Usai Sekolah, Menu MBG Ramadan di Kota Malang Kini Dikeluhkan Orang Tua
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 di Kota Malang kembali menuai keluhan.
Malang – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 di Kota Malang kembali menuai keluhan. Keluhan tersebut kini ditunjukkan oleh orang tua siswa. Menu kering yang dibagikan sebagai pengganti makanan biasa dinilai belum memenuhi harapan dari sisi kelayakan maupun kandungan gizi.
Salah satu orang tua siswa SD Negeri Purwantoro I, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengungkapkan kekecewaannya setelah anaknya menerima paket MBG pada Rabu (25/2/2026). Menu yang dibagikan terdiri atas dua potong jagung rebus, dua butir kurma, satu telur rebus, dan keripik tempe.
Menurutnya, porsi jagung yang diberikan berukuran kecil dan tidak sebanding dengan kebutuhan asupan karbohidrat anak. Ia juga menilai tambahan keripik tempe dan kurma dalam jumlah terbatas belum cukup menunjang kebutuhan gizi.
“Katanya satu porsi dihitung sampai Rp15 ribu, tetapi yang diterima seperti ini,” ujar orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya, Rabu (25/2/2026).
Sehari sebelumnya, Selasa (24/2/2026), siswa menerima menu berupa sepotong pizza, tiga butir telur puyuh, dan satu buah pisang. Orang tua tersebut menilai nilai ekonomis menu yang diberikan tidak sesuai dengan informasi anggaran per porsi yang beredar.
Selama Ramadan, siswa diminta membawa wadah makanan dari rumah untuk tempat pembagian MBG. Namun, menu kering yang dibagikan disebut kurang diminati anak-anak.
“Ya sangat tidak layak. Ini keripiknya juga murah,” ucapnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menyatakan bahwa menu yang diberikan telah mengandung unsur protein dan karbohidrat. Berdasarkan informasi dari Koordinator Wilayah SPPG Kota Malang, selama Ramadan menu disesuaikan menjadi makanan kering agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
“Menu tersebut, sudah ada protein dan karbohidratnya,” kata Slamet.
Meski demikian, pihaknya memastikan akan menelusuri informasi terkait menu MBG yang dikeluhkan tersebut dan menyampaikan hasilnya kemudian.
“Setelah Hari Raya Idulfitri, menu akan kembali seperti biasa,” tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, keluhan itu juga disampaikan Kepala SMP Muhammadiyah 2 Malang, Supriyanto. Pada hari pertama pelaksanaan Ramadan, siswa di sekolahnya menerima menu berupa roti abon, jeruk, dan tempe kering.
Ia menilai perlu ada peningkatan kualitas, terutama dalam keseimbangan kandungan protein. Menurutnya, tambahan susu dan buah segar dapat menjadi opsi untuk menunjang nilai gizi.
Pihak sekolah mengaku belum melakukan koordinasi lebih lanjut dengan SPPG karena program baru berjalan beberapa hari. Namun, sekolah berharap meski dalam bentuk menu kering, standar gizi tetap menjadi prioritas selama Ramadan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




