Belajar yang Menggembirakan
TIMES Malang/Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

Belajar yang Menggembirakan

Jika kita ingin pendidikan yang benar-benar melahirkan masa depan, mari kita mulai dari satu hal sederhana: membuat belajar kembali menggembirakan. Karena di dalam kegembiraan itu, ada harapan.

TIMES Malang,Kamis 5 Februari 2026, 22:49 WIB
10.1K
H
Hainor Rahman

MalangAda satu kenyataan pahit yang sering kita lihat di dunia pendidikan: belajar terlalu sering dipersepsikan sebagai beban. Seolah-olah sekolah adalah ruang tahanan yang hanya berbeda nama, sementara buku-buku pelajaran menjadi jeruji yang memaksa anak-anak duduk rapi, diam, dan patuh. 

Di banyak tempat, belajar bukan lagi perjalanan yang menyenangkan, melainkan perlombaan yang melelahkan. Anak-anak dipaksa berlari, meski mereka belum sempat belajar berjalan.

Padahal, hakikat belajar bukanlah penderitaan. Belajar seharusnya menjadi pengalaman yang menggembirakan, sebuah proses yang membuat jiwa bertumbuh, bukan sekadar angka rapor yang memburu. 

Belajar yang menggembirakan adalah belajar yang menghadirkan rasa ingin tahu, menyalakan gairah, dan memberi ruang bagi anak untuk merasakan bahwa ilmu adalah cahaya, bukan tekanan.

Kita sering lupa, bahwa anak-anak lahir dengan rasa penasaran yang luar biasa. Mereka bertanya tentang langit, tentang hujan, tentang semut yang berbaris, tentang mengapa malam gelap dan siang terang. Mereka adalah peneliti kecil yang tak pernah lelah menyusun hipotesis. 

Namun sayangnya, rasa penasaran itu perlahan layu ketika mereka masuk ke sistem pendidikan yang terlalu kaku. Pertanyaan dianggap mengganggu, diskusi dianggap melawan, dan kreativitas dianggap mengacaukan.

Di situlah letak masalahnya. Banyak sekolah lebih sibuk mengejar target kurikulum daripada mengejar kebahagiaan belajar. Anak-anak diajari untuk menghafal, bukan memahami. Mereka didorong mengejar nilai, bukan mengejar makna. Akhirnya sekolah menjadi pabrik yang memproduksi lulusan seragam: sama cara berpikirnya, sama gaya belajarnya, sama jawabannya, dan sama ketakutannya—takut salah.

Belajar yang menggembirakan tidak berarti tanpa disiplin. Ia tetap membutuhkan ketekunan, proses, dan perjuangan. Namun bedanya, perjuangan itu tidak membuat anak merasa hancur. Ia membuat anak merasa tumbuh. Sama seperti seorang petani yang menanam padi; ada panas matahari, ada lumpur yang melekat, tetapi ada harapan yang terus hidup. Anak-anak pun demikian. Mereka bisa lelah, tetapi tidak boleh kehilangan semangat. Mereka boleh gagal, tetapi tidak boleh kehilangan percaya diri.

Dalam pendidikan, kegembiraan adalah bahan bakar. Tanpa kegembiraan, ilmu hanya akan menjadi tumpukan teori yang mati. Dengan kegembiraan, ilmu berubah menjadi api yang menyala. Anak yang belajar dengan bahagia akan lebih cepat memahami, lebih kuat mengingat, dan lebih berani mengeksplorasi. 

Mereka tidak belajar karena takut dihukum, melainkan karena ingin tahu. Mereka tidak membaca karena terpaksa, melainkan karena menemukan kenikmatan dalam kata-kata.

Sayangnya, di banyak sekolah kita, suasana belajar masih terlalu tegang. Guru datang seperti hakim yang membawa palu aturan, bukan seperti pembimbing yang membawa obor pengetahuan. Ruang kelas berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi ketakutan. Padahal pendidikan bukan tentang membungkam, tetapi tentang membangkitkan. Bukan tentang mematikan rasa ingin tahu, tetapi tentang merawatnya agar terus tumbuh.

Belajar yang menggembirakan membutuhkan guru yang mampu menjadi sahabat intelektual. Guru bukan hanya pengajar, tetapi penghidup suasana. Ia bukan sekadar penyampai materi, tetapi pencipta energi. 

