Memahami Konsep Tawakal dalam Islam Agar Hati Lebih Tenang
Potret seseorang ketika berdoa. (FOTO: Freepik)

Memahami Konsep Tawakal dalam Islam Agar Hati Lebih Tenang

Ustadz Fahruddin Faiz jelaskan makna tawakal yang sering keliru. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil setelah ikhtiar maksimal. Ini kunci ketenangan hidup.

TIMES Malang,Jumat 27 Maret 2026, 23:22 WIB
46
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGMemahami konsep tawakal sering kali masih keliru di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang menganggap tawakal sebagai bentuk pasrah tanpa usaha. Padahal dalam ajaran Islam, tawakal justru harus diawali dengan ikhtiar atau usaha yang maksimal.

Ustadz Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa secara harfiah tawakal berasal dari kata wakil, yang berarti menyerahkan atau mempercayakan sesuatu kepada pihak lain. Dalam konteks keimanan, tawakal berarti menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah manusia melakukan usaha terbaiknya.

“Tawakal ini bisa menjadi solusi keresahan kita semua,” ujarnya.

Menurutnya, ikhtiar merupakan bagian yang berada dalam kuasa manusia, sedangkan hasil akhir berada dalam kuasa Allah. Karena itu, seseorang tidak dianjurkan langsung bertawakal tanpa terlebih dahulu melakukan usaha.

“Dalam Islam, tawakal harus dibarengi dengan ikhtiar. Kita berusaha semaksimal mungkin, setelah itu hasilnya kita serahkan kepada Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa banyak orang salah memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa tindakan. Misalnya, seseorang belum berusaha mencari pekerjaan atau jodoh, tetapi sudah mengatakan dirinya bertawakal. Cara berpikir seperti ini dinilai tidak tepat.

Tawakal justru dilakukan setelah seseorang berusaha secara maksimal. Sikap tersebut juga dilakukan sebelum mengetahui hasil akhir dari usaha yang telah dilakukan.

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang sedang belajar untuk ujian harus berusaha memahami materi, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan diri dengan baik. Setelah semua usaha dilakukan, barulah ia bertawakal dan menerima hasil nilai yang diperoleh.

Menurutnya, ikhtiar sebelum tawakal dapat menjadi sumber ketenangan batin. Seseorang yang telah berusaha secara maksimal biasanya akan merasa lebih lega, puas, dan bahagia dengan proses yang telah dijalani.

Sebaliknya, penyesalan sering kali muncul bukan karena hasil yang kurang baik, melainkan karena merasa tidak melakukan usaha secara maksimal sebelumnya.

“Sering kali orang menyesal bukan karena hasilnya jelek, tetapi karena merasa kurang ikhtiar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa orang yang sudah berusaha keras cenderung lebih mudah menerima hasil yang diperoleh, meskipun belum sesuai harapan. Bahkan kondisi tersebut bisa menjadi motivasi untuk belajar dan berusaha lebih baik di kesempatan berikutnya.

Dalam ajaran Islam, tawakal juga berkaitan erat dengan sikap ridha atau menerima ketetapan Allah. Dengan memahami hubungan antara ikhtiar dan tawakal secara tepat, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang sekaligus tetap bersemangat dalam berusaha. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Faizal R Arief