Mahasiswa Hukum UNISMA Tembus Forum Internasional, Bawa Gagasan Santri sebagai Warga Global
Mahasiswa Fakultas Hukum UNISMA, Shalwaa Kia, terpilih dalam International Conference Santri Mendunia 2026

Mahasiswa Hukum UNISMA Tembus Forum Internasional, Bawa Gagasan Santri sebagai Warga Global

Mahasiswa Fakultas Hukum UNISMA Malang, Shalwaa Kia, terpilih dalam International Conference Santri Mendunia 2026 dan mempresentasikan konsep santri sebagai warga global di forum Asia Tenggara.

TIMES Malang,Selasa 2 Juni 2026, 20:32 WIB
357
I
Imadudin Muhammad

MALANGDi tengah tantangan global yang semakin kompleks, pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat internasional tanpa kehilangan identitas keislaman dan nilai kebangsaan. Gagasan itu dibawa oleh Maulayya Shalwaa Alfajry Kia, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA Malang), saat tampil dalam International Conference Santri Mendunia 2026 yang berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Mahasiswa yang akrab disapa Shalwaa Kia tersebut menjadi salah satu peserta terpilih setelah melewati proses seleksi ketat yang diikuti ratusan pendaftar dari berbagai daerah. Konferensi internasional yang digelar pada 6–12 Mei 2026 itu mempertemukan santri berprestasi, akademisi, praktisi pendidikan, serta tokoh muda Asia Tenggara untuk membahas masa depan pendidikan pesantren di era global.

Keikutsertaan Shalwaa menjadi bukti bahwa generasi muda pesantren tidak hanya mampu berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menyampaikan gagasan strategis di forum internasional.

Membawa Konsep Santri sebagai Duta Islam Moderat

Dalam forum tersebut, Shalwaa mempresentasikan karya bertajuk Transforming Global Education Through the Values of Pesantren Boarding Systems: Santri As Global Citizens and Ambassadors of Moderate Islam.

Melalui presentasi itu, ia menyoroti bagaimana sistem pendidikan pesantren dapat menjadi model pembentukan karakter generasi muda yang memiliki wawasan global sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, akhlak, dan tradisi keilmuan.

"Secara khusus, saya menyampaikan bagaimana pemuda dapat menjadi global citizens sekaligus representasi Islam moderat yang membawa nilai toleransi, keseimbangan, dan pesan perdamaian ke ruang internasional," ujar Shalwaa.

Menariknya, saat mengikuti konferensi tersebut, Shalwaa masih berusia 19 tahun. Meski demikian, ia mampu berdiri sejajar dengan peserta dari berbagai institusi pendidikan dan organisasi kepemudaan di kawasan Asia Tenggara.

Forum Penguatan Santri Hadapi Tantangan Global

International Conference Santri Mendunia 2026 tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga wadah kolaborasi lintas negara bagi generasi muda pesantren.

Selama enam hari penyelenggaraan, peserta mengikuti berbagai agenda mulai seminar internasional, presentasi karya ilmiah, literasi digital, diskusi kebijakan pendidikan keagamaan, studi banding ke kampus internasional, hingga kunjungan ke sejumlah pesantren di kawasan Asia Tenggara.

Founder Santri Mendunia, Moh. Abdul Aziz Nawawi, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D., menjelaskan bahwa konferensi tersebut sengaja melibatkan jaringan pesantren dan universitas internasional guna memperluas wawasan peserta sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi regional.

"Dalam penyelenggaraan International Conference Santri Mendunia 2026 ini, kami memang melibatkan universitas berskala internasional dan jaringan pesantren di kawasan Asia Tenggara agar dapat menjadi wadah berkelanjutan dan kolaborasi bagi para pemuda ke depannya," ujarnya.

Menurut Aziz, penguatan kapasitas santri saat ini tidak cukup hanya pada aspek keagamaan, tetapi juga harus mencakup literasi digital, kewirausahaan, serta kemampuan membangun dialog lintas budaya.

UNISMA Bangga Mahasiswanya Berkiprah di Forum Dunia

Prestasi yang diraih Shalwaa mendapat apresiasi dari Universitas Islam Malang. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni UNISMA, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd., menilai capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan pembinaan kemahasiswaan yang selama ini dijalankan kampus.

"Tentu kami turut bangga atas prestasi mahasiswa kami di ajang internasional. Hal ini menambah deretan mahasiswa-mahasiswa UNISMA dalam prestasi internasional," tegasnya.

Menurut Yunus, keberhasilan mahasiswa tampil dalam forum global tidak hanya menjadi kebanggaan individu, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap reputasi institusi pendidikan.

Ia menegaskan UNISMA berkomitmen mempertahankan budaya akademik yang kompetitif serta mendukung mahasiswa untuk terus berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

"Capaian ini menjadi bukti nyata dari konsistensi pembinaan kemahasiswaan yang berjalan dengan baik di lingkungan UNISMA. Kampus akan terus mendorong keberlanjutan atmosfer berprestasi ini agar dapat menular dan diikuti oleh mahasiswa lainnya," ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan, UNISMA juga telah menerapkan sistem penghargaan bagi mahasiswa berprestasi yang berjalan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Reputasi Global UNISMA Terus Menguat

Prestasi mahasiswa seperti yang diraih Shalwaa semakin memperkuat posisi UNISMA sebagai perguruan tinggi swasta unggulan di Indonesia. Kampus ini telah mengantongi Akreditasi Unggul dan masuk peringkat 173 Asia Tenggara versi QS Asia University Rankings.

Selain itu, UNISMA juga berhasil menembus jajaran 10 besar perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia versi SCImago Institutions Rankings berdasarkan capaian riset, inovasi, dan dampak sosial.

Keberhasilan Shalwaa tampil dalam forum internasional menjadi gambaran bahwa pesantren dan perguruan tinggi Islam memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda Indonesia yang mampu berkompetisi di panggung global, sekaligus menjadi duta nilai-nilai Islam moderat dan perdamaian dunia.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Imadudin Muhammad
|
Editor:Imadudin Muhammad