaduan rempah seperti lengkuas, kunyit, dan serai yang meresap dalam daging ayam yang empuk. Opor ayam bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kasih sayang dan kehangatan keluarga, di mana setiap anggota keluarga berkumpul dan menikmati hidangan ini bersama di hari yang penuh berkah.

Selain opor ayam, sambal goreng kentang dan hati menjadi pelengkap yang selalu hadir di meja Lebaran. Kentang yang dipotong dadu dan hati sapi atau ayam yang dimasak dengan bumbu pedas manis menciptakan perpaduan rasa yang kaya. Hidangan ini tak hanya menambah variasi menu, tetapi juga memiliki makna tersirat: rasa pedas dan gurihnya menggambarkan kehidupan yang penuh tantangan, namun tetap bisa dinikmati dengan rasa syukur.

Lontong sayur juga menjadi pilihan favorit di berbagai daerah sebagai hidangan khas Lebaran. Lontong yang kenyal dipadukan dengan sayur labu siam atau nangka muda dalam kuah santan memberikan cita rasa gurih yang menyegarkan. Setiap daerah memiliki variasinya sendiri, seperti lontong sayur Betawi yang disajikan dengan semur tahu dan telur, atau lontong sayur khas Sumatera yang memiliki kuah lebih kental dan pedas.

Tak hanya makanan utama, kudapan khas seperti lepet juga sering disajikan saat Lebaran. Terbuat dari ketan yang dicampur dengan kelapa parut dan kacang tanah, lalu dibungkus daun kelapa dan dikukus, lepet memiliki tekstur yang lengket, melambangkan eratnya hubungan persaudaraan dalam keluarga dan masyarakat.

Selain makanan khas Nusantara yang bercita rasa gurih, bakso juga menjadi salah satu hidangan yang sering muncul saat Lebaran. Meski lebih dikenal sebagai makanan sehari-hari, bakso memiliki peran istimewa dalam perayaan Idul Fitri. Banyak keluarga yang memilih untuk menyajikan bakso sebagai alternatif hidangan Lebaran karena rasanya yang lezat, mudah disajikan, dan disukai oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Semangkuk bakso dengan kuah kaldu yang hangat dan mie yang kenyal sering menjadi pilihan favorit saat bersantai setelah bersilaturahmi ke rumah sanak saudara.

Selain hidangan berat, kue kering menjadi sajian yang tak kalah dinantikan saat Lebaran. Meja tamu yang penuh dengan aneka kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, dan lidah kucing menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang datang bersilaturahmi.

Nastar, dengan isian selai nanas yang manis dan lembut, menjadi simbol harapan akan kehidupan yang manis dan penuh berkah. Kue berbentuk bulat kecil ini memiliki filosofi mendalam karena nanas dalam bahasa Belanda disebut "ananas," yang diartikan sebagai "emas" atau sesuatu yang berharga. Oleh karena itu, nastar sering dikaitkan dengan keberuntungan dan rezeki yang melimpah di tahun yang baru.

Sementara itu, kastengel yang gurih dan renyah mencerminkan keteguhan hati dan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kue berbentuk batang kecil ini dibuat dengan campuran keju yang melimpah, memberikan rasa khas yang selalu membuat orang ingin mencicipi lagi dan lagi.

Putri salju, dengan tekstur lembut dan balutan gula halus yang meleleh di mulut, melambangkan kesucian dan kebahagiaan yang datang setelah perjuangan panjang selama bulan Ramadan. Kue ini menggambarkan kebersihan hati yang telah kembali fitrah setelah sebulan penuh berpuasa dan beribadah.

Di era modern ini, tradisi kuliner Lebaran terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Inovasi dalam penyajian makanan mulai bermunculan, seperti penggunaan bahan yang lebih sehat atau metode memasak yang lebih praktis. Namun, esensi dari hidangan khas Lebaran tetap tidak berubah: menjadi simbol kebersamaan, kehangatan, dan rasa syukur atas berkah yang telah diberikan.

Lebaran bukan hanya tentang perayaan kemenangan, tetapi juga tentang menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap hidangan yang tersaji bukan sekadar makanan, melainkan sebuah cerita tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang terus dijaga. Dengan keberagaman kuliner yang ada, perayaan Idul Fitri di Indonesia semakin kaya akan makna, mempererat tali persaudaraan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dalam setiap suapan yang dinikmati bersama orang-orang terkasih. (*)

Pewarta : TIMES Magang 2025
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.