Konflik Iran-AS dan Israel Berpotensi Picu Kenaikan Harga Minyak, Akademisi UB: Bebani APBN Indonesia
Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia hingga membebani APBN Indonesia dan memperlebar defisit anggaran.
MALANG – Ketegangan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Hal ini tidak terlepas dari posisi Iran sebagai salah satu produsen minyak dan pemilik cadangan energi besar di dunia.
Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya, Prof. Setyo Tri Wahyudi, SE., M.Ec., Ph.D., menyebut Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph).
“Iran memiliki hampir seperempat cadangan minyak di Timur Tengah dan menyumbang sekitar 12 persen cadangan minyak global,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (3/3/2026).
Menurutnya, salah satu sektor yang paling terdampak dari konflik ini adalah harga minyak dunia. Minyak merupakan salah satu asumsi dasar makroekonomi dalam perhitungan APBN Indonesia. Jika pasokan minyak dari Iran terhambat, harga minyak global berpotensi naik dan berdampak pada Indonesia sebagai negara importir minyak.
Kenaikan harga tersebut, lanjutnya, akan menambah beban anggaran untuk subsidi energi. Dampaknya juga dapat merembet ke berbagai sektor, terutama yang bergantung pada energi berbasis minyak seperti listrik dan transportasi umum. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
“Dampak kenaikan harga minyak ini akan merembet ke berbagai sektor, terutama yang bersinggungan dengan penggunaan minyak seperti listrik dan transportasi umum, hingga mengerek inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, situasi semakin kompleks dengan kebijakan Iran yang menutup Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia. Jika kapal-kapal pengangkut minyak tetap beroperasi, mereka harus menempuh jalur lebih jauh melalui perairan Oman dan India, yang berdampak pada waktu tempuh dan biaya distribusi.
Prof. Setyo menjelaskan, kebutuhan konsumsi minyak nasional Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Artinya, sekitar 1 juta barel per hari harus dipenuhi melalui impor.
“Bayangkan jika kebutuhan impor minyak kita mencapai 1 juta barel per hari dan tiba-tiba terhenti atau harganya melonjak tinggi, maka beban APBN kita semakin berat,” ujarnya.
Ia memprediksi pada Maret dan bulan-bulan berikutnya, lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit APBN. Per 27 Februari 2026, harga minyak dunia tercatat sebesar 67,02 dolar AS per barel (USD/bbl), naik 2,78 persen dibanding hari sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi sebelum adanya serangan Amerika Serikat ke Iran.
Selain itu, berdasarkan kabar terbaru, Iran disebut telah mengebom kilang minyak di Arab Saudi. Jika situasi terus memanas, harga minyak dunia diperkirakan dapat menembus di atas 100 USD/bbl dalam beberapa hari ke depan.
Atas kondisi tersebut, Prof. Setyo mengimbau pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi domestik. Menurutnya, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi ketahanan ekonomi nasional secara mandiri.
Ia menyarankan pemerintah mengoptimalkan produksi minyak dan gas (migas) domestik, meskipun upaya tersebut memerlukan strategi serta waktu yang panjang. Selain itu, pemerintah perlu melakukan diversifikasi sumber impor minyak. Indonesia, meskipun tidak secara langsung mengimpor minyak dari Iran, tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi atau Nigeria. Alternatif impor dapat dipertimbangkan dari negara yang relatif jauh dari dampak konflik Iran-AS, seperti Rusia, Tiongkok, dan Kanada.
Terakhir, Prof. Setyo menekankan pentingnya kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“Misalnya kendaraan domestik kita harus produksi sendiri, tidak banyak menggunakan merek asing, supaya dapat berdiri di kaki sendiri,” tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



