TIMES MALANG, MALANG – Di tengah gedung-gedung yang tumbuh seperti jamur setelah hujan dan layar gawai yang menyala nyaris 24 jam, ladang-ladang perlahan kehilangan suara mudanya. Cangkul semakin jarang dipegang tangan yang masih kuat, sementara sawah lebih sering diwarisi sunyi. Padahal, di sanalah urat nadi bangsa mengalir: pangan. Tanpa pertanian yang hidup, negara sebesar apa pun hanya akan berdiri di atas perut yang kosong.
Generasi muda hari ini tumbuh dalam dunia yang memuja kecepatan, gemerlap kota, dan pekerjaan ber-AC. Pertanian kerap dipersepsikan sebagai masa lalu yang berdebu pekerjaan keras, hasil pas-pasan, dan masa depan yang buram. Sawah dianggap simbol keterbelakangan, bukan ruang harapan. Akibatnya, sektor yang seharusnya menjadi tulang punggung justru ditinggalkan oleh tulang-tulang mudanya sendiri.
Padahal, ketahanan pangan bukan sekadar soal beras di gudang Bulog atau impor yang datang saat panik. Ia adalah tentang keberlanjutan: siapa yang menanam hari ini, siapa yang memanen esok, dan siapa yang memastikan dapur rakyat tetap mengepul. Tanpa regenerasi petani, pertanian hanya tinggal cerita dalam buku IPS, bukan kenyataan di tanah air.
Masalahnya bukan semata pada minat generasi muda, tetapi juga pada cara negara dan masyarakat memperlakukan profesi petani. Selama bertahun-tahun, petani diposisikan seperti aktor figuran dalam panggung pembangunan: penting tapi jarang dipuji, vital tapi minim perlindungan. Harga panen sering jatuh, pupuk langka, lahan tergerus beton, sementara kebijakan lebih sering turun seperti hujan asam datang tiba-tiba, terasa perih, lalu menghilang tanpa solusi.
Dalam kondisi seperti itu, wajar jika anak muda memilih pergi. Mereka mencari ladang lain: kantor, startup, pabrik, bahkan negara lain. Pertanian tak lagi terlihat sebagai jalan hidup, melainkan jalan buntu. Padahal, di banyak negara, pertanian justru telah bertransformasi menjadi ruang inovasi bertemu dengan teknologi, data, bisnis digital, dan riset ilmiah.
Generasi muda sesungguhnya bukan alergi pada tanah. Mereka alergi pada ketidakpastian. Mereka tidak takut kotor, tetapi takut miskin. Tidak menolak bekerja keras, tetapi menolak hidup tanpa jaminan. Maka, mengajak anak muda kembali ke pertanian tidak cukup dengan slogan heroik atau romantisme “petani pahlawan pangan.” Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang adil dan menjanjikan.
Pertanian harus dipindahkan dari citra “kerja kasar” ke “industri masa depan.” Dari cangkul ke sensor tanah, dari tebak cuaca ke analisis data, dari tengkulak ke marketplace digital. Ketika sawah bertemu dengan teknologi, traktor bertemu algoritma, dan pupuk bertemu riset, di situlah generasi muda mulai melihat harapan baru.
Beberapa anak muda sudah memulainya. Mereka menanam dengan sistem hidroponik di atap rumah, mengelola kebun dengan aplikasi, menjual hasil panen lewat media sosial, bahkan mengekspor produk lokal dengan kemasan modern.
Mereka membuktikan bahwa bertani tidak identik dengan miskin, dan desa tidak identik dengan tertinggal. Sayangnya, mereka masih minoritas, seperti lilin kecil di tengah padang gelap.
Negara seharusnya hadir bukan hanya sebagai penonton yang bertepuk tangan saat panen raya, tetapi sebagai arsitek masa depan pertanian. Akses lahan bagi petani muda, modal murah, jaminan harga, asuransi gagal panen, pendidikan pertanian modern, dan infrastruktur desa adalah prasyarat dasar. Tanpa itu, ajakan kepada generasi muda hanya akan terdengar seperti pidato kosong di ladang yang kering.
Lebih dari itu, narasi tentang pertanian perlu diubah. Anak muda perlu diyakinkan bahwa menanam padi sama terhormatnya dengan menulis kode program. Bahwa mengelola kebun sama strategisnya dengan mengelola perusahaan. Bahwa memberi makan bangsa adalah bentuk kepemimpinan paling sunyi, tetapi paling menentukan.
Ketahanan pangan bukan proyek lima tahunan, melainkan kontrak panjang antar generasi. Jika hari ini generasi muda tidak turun ke sawah, maka 20 tahun lagi bangsa ini akan bergantung pada kapal-kapal impor untuk sekadar makan nasi. Dan saat itu, kedaulatan hanya tinggal jargon dalam pidato kenegaraan.
Maka, pertanyaan sesungguhnya bukan “mengapa anak muda enggan bertani,” tetapi “mengapa kita membiarkan pertanian tak layak dicintai.” Generasi muda adalah benih. Jika ditanam di tanah kebijakan yang kering, ia akan layu. Tetapi jika dirawat dengan keadilan, teknologi, dan harapan, ia akan tumbuh menjadi hutan ketahanan pangan.
Di tangan merekalah masa depan dapur bangsa ditentukan. Dan di ladang-ladang itulah, sejatinya, kedaulatan negara sedang dipertaruhkan sunyi, berlumpur, tetapi sangat menentukan.
***
*) Oleh : Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |