Gus Dur, GKJW Malang, dan Jejak Persaudaraan Lintas Iman Saat 1 Abad NU
TIMES Malang/Ketua Majelis Agung GKJW, Pendeta Natanael Hermawan memperlihatkan foto Gus Dur saat berada di GKJW Malang. (Foto: Rizky/TIMES Indonesia)

Gus Dur, GKJW Malang, dan Jejak Persaudaraan Lintas Iman Saat 1 Abad NU

Momentum 1 Abad NU di Malang menghidupkan kembali sejarah Gus Dur di GKJW sebagai simbol persaudaraan lintas iman.

TIMES Malang,Minggu 8 Februari 2026, 05:38 WIB
64.9K
R
Rizky Kurniawan Pratama

MALANGDi tengah arus ribuan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) yang memadati Kota Malang untuk Mujahadah Kubro peringatan 1 Abad NU, Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wilayah Jawa Timur menjadi salah satu titik persinggahan penting.

Sekitar 1.200 jamaah dari PCNU Kota Surabaya transit di gereja yang ada di Jalan Shodanco Supriadi, Kecamatan Sukun tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju Stadion Gajayana, Sabtu malam hingga Minggu (8/2/2026).

Namun, bukan hanya soal logistik yang membuat kantor GKJW menarik perhatian. Gedung ini juga menyimpan rekam jejak kuat hubungan lintas iman, termasuk kisah pengabdian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden RI ke-5.

Di salah satu ruangan yang dahulu digunakan Gus Dur untuk beristirahat, tampak bendera Merah Putih dan NU terpajang berdampingan. Sejumlah foto lama turut menghiasi dinding, merekam masa ketika tokoh pluralisme itu aktif mengajar di lingkungan GKJW.

Ketua Majelis Agung GKJW, Pendeta Natanael Hermawan, menyebut relasi antara GKJW, umat Kristen, dan NU telah terbangun sejak lama dan berakar kuat di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jombang.

“NU berdiri pada 1926 dari Tebuireng, Jombang, sementara GKJW lahir pada 1931 dari Mojowarno, Jombang. Sama-sama dari Jombang dan waktunya berdekatan,” ujarnya, Minggu dini hari.

Ia menjelaskan, Gus Dur tercatat mengajar di Kantor Majelis Agung GKJW Wilayah Jawa Timur pada periode 1974 hingga 1981. Selama tujuh tahun, Gus Dur memberikan materi Teologi Islam atau Islamologi kepada para pendeta.

Menurut Natanael, metode Gus Dur mencerminkan keterbukaan yang jarang ditemui pada masanya. Ia menilai pembelajaran lintas agama justru harus disampaikan oleh pemeluknya langsung.

“Beliau berprinsip, jika ingin memahami Islam maka belajarlah dari seorang Muslim, dan jika ingin memahami Kristen, belajarlah dari orang Kristen. Itu yang beliau praktikkan di sini,” tuturnya.

Keberadaan Gus Dur, lanjut Natanael, bukan hanya menjadi bagian dari sejarah internal GKJW, melainkan simbol kepercayaan dan dialog antarumat beragama. Hingga kini, ruangan tempat ia mengajar maupun beristirahat tetap dijaga sebagai bagian dari memori kolektif lembaga.

“Ada ruangan khusus dengan meja dan kursi yang masih kami rawat. Kelas tempat beliau mengajar juga tetap kami pertahankan karena sangat berarti bagi kami,” katanya.

Bahkan setelah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Gus Dur sempat kembali berkunjung ke kantor tersebut untuk mengenang masa pengabdiannya.

Momentum transit jamaah NU di GKJW dalam peringatan 1 Abad NU ini, menurut Natanael, menjadi pengingat bahwa persaudaraan lintas iman bukan sekadar jargon, melainkan telah dirawat sejak puluhan tahun lalu.

“Ini napak tilas sejarah persaudaraan yang sudah terjalin lama. Harapan kami, GKJW, umat Kristen, dan Nahdlatul Ulama terus menjaga relasi ini sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan, khususnya di Jawa Timur dan Kota Malang,” pungkasnya.

Kisah Gus Dur di GKJW Malang pun kembali mengemuka, mempertegas bahwa dialog dan keterbukaan antariman telah menjadi fondasi yang diwariskan jauh sebelum istilah toleransi ramai diperbincangkan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rizky Kurniawan Pratama
|
Editor:Tim Redaksi