Paru-Paru Kota Malang Menyusut, Ketika Taman Hilang, Beton Mengambil Alih
Ruang terbuka hijau di Kota Malang semakin tergerus pembangunan. TIMES Indonesia menelusuri bagaimana taman, sawah, hingga sempadan sungai perlahan hilang dari peta kota.
MALANG – Bayangkan sebuah kota yang dulu sejuk dengan taman, pepohonan, dan hamparan sawah. Kini perlahan berubah menjadi deretan beton, parkiran luas, dan bangunan komersial. Itulah wajah yang mulai terlihat di Malang hari ini.
Di atas kertas, aturan sudah jelas. Melalui Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 6 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2022–2042, pemerintah menetapkan bahwa 30 persen wilayah kota harus menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Angka itu terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat.
Namun realitas di lapangan berkata lain.
Taman-taman kota semakin mengecil. Garis sempadan sungai yang seharusnya steril hingga 15 meter dari bangunan mulai dipenuhi konstruksi. Sawah yang tersisa terus menyempit. Bahkan ruang hijau di dalam kompleks perumahan sering menjadi area pertama yang dikorbankan—diganti bangunan tambahan, balai warga, hingga fasilitas lain.
Pengamat tata ruang dari Institut Teknologi Nasional Malang, Ibnu Sasangko, menyebut ruang hijau privat di Kota Malang nyaris tidak berkembang.
“Tempat komersial seperti ruko, mal, atau hotel hampir tidak punya RTH sama sekali. Sekolah dan rumah sakit pun sekarang lebih banyak lahan terbangun untuk parkir. Mencapai angka 10 persen RTH privat saja sudah setengah mati,” ujarnya kepada TIMES Indonesia.
Lemahnya pengawasan tata ruang, data lahan yang tidak mutakhir, hingga minimnya insentif bagi pemilik lahan membuat ruang hijau kalah cepat dibandingkan pembangunan properti.
Jika situasi ini terus dibiarkan, Kota Malang berisiko kehilangan paru-parunya sendiri—perlahan, tanpa banyak disadari.
Dalam edisi khusus ini, TIMES Indonesia menelusuri bagaimana ruang terbuka hijau di Malang terus menyusut. Dari alih fungsi lahan yang tak terkendali, sempadan sungai yang tergerus bangunan, hingga upaya warga yang masih berjuang mempertahankan ruang hijau di tengah tekanan pembangunan.
Liputan lengkapnya dapat Anda baca dalam edisi khusus TIMES Indonesia di Teras.id. Sebuah laporan mendalam tentang masa depan ruang hijau dan arah pembangunan Kota Malang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



