Keterbatasan Bukan Penghalang, SLB B-C Kepanjen Malang Juga Bagi-bagi Bingkisan Berbuka Puasa
Sama seperti umat muslim lainnya, penyandang disabilitas juga ingin mengejar keberkahan bulan Ramadan, dan Jumat (27/2/2026) sore tadi, sekitar sepuluh anak disabilitas, siswa Sekolah Luar Biasa B-C (SLB) Kepanjen.
MALANG – Suasana ketika siswa-siswi SLB Kepanjen membagikan bingkisan untuk berbuka puasa kepada masyarakat yang lewat di jalanan. (FOTO: SLB Kepanjen for TIMES Indonesia)
Sama seperti umat muslim lainnya, penyandang disabilitas juga ingin mengejar keberkahan bulan Ramadan, dan Jumat (27/2/2026) sore tadi, sekitar sepuluh anak disabilitas, siswa Sekolah Luar Biasa B-C (SLB) Kepanjen, membagikan takjil dan nasi kotak buka puasa bagi ratusan pengguna jalan yang melintas di jalur utama Malang-Kepanjen, tepatnya di Jalan Achmad Yani Kepanjen, Kabupaten Malang.
Meskipun sore tadi rintik hujan mewarnai wilayah Kepanjen, namun anak-anak SLB ini tak surut niatnya, mereka tetap berjajaar rapi dengan pendampingan para guru dan mitra kerja SLB Kepanjen, yakni Kantor Urusan Agama (KUA) Kepanjen.
Para siswa SLB itu dengan sabar menunggu kendaraan bermotor yang melaju, setelah dekat mereka mengayun-ayunkan tangannya dan menyerahkan bingkisan buka puasa. Sesekali guru membantu menyiapkan bingkisan berikutnya yang akan mereka bagikan.
Kegiatan itu dikemas dalam acara "Disabilitas Peduli". Itu adalah program SLB B-C Kepanjen dalam mengisi selama bulan ramadan agar lebih bermakna dengan berbagi rizki kepada sesama. Murid yang terlibat terdiri dari tuna graita dan tuna rungu. Sesekali juga terlihat para guru dan beberapa siswa terlibat perbincangan dengan menggunakan bahasa isyarat.
"Pemilihan peserta dilakukan berdasarkan kesiapan anak, kemampuan interaksi sosial, serta rekomendasi dari guru atau pendamping agar kegiatan berjalan aman dan nyaman. Kami menyesuaikan peserta di setiap tahap agar semua anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama, sekaligus memastikan kegiatan tetap kondusif dan menyenangkan bagi mereka," kata ketua panitia Disabilitas Peduli, Hamzah Aribath S.S
Hamzah mengatakan, bahwa melalui kegiatan berbagi takjil ini, ingin menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas juga mampu berkontribusi dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat. "Ini menjadi pengalaman penting untuk melatih kemandirian dan interaksi sosial mereka, sekaligus menjadi sarana ibadah di bulan suci Ramadan ini. Bagi sebagian anak berbagi takjil ini adalah pengalaman pertama dan sebagian yang lain adalah pengalaman kesekian kalinya,' tambahnya.
Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berbagi
Kepala sekolah SLB B-C Kepanjen, Yulia Esti Mulyani, S.IP, S.Pd mengatakan, kegiatan berbagi oleh murid disabilitas ini bukan sekadar aksi sosial biasa. Ini adalah pernyataan sikap bahwa keterbatasan fisik atau sensorik tidak menghalangi seseorang untuk menjadi agen kebaikan. Aksi ini sekaligus mendobrak label disabilitas identik dengan ketidakberdayaan.

"Kami ingin mengubah stigma “Penerima menjadi Pemberi”. Karena selama ini masyarakat sering kali memandang penyandang disabilitas hanya sebagai objek bantuan (penerima manfaat). Dengan berbagi takjil dan nasi untuk buka puasa ini, adalah bukti bahwa mereka memiliki kapasitas, empati, dan kemauan untuk menjadi subjek yang memberi manfaat bagi orang lain," Yulia Esti
Selain itu, kegiatan ini adalah sarana inklusi sosial. Artinya melalui kegiatan ini dua pihak dipertemukan yaitu penyandang disabilitas dengan masyarakat umum di ruang publik. Interaksi seperti ini, menurut Yulia Esti, dianggap bisa mencairkan kecanggungan antara masyarakat non-disabilitas dan disabilitas. Jika inklusi sosial sering dilakukan maka bisa membangun kesadaran, bahwa disabilitas adalah bagian integral dari keberagaman masyarakat. "Dengan begitu, diharapkan pemerintah menyediakan layanan yang lebih baik kepada rakyatnya dalam hal ini penyandang disabilitas," tambahnya.
Yulia Esti juga menyatakan, penyandang disabilitas sama dengan umat muslim lainnya, yang ingin mengejar keberkahan bulan Ramadan. Aksi ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan menunjukkan solidaritas antar sesama manusia tanpa memandang latar belakang fisik. Terlibat dalam aksi kemanusiaan seperti ini memberikan rasa kebermaknaan hidup bagi rekan-rekan disabilitas. Mengetahui bahwa tindakan mereka dihargai dan berguna bagi orang yang berpuasa dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kesehatan mental mereka.
"Intinya, kegiatan ini adalah bentuk perjuangan martabat untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menebar kebahagiaan," katanya lagi . Mereka akan melakukan kegiatan ini, tiga kali selama Ramadhan yaitu hari ini, kedua pada hari Jumat (6/3/2026) dan ketiga juga pada hari Jumat (13/3/2026).
Kemenag Terkesan
SLB B-C Kepanjen juga berkolaborasi dengan Kementrian Agama Kabupaten Malang dalam hal ini KUA Kepanjen dan Penyuluh Agama Islam Kepanjen. "Kolaborasi ini menghadirkan kesan hangat, menyentuh, dan penuh makna, dengan semangat inklusi yang nyata serta kepedulian yang terasa dalam setiap interaksi,” kata salah satu staf Kemenag Kabupaten Malang, Muhammad Rizal Agus Setiawan ,SH . Dia bersama empat staf Kemenag terlibat dalam aksi ini.
"Harapan kami, sinergi antara Sekolah Luar Biasa B-C (SLB) Kepanjen melalui program Disabilitas peduli seperti bulan Ramadan tahun ini terus berlanjut dengan program yang lebih kreatif dan berdampak, sehingga semakin menguatkan kepercayaan diri, kemandirian, dan nilai spiritual siswa, serta menjadi inspirasi bagi terwujudnya masyarakat yang lebih peduli dan inklusif," katanya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




