62 Anak Terpisah dalam Dua Hari, DPRD Soroti Keamanan Alun-alun Merdeka
TIMES Malang/Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi. (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

62 Anak Terpisah dalam Dua Hari, DPRD Soroti Keamanan Alun-alun Merdeka

DPRD Kota Malang meminta Pemerintah Kota Malang segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Alun-alun Merdeka Kota Malang pascarevitalisasi.

TIMES Malang,Senin 2 Februari 2026, 16:35 WIB
110.8K
R
Rizky Kurniawan Pratama

MALANGDewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang (DPRD Kota Malang) meminta Pemerintah Kota Malang segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Alun-alun Merdeka Kota Malang pascarevitalisasi. Desakan ini menyusul maraknya laporan anak terpisah dari orang tua saat bermain, dengan jumlah mencapai 62 anak dalam dua hari sejak alun-alun dibuka kembali.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, menilai tingginya angka anak terpisah menjadi alarm serius bagi pengelola kawasan. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu antusiasme masyarakat yang sangat tinggi sehingga membuat alun-alun dipadati pengunjung.

“Bukan overcapacity, tapi over kehadiran. Antusias masyarakat luar biasa karena ini ruang publik baru. Suasananya jadi sangat crowded,” ujar Dito, Senin (2/2/2026).

Meski demikian, ia menegaskan peristiwa tersebut bukan kategori anak hilang, melainkan terpisah dari pengawasan orang tua. Kondisi serupa, kata dia, dapat terjadi di berbagai ruang publik lain, termasuk pusat perbelanjaan. Namun, kejadian di Alun-alun Merdeka harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemkot Malang.

“Kejadian kemarin harus menjadi evaluasi, khususnya bagi pengelola Alun-alun Merdeka. Sarana prasarana pendukung seperti CCTV, pengeras suara, dan pusat informasi itu sangat penting,” ungkapnya.

DPRD Kota Malang mendorong agar Pemkot tidak hanya berfokus pada aspek estetika revitalisasi, seperti taman bermain dan air mancur, tetapi juga memastikan kesiapan fasilitas pendukung keselamatan pengunjung, terutama anak-anak. Dito menilai sistem peringatan melalui pengeras suara perlu dioptimalkan untuk mengingatkan orang tua agar tetap waspada di tengah kepadatan.

“Announcer atau pengeras suara harus aktif mengingatkan pengunjung agar tidak terlepas dari anak-anaknya. Karena dalam kondisi ramai, hal seperti ini sangat mungkin terjadi,” jelasnya.

Menanggapi anggapan Alun-alun Merdeka dibuka terlalu cepat tanpa persiapan matang, Dito menilai lonjakan pengunjung memang sulit diprediksi, terlebih pembukaan bertepatan dengan akhir pekan sehingga jumlah pengunjung membludak.

“Mungkin tidak terprediksi oleh Pemkot. Tapi itu wajar untuk awal. Yang terpenting, ini harus jadi pembelajaran dan evaluasi agar fasilitas pendukung segera dilengkapi,” katanya.

Komisi C DPRD Kota Malang menekankan evaluasi perlu segera direalisasikan, mengingat Alun-alun Merdeka berada di kawasan strategis dekat Kayutangan Heritage yang dipastikan akan terus ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan.

“Evaluasi harus cepat dilakukan. Petugas lapangan perlu ditambah, CCTV dipasang, pengeras suara dimaksimalkan. Termasuk penataan parkir dan PKL, karena itu satu kesatuan dalam pelayanan publik,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang menerima laporan anak terpisah dari orang tua selama dua hari, yakni 36 laporan pada Minggu (1/2/2026) dan 26 laporan pada Senin (2/2/2026). Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, memastikan seluruh anak yang dilaporkan tersebut berhasil ditemukan dalam kondisi aman dan telah kembali kepada orang tua masing-masing. Mayoritas kasus terjadi saat anak bermain di area playground dan luput dari pengawasan orang tua.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rizky Kurniawan Pratama
|
Editor:Tim Redaksi