Rebound IHSG Dinilai Belum Stabil di Tengah Risiko Global
TIMES Malang/Ilustrasi - IHSG ketika anjlok (FOTO: CNBC Indonesia)

Rebound IHSG Dinilai Belum Stabil di Tengah Risiko Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami volatilitas tinggi pada akhir Januari 2026.

TIMES Malang,Jumat 6 Februari 2026, 16:03 WIB
3.5K
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami volatilitas tinggi pada akhir Januari 2026. Tekanan pasar terlihat sejak awal pekan seiring melemahnya nilai tukar rupiah serta meningkatnya kekhawatiran investor terkait kondisi ekonomi global dan domestik. 

IHSG ditutup di level 8.320,56, atau anjlok 7,35 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya per 28 Januari lalu. Hal ini menjadi koreksi terdalam dalam beberapa waktu terakhir serta memicu aksi jual di pasar modal secara besar-besaran. Tekanan berlanjut pada 29 Januari menyebabkan IHSG melemah 1,06 persen ke level 8.232,20. 

Pada 30 Januari, pergerakan IHSG mulai positif dengan naik 1,18 persen ke posisi 8.329,60. Kendati rebound, pergerakan ini dinilai masih rapuh dan belum stabil sepenuhnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E., menilai penurunan tajam IHSG merupakan cerminan dari menurunnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha dan kondisi ekonomi. Pasar sahan adalah indikator espektasi dan kepercayaan investor terhadap suatu negara.

article
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E. (FOTO: FEB UB)

“Saham adalah kepercayaan investor kepada negara. Jika saham turun anjlok, maka kepercayaan dunia usaha dan investor juga menurun,” tuturnya. 

Pelemahan IHSG ini beriringan dengan lemahnya nilai tukar rupiah. Investor cenderung mengalihkan portofolionya ke instrumen investasi yang lebih aman seperti rmas, surat utang atau valuta asing apabila pasar saham mengalami koreksi. 

Di tengah gejolaknya pasar, Wildan kembali menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan. Cadangan devisa yang dinilai kuat mampu menajan pelemahan rupiaj agar tidak berkepanjangan. Meskipun begitu, ia juga mengingatkan bahwa faktor eksternal menjadi risiko yang tidak dapat diabaikan. 

Selain itu, potensi krisis ekonomi di kawasan Eropa, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian global lainnya menjadi pemicu guncangan ekonomi yang berdampak langsung pada pasar keuangan domestik dan membuat pergerakan IHSG sensitif.

“Pasar saham dinamis, tapi ketika dia shock ekonomi, maka akan ada lonjakan harga dan tekanan besar di pasar keuangan,” imbuhnya. 

Kecepatan dan ketepatan pemerintah dan regulator menjadi kunci dalam memulihkan IHSG. Perlunya perubahan regulasi pasar modal, penguatan transparansi dan penegakan aturan yang konsisten. 

Wildan juga menekankan urgensi dalam menciptakan iklim investasi yang lebih inklusif dan menarik, seperti memperkuat tata kelola perusahaan dan mempermudah perizinan usaha. Hal tersebut dinilai penting agar pasar modal kembali menjalankan fungsinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Ia juga mengingatkan untuk pelaku pasar agar tetap mengikuti perkembangan ekonomi global dan kebijakan domestik. 

 

Pewarta: Miranda Lailatul Fitria

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Tim Redaksi