TIMES MALANG, MALANG – Di ruang kelas, guru mengajarkan anak tentang disiplin, tanggung jawab, dan cara menghormati perbedaan. Di halaman sekolah, anak belajar antre, bekerja sama, dan meminta maaf ketika bersalah. Namun, ketika bel pulang berbunyi dan gerbang sekolah tertutup, pendidikan tidak ikut selesai. Di situlah peran orang tua mengambil alih tongkat estafet, melanjutkan perlombaan panjang bernama pembentukan karakter.
Sekolah boleh menjadi pabrik pengetahuan, tetapi rumah adalah bengkel kepribadian. Di sanalah nilai-nilai yang ditanam guru diuji ketahanannya. Apakah sopan santun yang dipelajari di kelas tetap hidup di meja makan? Apakah kejujuran yang diajarkan di sekolah tetap berdiri tegak ketika anak memegang ponsel sendirian di kamar? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lebih banyak ditentukan oleh sikap orang tua, bukan oleh rapor atau piagam penghargaan.
Sering kali kita terjebak pada anggapan bahwa tugas mendidik karakter selesai ketika anak sudah bersekolah di tempat yang “baik”. Padahal, sekolah hanya menyumbang beberapa jam dalam sehari, sementara rumah menyumbang sebagian besar kehidupan anak. Guru bisa menanam benih, tetapi orang tualah yang menentukan apakah benih itu disiram atau dibiarkan kering di tanah retak.
Di era digital, tantangan ini semakin pelik. Anak-anak tumbuh di tengah layar yang lebih cerewet daripada nasihat orang tua, dan algoritma yang lebih rajin membujuk daripada guru paling sabar. Jika orang tua tidak hadir secara utuh, anak akan mencari rujukan nilai dari dunia maya, yang tidak selalu ramah, apalagi bijak. Akibatnya, sopan santun bisa tergantikan oleh sarkasme, empati dikikis oleh komentar kejam, dan solidaritas tenggelam dalam budaya pamer.
Mendidik sosial anak tidak selalu membutuhkan pidato panjang atau teori rumit. Ia justru tumbuh dari contoh-contoh kecil yang konsisten. Anak belajar cara berbicara dari cara orang tuanya berbicara. Anak belajar menghargai orang lain dari cara orang tuanya memperlakukan tukang parkir, pelayan warung, atau tetangga yang berbeda pendapat. Dalam hal ini, orang tua adalah buku pelajaran yang paling sering dibaca, meski jarang disadari.
Ketika guru mengajarkan toleransi di kelas, orang tua menguatkannya di rumah dengan tidak melontarkan ujaran kebencian. Ketika sekolah menanamkan nilai kerja sama, orang tua menegaskannya dengan tidak meremehkan orang lain di depan anak. Pendidikan karakter akan pincang jika sekolah mengajarkan kesantunan, sementara rumah mempertontonkan kemarahan tanpa kendali.
Sayangnya, banyak orang tua hari ini kelelahan oleh ritme hidup yang keras. Pekerjaan menyita waktu, kemacetan menggerogoti tenaga, dan gawai mencuri perhatian. Anak sering hanya mendapat sisa energi orang tuanya, bukan kehadiran utuh. Kita lupa bahwa satu jam mendengar cerita anak dengan sungguh-sungguh lebih berharga daripada seharian berada di rumah tanpa benar-benar hadir.
Sentuhan orang tua dalam pendidikan sosial anak bukan soal memanjakan, melainkan menemani. Menemani anak belajar menerima kekalahan, mengelola emosi, dan memahami bahwa dunia tidak selalu berpihak.
Anak yang tumbuh dengan pendampingan seperti ini tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga matang secara emosional. Ia tahu cara berdiri tanpa menginjak, bersuara tanpa melukai, dan berbeda tanpa memusuhi.
Kolaborasi antara guru dan orang tua seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Sekolah dan rumah perlu berbicara dalam bahasa nilai yang sama. Ketika guru menegur anak karena berbohong, orang tua tidak seharusnya membelanya secara membabi buta.
Ketika sekolah menanamkan disiplin, rumah tidak boleh meruntuhkannya dengan kelonggaran tanpa batas. Anak akan bingung jika nilai yang ia temui di sekolah berlawanan dengan yang ia jumpai di rumah.
Bangsa ini sering sibuk membicarakan kurikulum, metode belajar, dan peringkat pendidikan dunia. Tetapi lupa bahwa fondasi paling awal dan paling kuat justru dibangun di ruang keluarga. Karakter sosial anak bukan hasil satu mata pelajaran, melainkan hasil dari ribuan interaksi kecil: cara orang tua menegur, memeluk, mendengar, dan memberi teladan.
Guru dan orang tua adalah dua sayap yang membuat anak mampu terbang seimbang. Guru memberi arah, orang tua memberi daya tahan. Tanpa salah satunya, penerbangan itu akan oleng. Jika kita menginginkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab, maka tangan orang tua harus terus terulur setelah tangan guru selesai menuntun.
Karena di sanalah masa depan diam-diam dibentuk: bukan hanya di ruang kelas yang rapi, tetapi di ruang keluarga yang hangat, tempat anak belajar menjadi manusia sebelum menjadi siapa pun yang ia cita-citakan. (*)
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |