TIMES MALANG, MALANG – Di banyak rumah hari ini, ruang tamu telah berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat menjamu tamu, melainkan gudang kecil berisi kardus paket, plastik pembungkus, dan printer resi yang berdengung sejak pagi.
Di sudut ruangan, seorang ibu membalas pesan pelanggan sambil mengaduk sayur di dapur. Di teras, seorang ayah memotret produk dengan latar kain polos, berharap algoritma hari ini sedang ramah. Inilah wajah baru UMKM digital: usaha yang tumbuh di antara rak sepatu anak dan meja belajar yang sempit.
Transformasi digital telah membuka pintu rezeki bagi jutaan keluarga. Pasar tidak lagi harus dicari dengan kaki, cukup dengan sinyal. Namun, di balik kemudahan itu, muncul persoalan yang jarang dibicarakan: bagaimana pola asuh anak bertumbuh di tengah rumah yang sekaligus menjadi kantor, gudang, dan studio konten.
UMKM digital adalah berkah ekonomi, tetapi bisa menjadi ujian emosional. Anak-anak tumbuh menyaksikan orang tuanya lebih sering menatap layar daripada wajah mereka sendiri. Nada notifikasi kadang lebih cepat dijawab daripada panggilan “Bu” atau “Pak” yang lirih dari ruang sebelah. Rumah menjadi etalase, sementara anak sering merasa seperti pengunjung yang menunggu giliran diperhatikan.
Banyak orang tua UMKM digital bekerja tanpa jam kantor. Pagi membalas chat, siang mengemas paket, malam live streaming, dini hari mengecek laporan penjualan. Roda ekonomi berputar tanpa henti, tetapi jam kebersamaan keluarga sering tergerus perlahan, seperti pantai yang digerus ombak kecil namun pasti.
Di sinilah pola asuh diuji. Anak tidak hanya membutuhkan biaya sekolah dan uang jajan. Mereka membutuhkan cerita sebelum tidur, tatapan yang mendengarkan, dan kehadiran yang tidak terpotong oleh bunyi notifikasi. Ketika perhatian orang tua terbagi terlalu lama, anak belajar satu hal berbahaya: bahwa ia harus bersaing dengan layar untuk dianggap penting.
Namun, UMKM digital tidak selalu berarti menjauh dari keluarga. Justru di tangan yang bijak, ia bisa menjadi ruang belajar sosial yang luar biasa. Anak bisa melihat langsung arti kerja keras, kejujuran dalam transaksi, dan kesabaran menghadapi komplain pelanggan. Mereka menyaksikan bahwa uang tidak jatuh dari langit, tetapi lahir dari keringat, strategi, dan ketekunan.
Masalah muncul ketika usaha mengambil seluruh ruang batin orang tua. Ketika omzet menjadi topik utama meja makan, sementara perasaan anak hanya menjadi catatan kaki. Pola asuh berubah menjadi pola “tunda”: nanti saja bermain, nanti saja mendengar, nanti saja memeluk sementara “nanti” itu terus diundur oleh target penjualan.
Anak-anak dari keluarga UMKM digital sering tumbuh mandiri sebelum waktunya. Mereka terbiasa mengerjakan tugas sendiri, makan sendiri, bahkan menghibur diri sendiri. Kemandirian ini tampak seperti kelebihan, tetapi jika berlebihan, ia berubah menjadi kesepian yang pandai menyamar.
Pola asuh yang sehat di tengah UMKM digital menuntut kesadaran baru: bahwa keberhasilan usaha tidak boleh dibayar dengan jarak emosional. Orang tua perlu menetapkan “jam offline keluarga”, waktu sakral tanpa transaksi, tanpa chat pelanggan, tanpa layar. Bukan sehari penuh, mungkin hanya satu jam, tetapi dilakukan dengan utuh tanpa mata melirik ponsel, tanpa jari sibuk mengetik.
Anak tidak menuntut rumah besar atau liburan mahal. Mereka menuntut hal yang lebih sederhana dan lebih sulit sekaligus: perhatian. Sebuah komoditas yang justru semakin langka di era serba digital.
UMKM digital juga bisa menjadi sekolah karakter jika orang tua melibatkan anak secara proporsional. Mengajak mereka membantu mengemas barang, mengajari cara berbicara sopan pada pelanggan, menjelaskan arti tanggung jawab terhadap pesanan. Bukan menjadikan anak buruh kecil, tetapi menjadikan mereka murid kehidupan.
Di situlah anak belajar bahwa bisnis bukan sekadar angka, tetapi tentang kepercayaan. Bahwa reputasi dibangun dari kejujuran. Bahwa keuntungan sejati bukan hanya saldo rekening, tetapi hati yang tidak merasa ditinggalkan.
Bangsa ini sering memuji UMKM sebagai tulang punggung ekonomi. Itu benar. Tetapi jangan sampai tulang punggung itu berdiri tegak sementara tulang rusuk keluarga retak perlahan. Kita membutuhkan UMKM yang kuat secara finansial, sekaligus keluarga yang utuh secara emosional.
Anak tidak akan mengingat berapa omzet orang tuanya pada tahun tertentu. Mereka akan mengingat apakah ayahnya sempat mendengar cerita mereka, apakah ibunya sempat duduk menemani ketika dunia terasa berat. Di sanalah laporan keuangan sejati disusun: di dalam ingatan anak, bukan di spreadsheet penjualan.
UMKM digital boleh tumbuh setinggi langit algoritma, tetapi rumah harus tetap berpijak di tanah kasih sayang. Sebab usaha bisa jatuh bangun dan bangkit kembali, sementara masa kecil anak hanya lewat sekali, tanpa fitur “ulang pesanan”.
***
*) Oleh : Burhanuddin, Kader PMII Cabang Kota Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |