Demi Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Gereja Katedral Ijen Malang Siagakan Petugas dan Sesuaikan Jadwal Ibadah
Gereja Katedral Ijen Kota Malang menunjukkan dukungan nyata terhadap Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama dengan menyiagakan petugas, membuka fasilitas, hingga menyesuaikan jadwal ibadah sebagai bentuk toleransi dan solidaritas lintas iman.
MALANG – Semangat toleransi dan kebersamaan lintas iman kembali tercermin di Kota Malang. Gereja Katedral Ijen menyiapkan petugas khusus untuk berjaga dan melayani jemaah Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Stadion Gajayana pada 7–8 Februari 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari partisipasi aktif gereja dalam mendukung kelancaran kegiatan keagamaan berskala nasional yang dihadiri puluhan ribu warga NU dari berbagai daerah.
Uskup Malang, Henricus Pidyarto, menyampaikan bahwa persiapan teknis di lingkungan Gereja Katedral dikoordinasikan langsung oleh pastor katedral. Meski demikian, ia memastikan seluruh fasilitas dasar telah disiapkan secara maksimal untuk membantu para jemaah.
“Pastor katedral yang menyiapkan, tetapi saya kira semua sudah disiapkan. Mulai dari minuman, snack, fasilitas kamar kecil, area lapangan kecil, hingga videotron,” ujar Henricus, Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, fasilitas yang diberikan merupakan bentuk kontribusi gereja sesuai kemampuan yang dimiliki, sekaligus wujud kegembiraan atas peringatan satu abad berdirinya NU.
“Kami hanya bisa memberikan apa yang kami punya. Ini bentuk partisipasi dan toleransi kami kepada warga NU. Kami ikut bergembira dan berharap semua berjalan lancar tanpa hambatan,” ungkapnya.
Selain membuka fasilitas, pihak gereja juga menyiagakan petugas khusus untuk membantu jemaah jika membutuhkan bantuan selama kegiatan berlangsung.
“Petugas tentunya akan standby untuk membantu apa pun yang diperlukan jemaah,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan penuh, Gereja Katedral Ijen juga menyesuaikan jadwal ibadah. Beberapa agenda ibadah terpaksa ditiadakan agar fasilitas gereja dapat dimanfaatkan untuk mendukung Mujahadah Kubro.
Henricus menjelaskan, ibadah Sabtu sore serta dua ibadah Minggu pagi ditiadakan. Ibadah hanya dilaksanakan pada Minggu sore, yakni pukul 16.30 WIB dan 18.30 WIB.
“Kami menyesuaikan jadwal ibadah agar gereja bisa dimanfaatkan untuk membantu kegiatan besar ini. Memang ada risiko kapasitas ibadah menjadi terbatas, tetapi kami menerimanya dengan senang hati,” tuturnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



