https://malang.times.co.id/
Opini

Bahagia Menjadi Guru

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:26
Bahagia Menjadi Guru Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

TIMES MALANG, MALANG – Bahagia menjadi guru terdengar seperti kalimat sederhana, tetapi di negeri ini ia sering terasa seperti puisi yang dibaca di tengah antrean panjang kebutuhan hidup. Guru kerap dipotret sebagai sosok penuh pengabdian, ikhlas, sabar, dan kuat menahan lapar, seolah-olah kebahagiaan bisa tumbuh subur hanya dengan pupuk ketulusan, tanpa perlu air kesejahteraan. 

Namun, di balik papan tulis yang penuh kapur dan spidol, ada manusia biasa yang juga ingin hidup layak, tertawa tanpa cemas, dan pulang ke rumah tanpa membawa beban yang lebih berat dari tas kerjanya.

Menjadi guru adalah memilih jalan sunyi yang ramai. Sunyi karena jerih payahnya jarang dipuji, ramai karena setiap hari ia dikepung ratusan pasang mata yang menunggu arah. 

Guru berdiri seperti mercusuar di pantai berkabut: sinarnya kecil, tapi menentukan banyak kapal agar tidak karam. Ia menanam huruf demi huruf, angka demi angka, seperti menanam padi di ladang waktu, menunggu panen yang mungkin baru dinikmati orang lain puluhan tahun kemudian.

Kebahagiaan guru sering lahir bukan dari angka di slip gaji, melainkan dari momen-momen kecil yang tak tercatat dalam laporan kinerja: ketika murid yang dulu gagap membaca akhirnya mampu mengeja namanya sendiri, ketika anak yang dikenal bandel tiba-tiba menyalami dengan sopan, atau ketika mantan murid datang membawa cerita bahwa hidupnya berubah karena satu kalimat sederhana di kelas. Di situlah bahagia guru tumbuh diam-diam, seperti rumput liar yang menembus retakan beton.

Namun, romantisme ini tidak boleh menutup mata kita dari kenyataan. Terlalu sering kebahagiaan guru dipaksa menjadi kewajiban moral, bukan hak sosial. Guru diminta tersenyum meski honor tak seberapa, diminta sabar meski statusnya tak kunjung jelas, diminta setia meski sistem kerap lupa. Di banyak daerah, guru honorer hidup seperti lilin di siang bolong: terus menyala, tetapi hampir tak terlihat.

Bahagia menjadi guru seharusnya bukan sekadar soal hati yang lapang, tetapi juga perut yang kenyang dan masa depan yang terang. Sebab kebahagiaan yang terus diperas dari penderitaan lambat laun berubah menjadi kelelahan kolektif. Guru bisa mencintai profesinya, tetapi cinta pun perlu dirawat dengan keadilan.

Meski begitu, banyak guru tetap memilih bertahan. Mereka mengajar seperti menenun harapan dengan benang yang tipis. Setiap hari merangkai kesabaran, menambal lubang-lubang kecil dalam sistem pendidikan dengan tenaga sendiri. Di ruang kelas sederhana, mereka berperan sebagai orang tua kedua, psikolog dadakan, sekaligus motivator tanpa panggung.

Menjadi guru berarti berdamai dengan ketidaksempurnaan. Tidak semua murid akan menjadi juara kelas, tidak semua anak akan mengingat pelajaran, dan tidak semua usaha akan berbuah cepat. Tetapi guru tetap menanam, sebab ia percaya masa depan tidak tumbuh dari tanah yang kosong.

Kebahagiaan guru juga terletak pada kesadaran bahwa pekerjaannya melampaui statistik dan grafik pembangunan. Ia tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk cara manusia memandang dunia. Dari tangannya lahir dokter yang jujur, petani yang cerdas, pemimpin yang beretika, dan mungkin juga pengkritik yang berani.

Ironisnya, di negeri yang gemar memuja gelar, guru sering diposisikan di barisan belakang. Ia dipanggil “pahlawan tanpa tanda jasa”, sebuah gelar yang terdengar mulia tetapi kadang terasa seperti alasan halus untuk tidak memberi upah yang layak. Padahal, pahlawan juga butuh makan, juga butuh rumah, juga ingin menyekolahkan anaknya tanpa berutang pada tetangga.

Bahagia menjadi guru pada akhirnya adalah percampuran antara idealisme dan ketabahan. Ia bukan bahagia yang mewah, tetapi bahagia yang keras kepala: tetap hidup meski dihantam realitas. Bahagia yang tidak selalu tertawa, tetapi memilih bertahan.

Mungkin kebahagiaan guru akan lebih utuh jika negeri ini belajar sedikit lebih adil: menghargai bukan hanya dengan slogan, tetapi dengan kebijakan; bukan hanya dengan pujian, tetapi dengan perlindungan; bukan hanya dengan seremoni Hari Guru, tetapi dengan keberpihakan nyata sepanjang tahun.

Sebab guru yang bahagia bukan hanya mengajar lebih baik, tetapi juga menularkan harapan dengan lebih jujur. Dan dari ruang kelas yang dipenuhi guru-guru yang bahagia, peradaban tidak tumbuh sebagai bangunan megah yang rapuh, melainkan sebagai rumah panjang yang kokoh, tempat generasi demi generasi belajar menjadi manusia.

***

*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.