https://malang.times.co.id/
Ekonomi

Keripik Dominasi Ekspor UMKM Kota Malang, Nilainya Tembus Rp100 Miliar

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:53
Keripik Dominasi Ekspor UMKM Kota Malang, Nilainya Tembus Rp100 Miliar Pengemasan produksi keripik tempe di Malang. (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

TIMES MALANG, MALANG – Aneka produk olahan keripik menjadi komoditas unggulan yang paling banyak menyumbang nilai ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Malang. Produk-produk tersebut, khususnya keripik tempe, berhasil menembus pasar internasional dan diminati konsumen mancanegara.

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mencatat hingga 2025 sebanyak 95 UMKM telah berhasil mengekspor produknya ke luar negeri. Mayoritas pelaku usaha tersebut berasal dari sektor olahan keripik yang dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Uni Emirat Arab, Malaysia, hingga Selandia Baru.

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi mengatakan, permintaan terbesar dari pasar ekspor masih didominasi produk makanan ringan berbasis keripik.

“Produk yang sudah kami ekspor macam-macam, ada kriya, makanan seperti keripuk. Yang paling banyak permintaan aneka produk keripik, seperti keripik tempe,” ujar Eko, Kamis (22/1/2026).

Jika digabungkan dengan komoditas UMKM lainnya, nilai ekspor produk asal Kota Malang telah mencapai sekitar Rp100 miliar. Capaian tersebut menjadi modal optimisme Pemerintah Kota Malang untuk mendorong lebih banyak UMKM naik kelas pada 2026.

Diskopindag menargetkan 10 persen dari total sekitar 40.000 UMKM di Kota Malang, atau sekitar 4.000 pelaku usaha, dapat naik kelas pada 2026. UMKM dinyatakan naik kelas apabila mengalami peningkatan omzet tahunan secara signifikan.

“UMKM dikatakan naik kelas apabila mengalami peningkatan omzet per tahunnya, misal dari Rp500 juta menjadi Rp5 miliar per tahun,” ungkapnya.

Untuk mengejar target tersebut, Diskopindag akan memperkuat dan memperluas pola pendampingan yang selama ini telah berjalan. Pada 2026, satu tim pendamping direncanakan membina 50 hingga 100 UMKM secara berkelanjutan.

“Yang belum naik kelas akan kami ikut sertakan pendampingan di tahun 2026. Pendampingan akan lebih detail, mulai dari pengemasan produk, pemasaran, hingga kesiapan ekspor,” katanya.

Penguatan pendampingan dilakukan karena capaian UMKM naik kelas pada 2025 masih belum sesuai harapan. Dari target yang ditetapkan, baru sekitar 100 UMKM yang berhasil naik kelas.

Selain itu, Diskopindag juga akan memaksimalkan peran klinik ekspor untuk memperluas akses pasar luar negeri. Dengan kerja sama yang telah terjalin dengan sejumlah negara, pemerintah menargetkan jumlah UMKM Kota Malang yang mampu menembus pasar ekspor meningkat hingga 50 persen pada 2026.

“Klinik ekspor akan dimaksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami memiliki kerja sama dengan luar negeri,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Rizky Kurniawan Pratama
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.