https://malang.times.co.id/
Opini

Gerbang Kemajuan Pendidikan

Rabu, 21 Januari 2026 - 07:29
Gerbang Kemajuan Pendidikan Fatkhurrozi, Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Pendidikan adalah gerbang. Ia tidak sekadar pintu kayu dengan engsel besi, melainkan pintu nasib yang menentukan apakah sebuah bangsa melangkah ke halaman peradaban atau tersesat di lorong ketertinggalan. Di sanalah masa depan berdiri, mengetuk pelan, menunggu dibukakan oleh kebijakan yang berpihak dan kesadaran yang jujur.

Sayangnya, gerbang itu sering tampak megah dari luar, tetapi rapuh dari dalam. Kita sibuk mengecat dinding sekolah dengan slogan “unggul dan berkarakter”, tetapi lupa memperkuat fondasi guru, kurikulum, dan keadilan akses. Akibatnya, banyak anak berdiri di depan pintu pendidikan seperti tamu di pesta besar: mendengar musik kemajuan, tetapi tak semua diberi kunci untuk masuk.

Kemajuan pendidikan kerap disalahartikan sebagai tumpukan gedung baru, layar digital di kelas, atau deretan angka statistik kelulusan. Padahal, kemajuan sejati tidak selalu berbunyi bising. Ia sering hadir diam-diam: ketika seorang guru tetap mengajar dengan sabar meski gajinya tersendat, ketika seorang murid dari desa terpencil berani bermimpi menjadi ilmuwan, atau ketika sekolah memilih menanamkan kejujuran meski dunia di luar sedang memuja kelicikan.

Gerbang pendidikan sejatinya dijaga oleh tiga kunci: akses, kualitas, dan keadilan. Tanpa akses, pendidikan menjadi hak eksklusif seperti klub elit. Tanpa kualitas, ia berubah menjadi pabrik ijazah. Dan tanpa keadilan, ia hanya melanggengkan jurang sosial dengan nama yang lebih halus.

Di banyak sudut negeri, anak-anak masih berjalan berjam-jam menuju sekolah, menyeberangi sungai seperti menantang nasib setiap pagi. Di sisi lain, ada ruang kelas ber-AC yang muridnya mengeluh karena Wi-Fi lambat. Dua dunia ini hidup dalam satu negara, berdampingan tetapi tak saling menyentuh. Pendidikan kita seperti gerbang yang dibuka lebar ke satu arah, namun berkarat dan terkunci di arah lainnya.

Teknologi sering dipuja sebagai kunci emas kemajuan pendidikan. Padahal, teknologi hanyalah kendaraan, bukan tujuan. Tanpa guru yang sejahtera, tanpa kurikulum yang membebaskan berpikir, dan tanpa lingkungan yang menghargai etika, layar pintar hanya akan menjadi papan tulis mahal yang memantulkan kebingungan. Digitalisasi tanpa humanisasi hanyalah mesin tanpa nurani.

Kemajuan pendidikan juga tidak lahir dari kurikulum yang gemuk oleh teori, tetapi kurus oleh makna. Murid dipaksa menghafal banyak hal, tetapi jarang diajak memahami mengapa mereka belajar. 

Sekolah berubah menjadi lintasan lomba nilai, bukan taman tempat akal dan karakter tumbuh berdampingan. Kita melatih anak menjadi juara kelas, tetapi lupa mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Padahal, gerbang pendidikan seharusnya membuka jalan bagi keberanian berpikir, bukan hanya kepatuhan menghafal. Ia harus melahirkan generasi yang mampu bertanya tanpa takut, berbeda tanpa dibenci, dan jujur tanpa ditertawakan. Jika sekolah hanya melatih anak untuk lulus ujian, maka ia sedang mempersiapkan masa lalu, bukan masa depan.

Di tengah semua itu, guru adalah penjaga gerbang yang paling sering dilupakan. Mereka berdiri di sana sejak pagi, menahan hujan kebijakan yang tak menentu dan panas tuntutan administrasi yang tak berujung. Namun, banyak yang menjaga pintu masa depan dengan kantong kosong dan pundak yang hampir patah. Sulit berharap gerbang pendidikan kokoh jika penjaganya sendiri dibiarkan rapuh.

Kemajuan pendidikan tidak lahir dari pidato seremonial atau laporan penuh grafik berwarna. Ia tumbuh dari keberanian mengakui kekurangan, dari kebijakan yang mau mendengar suara sekolah di pelosok, dan dari kesediaan negara menaruh pendidikan di atas proyek mercusuar.

Bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki gedung tinggi, tetapi yang memiliki ruang kelas yang memanusiakan manusia. Negara yang maju bukan hanya yang mampu meluncurkan satelit, tetapi yang mampu memastikan anak nelayan, anak petani, dan anak buruh memiliki peluang yang sama untuk bermimpi.

Gerbang kemajuan pendidikan tidak dibuka oleh satu tangan saja. Ia perlu didorong bersama: oleh negara yang adil, guru yang dihargai, orang tua yang peduli, dan masyarakat yang berhenti memandang sekolah sekadar tempat menitipkan anak.

Jika tidak, pendidikan hanya akan menjadi pintu putar: murid masuk dengan harapan, keluar dengan kebingungan, lalu kembali lagi sebagai generasi yang mengulangi kesalahan yang sama.

***

*) Oleh : Fatkhurrozi, Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.