Guru yang baik tidak hanya bertanya “berapa nilai kamu?”, tetapi juga bertanya “apa yang kamu rasakan ketika belajar?”. Guru yang hebat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dalam pengaruhnya.

Kita membutuhkan sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun ekosistem psikologis yang sehat. Sebab anak yang cerdas tetapi tertekan, pada akhirnya akan kehilangan arah. 

Anak yang berprestasi tetapi tidak bahagia, akan tumbuh menjadi generasi yang mudah rapuh. Pendidikan seharusnya membangun manusia seutuhnya: akalnya tajam, hatinya lembut, dan jiwanya kuat.

Belajar yang menggembirakan juga berarti memberi ruang pada perbedaan. Tidak semua anak harus pintar matematika. Tidak semua anak harus mahir bahasa. Ada yang unggul di seni, ada yang kuat di olahraga, ada yang cemerlang dalam kepemimpinan, ada yang luar biasa dalam empati. 

Tetapi sistem pendidikan sering kali memaksakan satu standar tunggal. Anak yang tidak sesuai standar dianggap gagal. Padahal mungkin bukan anaknya yang gagal, melainkan sistemnya yang sempit.

Jika sekolah adalah taman, maka anak-anak adalah bunga yang beragam. Ada bunga yang tumbuh cepat, ada yang tumbuh pelan. Ada yang mekar di musim hujan, ada yang indah di musim panas. Tetapi taman yang baik tidak memaksa semua bunga mekar pada hari yang sama. Taman yang baik merawat semuanya dengan sabar. Begitulah pendidikan seharusnya berjalan: merawat, bukan memaksa.

Belajar yang menggembirakan juga perlu menghadirkan konteks kehidupan nyata. Anak-anak akan lebih mudah memahami jika ilmu tidak dipisahkan dari realitas. Mereka akan lebih tertarik jika pelajaran dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari. 

Mengajarkan ekonomi bisa lewat cerita pasar, mengajarkan biologi bisa lewat kebun sekolah, mengajarkan matematika bisa lewat praktik sederhana dalam kehidupan. Ketika ilmu terasa dekat, belajar menjadi hangat. Ketika ilmu terasa jauh, belajar menjadi dingin.

Di era digital, belajar menggembirakan juga menuntut kreativitas metode. Teknologi seharusnya bukan ancaman, tetapi peluang. Media interaktif, video edukatif, simulasi, hingga AI bisa menjadi alat bantu pembelajaran yang menarik. Tetapi teknologi tidak akan berarti jika pola pikir pendidikan tetap kuno. 

Jangan sampai sekolah kalah cepat dari dunia luar. Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang dinamis, maka sekolah harus menjadi ruang yang hidup, bukan ruang yang membeku.

Yang paling penting, belajar menggembirakan harus berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Anak-anak bukan mesin nilai. Mereka punya emosi, mimpi, dan ketakutan. Mereka bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan kasih sayang dan pengakuan. Mereka ingin didengar, ingin dipahami, ingin dihargai.

Ketika belajar dilakukan dengan gembira, sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan. Sekolah menjadi rumah kedua yang ramah. Guru bukan lagi sosok yang membuat trauma, tetapi menjadi inspirasi. Buku bukan lagi beban, tetapi menjadi jendela dunia. Dan ujian bukan lagi momok, melainkan bagian dari proses menuju kedewasaan.

Belajar yang menggembirakan adalah investasi peradaban. Sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh generasi yang tertekan, tetapi oleh generasi yang tumbuh dengan semangat, keberanian, dan kebahagiaan. Ilmu tidak akan berkembang di tanah yang penuh ketakutan. Ilmu hanya akan tumbuh subur di tanah yang merdeka.

Maka jika kita ingin pendidikan yang benar-benar melahirkan masa depan, mari kita mulai dari satu hal sederhana: membuat belajar kembali menggembirakan. Karena di dalam kegembiraan itu, ada harapan. Di dalam harapan itu, ada cahaya. Dan dari cahaya itulah, masa depan bangsa bisa ditenun dengan lebih bermakna.

***

*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Tim Redaksi