Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Ujian Tata Kota Malang Menjaga Khidmat Jemaah
Mujahadah Kubro 1 Abad NU Jawa Timur di Kota Malang menguji kesiapan tata kota, dari rekayasa lalu lintas hingga manajemen pergerakan ratusan ribu jemaah.
MALANG – Pada akhir pekan 7–8 Februari 2026, Kota Malang tak sekadar menjadi tuan rumah sebuah acara keagamaan. Ia menjelma menjadi ruang kolektif bagi doa, dzikir, dan ingatan sejarah Nahdlatul Ulama yang telah menapaki satu abad perjalanan. Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad NU Jawa Timur akan menghadirkan ratusan ribu jemaah ke Stadion Gajayana—dan di titik inilah kota diuji: mampukah ia menata diri tanpa kehilangan denyutnya?
Jawaban itu disiapkan jauh hari, di ruang-ruang rapat lintas sektor, dalam peta-peta lalu lintas yang tak hanya memuat ruas jalan, tetapi juga kesabaran, kedisiplinan, dan kesadaran bersama.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang menjadi salah satu garda depan dalam persiapan tersebut. Bukan sekadar mengatur kendaraan, Dishub memikul tanggung jawab memastikan bahwa perjalanan spiritual ratusan ribu jemaah tidak tersendat oleh kemacetan, kebingungan arah, atau ketidakpastian.
“Kami menyusun skema ini secara matang dan final. Alur kedatangan, drop zone, transit, hingga parkir kami pastikan tertata dari awal sampai kepulangan,” kata Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, Selasa (3/2/2026).
Alur yang Disiapkan, Kekacauan yang Dicegah
Alih-alih membiarkan kendaraan rombongan menumpuk di sekitar Stadion Gajayana, Dishub memilih pendekatan terdistribusi. Pada Sabtu (7/2/2026), setiap rombongan jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur diarahkan sesuai zona. Bus dan minibus tidak langsung menuju stadion, melainkan berhenti di drop zone yang telah ditentukan.
Dari titik-titik itu, jemaah berjalan kaki menuju lokasi transit, lalu bergeser secara teratur ke area stadion. Kendaraan besar bergerak terpisah menuju 31 titik parkir resmi yang tersebar di berbagai sudut kota—mulai dari lapangan, kawasan kampus, gedung pemerintahan, hingga ruas jalan yang disiapkan sebagai parkir terkontrol.
Pengaturan serupa berlaku saat kepulangan pada Minggu (8/2/2026). Seusai acara, jemaah kembali berjalan kaki ke titik transit, menunggu giliran sesuai zona, lalu dijemput kendaraan di drop zone kepulangan. Semua diatur bergelombang, agar kota tidak lumpuh dalam satu waktu.
“Ini bukan hanya soal teknis lalu lintas. Ini soal ketertiban bersama,” ujar Widjaja.
Kota yang Dibagi ke Dalam Zona
Dishub membagi jemaah ke dalam sembilan zona besar, dari wilayah Tapal Kuda, Madura, Pantura, hingga Malang Raya sendiri. Setiap zona memiliki kombinasi drop zone, titik transit, dan lokasi parkir yang berbeda—sebuah orkestrasi pergerakan manusia dalam skala masif.
Lapangan Rampal, Ki Angmor, kawasan Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, hingga UIN Malang disiapkan sebagai kantong parkir utama. Stadion Gajayana sendiri menyediakan parkir bertingkat khusus sepeda motor dengan kapasitas sekitar 700 unit, lengkap dengan kantong parkir cadangan untuk kondisi darurat.
Semua itu dirancang untuk satu tujuan: jemaah tiba dengan tenang dan pulang dengan selamat.
Ketika Car Free Day Harus Mengalah
Konsekuensi dari skala acara ini tak terelakkan. Dishub Kota Malang meniadakan Car Free Day (CFD) selama dua hari pelaksanaan Mujahadah Kubro. Jalan Besar Ijen—ikon ruang publik Kota Malang—ditutup total dan disterilkan dari kendaraan mulai Sabtu, 7 Februari 2026 pukul 12.00 WIB hingga Minggu, 8 Februari 2026 pukul 20.00 WIB.
“CFD kita tiadakan karena kawasan Jalan Besar Ijen ditutup total dan difungsikan sebagai jalur pejalan kaki jemaah,” jelas Widjaja.
Tak hanya Ijen, total 12 ruas jalan di kawasan sekitarnya ikut ditutup penuh. Personel gabungan Dishub dan kepolisian disiagakan di titik-titik krusial seperti Simpang Empat Ijen, Simpang Tiga Wilis, hingga Simpang Balapan. Gereja Katedral Ijen ditetapkan sebagai salah satu titik transit—menandai bagaimana ruang-ruang kota lintas iman turut menjadi bagian dari peristiwa keagamaan ini.
Ujian Bagi Kota, Cermin bagi Warga
Mujahadah Kubro 1 Abad NU bukan hanya perayaan usia organisasi keagamaan. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah kota mengelola keramaian tanpa kehilangan rasa aman, bagaimana negara hadir melalui pengaturan yang rapi, dan bagaimana warga diajak untuk berpartisipasi dengan disiplin.
Ketika jalan ditutup, CFD ditiadakan, dan langkah kaki menggantikan deru mesin, Kota Malang seolah diingatkan: ada saatnya ruang publik sepenuhnya diabdikan untuk hajat yang lebih besar.
Di akhir pekan itu, Malang bukan sekadar kota tujuan. Ia menjadi jalur doa, tempat jutaan langkah kecil bertemu dalam satu niat besar. Dan di balik semua itu, ada peta, skema, dan kerja sunyi yang memastikan semuanya berjalan tertib—agar khidmat tak terganggu, dan kota tetap bernapas.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




